Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Konsisten Salurkan KUR, Kredit UMKM BRI Tumbuh Double Digit

Insi Nantika Jelita
26/2/2026 11:10
Konsisten Salurkan KUR, Kredit UMKM BRI Tumbuh Double Digit
ilustrasi(Antara)

Konsisten memperkuat pembiayaan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus menunjukkan kinerja positif melalui pertumbuhan kredit yang solid. Hingga akhir Desember 2025, kredit BRI tercatat tumbuh 12,3% secara tahunan (yoy) menjadi Rp1.521 triliun, dengan porsi pembiayaan yang didominasi oleh segmen UMKM. Pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan nasional sepanjang 2025 yang hanya tumbuh 9,6% yoy.

"Pertumbuhan kredit BRI yang mencapai double digit tersebut mampu diimbangi dengan penyaluran yang lebih prudent dan tumbuh secara sehat," ujar Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam konferensi pers Laporan Kinerja Keuangan BRI Triwulan IV Tahun 2025 secara daring, Kamis (26/2).

Ia menegaskan  perseroan tetap menjaga pertumbuhan kredit dari segmen UMKM, terutama melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang kini juga diperluas dengan KUR perumahan. 

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, BRI telah menyalurkan KUR senilai Rp178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur. Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai Rp80,09 triliun atau setara 44,97% dari total KUR yang disalurkan BRI.

Untuk tahun ini, pertumbuhan kredit secara umum diperkirakan masih berada di level single digit, yakni sekitar 7%-9%. Hery mengatakan target tersebut sejalan dengan langkah perseroan yang semakin selektif dalam menentukan sektor pembiayaan, dengan fokus pada sektor-sektor yang memiliki kualitas baik, sehingga mampu memberikan imbal hasil (yield) yang optimal tanpa mengorbankan kualitas aset BRI.

"Kami memang sangat selektif memilih sektor-sektor yang berkualitas yang tentunya bisa memberikan yield yang bagus, tapi di sisi lain juga tidak membawa kualitas aset yang buruk bagi BRI," jelas Hery.

Dari sisi kualitas aset, ia menuturkan perseroan terus melakukan perbaikan, khususnya pada segmen mikro melalui penguatan model bisnis dan optimalisasi peran tenaga pemasar. Upaya ini antara lain dilakukan dengan meningkatkan intensitas kunjungan mantri kepada nasabah, memperkuat proses penagihan, serta mendorong nasabah mikro untuk memiliki simpanan di BRI dengan penempatan dana yang setara dengan satu hingga dua kali angsuran. 

"Ke depan, perseroan juga berencana menerapkan skema AGF (grab fund) pada segmen mikro sebagai bagian dari strategi penguatan mitigasi risiko," terangnya.

Langkah-langkah tersebut berdampak pada perbaikan rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga di level 3,07% hingga akhir 2025. Pada periode yang sama, Loan at Risk (LAR) turut menurun dari 10,7% pada akhir 2024 menjadi 9,6% di akhir 2025. Perbaikan fundamental ini pada akhirnya mendorong kinerja perseroan, yang berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp57,132 triliun.

"Jadi, pertumbuhan kita harapkan tetap solid, harapannya lebih baik dibandingkan dengan tahun 2025 yang lalu," ujar Hery.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Treasury dan International Banking BRI Farida Thamrin melihat pertumbuhan kredit sebesar 12,3% secara komposisi tetap didominasi oleh UMKM. 

"Selain itu, sebagai bagian dari dukungan terhadap program pemerintah, BRI konsisten menjadi penyalur utama kredit usaha rakyat atau KUR," tegasnya.

Ia menyebut kedisiplinan dalam pengelolaan likuiditas menjadi fondasi utama dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memastikan struktur pendanaan yang optimal. Dari sisi permodalan, rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI berada di level 23,52%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. 

Posisi ini, katanya, menunjukkan kapasitas permodalan yang memadai untuk menopang ekspansi bisnis secara prudent. "Serta, menyerap potensi risiko, serta menjaga stabilitas dan ketahanan perseroan," sambungnya.

Dari sisi kualitas aset, rasio NPL yang terkendali di level 3,07% menjadi semakin relevan mengingat portofolio BRI mayoritas disalurkan ke segmen UMKM yang memiliki risiko lebih granular. 

Dengan kualitas kredit yang terjaga, BRI juga menyediakan pencadangan yang sangat memadai dengan NPL coverage sebesar 178,1%. Menurut Farida, dengan NPL coverage yang kuat ini tidak hanya mampu menjaga stabilitas neraca secara berkelanjutan, tetapi juga memberikan keyakinan kepada investor, regulator, dan seluruh pemangku kepentingan bahwa perseroan memiliki fundamental yang kokoh dalam menghadapi dinamika ekonomi dan tantangan pasar.

"BRI menempatkan manajemen resiko menjadi salah satu enabler dalam mendukung pencapaian visi perusahaan," ucapnya. 

Sementara, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, ekosistem holding ultramikro BRI Group mencatat sepanjang 2025 sebanyak 1,4 juta debitur berhasil naik kelas atau tumbuh 11,82% secara tahunan. Pencapaian ini membuktikan bahwa pendekatan berbasis ekosistem mampu mendorong inklusi keuangan yang lebih dalam, memperluas literasi investasi, serta menciptakan jalur kenaikan kelas yang terukur bagi pelaku usaha ultramikro. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya