Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

BI Diproyeksi Pangkas Suku Bunga Lagi, Sektor Sensitif Jadi Incaran Pasar

Insi Nantika Jelita
17/11/2025 11:20
BI Diproyeksi Pangkas Suku Bunga Lagi, Sektor Sensitif Jadi Incaran Pasar
Ilustrasi(Antara)

Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali memangkas suku bunga acuan atau BI Rate pada bulan ini. PT Indo Premier Sekuritas memproyeksikan para pelaku pasar akan memburu sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti perbankan, infrastruktur, dan properti. Dua sektor terakhir bahkan menjadi penopang utama penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan lalu, masing-masing naik (+6,92%) dan (+5,35%).

“Lonjakan tersebut mencerminkan keyakinan investor bahwa Bank Indonesia berpeluang kembali memangkas suku bunga acuan pada 19 November mendatang,” ujar Retail Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Indri Liftiany Travelin Yunus dalam keterangan resmi, Senin (17/11).

Pada pekan lalu, IHSG sempat menyentuh all time high (ATH) atau rekor tertinggi di level 8.478 sebelum melemah dan ditutup di level 8.370. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp332 miliar, sementara enam sektor berhasil menguat dan sektor lainnya melemah terbatas, dengan infrastruktur dan properti sebagai penopang utama.

Indri menjelaskan sejumlah sentimen turut memengaruhi pergerakan IHSG sepanjang 10-14 November 2025. Di antaranya adalah pelemahan Wall Street akibat koreksi pada saham teknologi dan AI yang dinilai memiliki valuasi terlalu tinggi. Selain itu, berakhirnya government shutdown di Amerika Serikat kembali membuka aktivitas pemerintahan dan aliran data ekonomi, sementara pernyataan bernada hawkish dari The Fed ikut menahan ekspektasi pemangkasan suku bunga global.

Memasuki pekan perdagangan 17-21 November 2025, Indri menilai pelaku pasar berpotensi melakukan spekulasi dengan kembali menargetkan sektor-sektor sensitif suku bunga seperti perbankan, infrastruktur, dan properti.

Selain itu, pelaku pasar juga kemungkinan memanfaatkan sentimen aksi korporasi dari sejumlah emiten untuk menangkap momentum kenaikan harga.

"Karena itu, kami menilai IHSG berpeluang bergerak variatif dengan kecenderungan menguat dalam kisaran support 8.325 hingga resistance 8.500,” kata Indri.

Menurutnya, penguatan ini tertopang sejumlah sentimen data yang akan rilis pada minggu ini, yakni FOMC Minutes The Fed (19/11), S&P Global Composite PMI Flash Amerika Serikat pada bulan November (21/11) yang diperkirakan akan turun tipis ke level 53,8 dari sebelumnya di level 54,6. Lalu, serangkaian data pengangguran Amerika Serikat akan dirilis bersamaan pada (20/11) dan tentu saja pengumuman suku bunga Bank Indonesia pada (19/11) yang diproyeksikan dipangkas sebesar 25 bps. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya