Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kemenperin Dorong 4,43 Juta Industri Kecil Menengah Menggunakan Teknologi AI

Dede Susianti
15/11/2025 18:39
Kemenperin Dorong 4,43 Juta Industri Kecil Menengah Menggunakan Teknologi AI
Ilustrasi(MI/DEDE SUSIANTI)

KEMENTERIAN Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), mendorong para pelaku industri kecil menengah (IKM) yang saat ini jumlahnya ada 4,43 juta untuk memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI).

Doromgan itu diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Dirjen IKMA Kemenperin dengan MediaWave X (MWX) untuk implementasi penggunaan AI di IKM.

Penandatangan MoU yang disaksikan sebanyak para pelaku IKM itu, dilakukan di Hotel Ibis Styles Bogor Pajajaran, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat ( 14/11).

Kolaborasi ini ditujukan untuk mempercepat transformasi digital dan meningkatkan produktivitas sektor IKM.

Penandatanganan kerja sama ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang digelar Ditjen IKMA, berupa Workshop Pemanfaatan AI untuk IKM yang digelar selama dua hari pada 13 - 14 November 2025.

Workshop yang diikuti oleh 65 IKM ini mengangkat topik Awareness Transformasi IKM dan Adopsi INDI 4.0 untuk IKM dan sosialisasi pedoman penerapan keamanan siber di sektor industri yang bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara. 

Selain itu, MWX juga melatih IKM untuk memanfaatkan AI dalam proses produksi, marketing, hingga penjualan.

"Jadi ini bagi kami, Kemenperin, sebagai rangkaian untuk implememtasi 4.0. Dulunya IKM kami sudah mengenal dengan eSmart IKM, terus juga literasi digital, kemudian juga penerapan teknologi 4.0 di lini produksi," ungkap Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita saat konferensi pers usai penandatanganan.

Sekarang ini lanjutnya, merupakan bagian ujung, dimana dengan teknologi AI bisa membantu semu pihak dan di IKM hanya fokus di produksi.

"Jadi ini ujungnya sekali. Sekarang teman- teman kenal dengan macam-macam, AI sudah dimana-mana. Jadi siap gak siap, IKM juga harus diperkenalkan dengan pemanfaatan AI," jelasnya. 

"efisiensi produksinya, peningkayan produktifitas, ujungnya memang peningkatan kpntribusi IKM dalam pertumbuhan induatri manufaktur".

Dalam kesempatan yang sama, CEO MWX Yose Rizal menjelaskan jalinan kerja sama itu, bentuknya melalui fasilitasi penyediaan teknologi AI bagi para penggiat IKM. 

"Kami menyediakan solusi AI yang siap pakai. Selama ini problem IKM ini, selain pada teknologi masih begitu mahal dan tidak terintegrasi," terangnya.

"Jadi semua data terintegrasi dari mulai riset market, marketing, branding, sales, pembukuan, invetori, manajemen pelanggan dan keamanan secara tepat,"imbuhnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, dalam kerjasama itu pihaknya memberikan kredit agar para pelaku IKM bisa mencoba secara gratis terlebih dahulu layanannya. Tujuannya agar mereka bisa terbiasa, langsung menerima manfaatnya, mereka bisa merasakan efisiensi, meningkatkan produktifitasnya. 

"Kemudian kami juga memberikan pelatihan dan pendampingan. Tujuannya, kita ingin IKM di Indonesia memiliki daya saing yang lebih tinggi sehingga, mereka bisa memberikan nilai tambah yang lebih besar dan pada akhirnya memberikan kesempatan/lapangan pekerjaan karena usahanya bisa berkembang,"ungkapnya.

Peran, kontribusi IKM 

Sebelumnya dalam sambutannya, Dirjen IKMA Reni memaparkan, perekonomian nasional Indonesia pada Triwulan III Tahun 2025 dilaporkan tumbuh sebesar 5,04%,.

Dia menyebut, sektor industri manufaktur secara konsisten hadir sebagai penggerak utama perekonomian nasional. Hal itu tergambarkan pada kontribusi industri manufaktur terhadap PDB yang mencapai sebesar 17,39%. Capaian itu merupakan kontribusi tertinggi di antara sektor ekonomi lainnya, serta mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,58%. 

Selain itu dari sisi investasi, data pada Triwulan III Tahun 2025 menyatakan bahwa industri manufaktur pada periode tersebut berkontribusi sebesar 39,36% dengan nilai Rp 193,4 triliun.

Kinerja positif sektor industri manufaktur tersebut tentunya tidak terlepas dari kontribusi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang juga merupakan suatu bagian tak terpisahkan dari UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). 

Reni mengatakan, IKM sebagai produsen memiliki peran yang vital dan memberikan multiplier effect terhadap perkembangan sektor UMKM lainnya seperti bidang perdagangan, bidang pertanian/perikanan, ekonomi kreatif dan bidang lainnya. 

IKM memegang peran penting dalam penguatan struktur industri dan turut mendorong pertumbuhan perekonomian nasional. 

Hal ini dapat dilihat dari jumlah unit usaha IKM mencapai 4,43 juta unit usaha atau 99,29% dari seluruh unit usaha industri Indonesia dan menyerap 12,81 juta tenaga kerja. 

Teknologi digital saat ini telah menjadi kebutuhan utama dalam aktivitas sehari-hari di seluruh dunia. 

Dia menyebut, berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2025 mencatat pemanfaatan sistem informasi berbasis internet telah menjangkau 229 Juta pengguna (80,66% penduduk indonesia).

Hlal ini meningkat 1,16% dibandingkan dengan tahun lalu dengan angka 79,50%. Kenaikan penggunaan internet ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber informasi dan menjadi salah satu indikator kesiapan dalam menghadapi era transformasi digital, khususnya pelaku industri.

Berbicara tentang pemanfaatan teknologi digital di sektor industri kecil dan menengah, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia telah meluncurkan inisiatif Making Indonesia 4.0, pada tanggal 4 April 2018. 

Program ini merupakan peta jalan strategis untuk mengimplementasikan revolusi industri keempat di Indonesia, dengan fokus pada penerapan teknologi digital dan otomatisasi di berbagai sektor industri.

Untuk mendukung penerapan Peta Jalan Making Indonesia 4.0 pada sektor IKM, Ditjen IKMA Kementerian Perindustrian secara kontinyu memberikan fasilitasi berupa peningkatan literasi digital melalui program E-Smart IKM. 

Tercatat sampai dengan triwulan III tahun ini, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka melalui program e-Smart IKM telah melatih 31.306 IKM di seluruh Indonesia yang berfokus pada peningkatan literasi digital, onboarding marketplace, dan implementasi teknologi untuk membantu proses bisnis perusahaan. 

"Dapat kami informasikan juga bahwa Ditjen IKMA juga melaksanakan sejumlah kegiatan awareness industri 4.0, bimbingan dan pendampingan untuk memberikan pengetahuan kepada IKM tentang betapa pentingnya penerapan teknologi untuk pengembangan usaha".

Untuk melihat kesiapan IKM dalam menjalankan implementasi teknologi industri 4.0 maka diperlukan tools pengukuran yaitu INDI 4.0.   

Pada tahun 2024, pihaknya juga telah melakukan self assessment INDI 4.0 untuk total 204 IKM denngan hasil pengukuran INDI 4.0 kepada IKM.

Hal ini dapat terlihat bahwa rata-rata IKM memiliki skor 1,45 atau pada level 1 untuk IKM manufaktur. 

"Sehingga langkah yang perlu dilakukan oleh IKM dalam memulai transformasi ini adalah dengan melatih SDM IKM terkait. Misalnya transformasi melalui digital marketing, digitalisasi proses desain, dan memperkuat implementasi lean production," tutupnya. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik