Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat penyaluran kredit konsolidasi sebesar Rp1.701 triliun pada akhir Juni 2025, tumbuh 11% year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut melampaui rata-rata industri perbankan yang hanya 7,03% yoy, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menjelaskan, kredit wholesale tumbuh 12,3% yoy menjadi Rp925 triliun, sementara kredit ritel meningkat 8,05% yoy menjadi Rp402 triliun.
“Dengan demikian, total kredit Bank Mandiri konsolidasi menembus Rp1.701 triliun atau naik solid 11% yoy,” ujar Novita dalam keterangan resmi, Jumat (19/9).
Ia menambahkan, pembiayaan Bank Mandiri menyasar sejumlah sektor prospektif seperti konstruksi, infrastruktur, perdagangan, energi, makanan dan minuman, serta industri padat karya.
“Pertumbuhan kredit yang kami capai menunjukkan peran aktif Bank Mandiri dalam mendukung pembiayaan produktif di sektor-sektor strategis dan sesuai potensi ekonomi daerah,” katanya.
Dari sisi pendapatan, Bank Mandiri mencatatkan kinerja positif. Pendapatan bunga bersih naik 6,73% yoy menjadi Rp52,4 triliun, sedangkan pendapatan non-bunga tumbuh 7,82% yoy menjadi Rp20,9 triliun. Secara keseluruhan, total pendapatan perseroan mencapai Rp73,4 triliun, atau tumbuh 5,43% yoy.
"Rangkaian kinerja positif tersebut mendorong Bank Mandiri menghasilkan laba operasional praprovisi (PPOP) Rp40,7 triliun dan laba bersih Rp24,5 triliun,” ungkap Novita.
Total aset konsolidasi Bank Mandiri juga meningkat 11,4% yoy menjadi Rp2.514,68 triliun per kuartal II 2025. Sementara itu, kualitas aset tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) Gross Bank Mandiri berada di level 1,08% (bank only), jauh lebih baik dibandingkan rata-rata industri 2,22% pada periode yang sama. Adapun rasio pencadangan atau NPL Coverage Ratio mencapai 273%, menunjukkan ketahanan finansial yang solid.
“Komitmen kami adalah memastikan pertumbuhan kredit yang sehat dengan manajemen risiko yang disiplin sehingga profitabilitas dapat terjaga secara konsisten,” tegas Novita.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp1.828 triliun atau tumbuh 10,7% yoy hingga Juni 2025, melampaui rata-rata industri. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan dana murah (Current Account Saving Account/CASA) yang mencapai 78,4%. Tingginya CASA memperkuat likuiditas dan efisiensi biaya dana, sehingga mendukung ekspansi kredit berkelanjutan.
“Fokus utama kami adalah meningkatkan CASA berbasis transaksional, baik di segmen wholesale maupun retail, untuk menjaga biaya dana tetap efisien,” pungkas Novita. (E-3)
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan giro sebesar 19,13%, tabungan 8,19%, dan deposito 14,28%.
PERTUMBUHAN kredit industri fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) pada 2026 berada di level dua digit.
Per Desember 2025, kredit perbankan tumbuh sebesar 9,63% secara tahunan (yoy) ditopang penyaluran kredit investasi yang tinggi.
Kebutuhan masyarakat terhadap akses kredit digital yang cepat, mudah, dan terjangkau terus meningkat, terutama di luar kota-kota besar.
Keterbatasan akses pembiayaan masih menjadi persoalan besar bagi pelaku usaha di Indonesia, khususnya UMKM dan generasi muda.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat kelas menengah masih membutuhkan dukungan kebijakan.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan bahwa rating Moody's tidak berdampak terhadap kinerja kredit bank yang dipimpin oleh Hendra Lembong tersebut.
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatatkan kinerja yang solid sepanjang 2025. Per Desember 2025, perseroan menyalurkan pembiayaan sebesar Rp318,84 triliun.
PT Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat kinerja keuangan yang solid di sepanjang 2025. Perseroan mencatat pertumbuhan kredit mencapai 15,9% secara tahunan.
PT Bank Negara Indonesia (BNI) dinilai berada pada posisi yang lebih siap memasuki 2026 dibandingkan bank-bank besar lainnya.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5%.
Melemahnya daya beli masyarakat berimbas pada penurunan permintaan barang dan jasa di berbagai sektor.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved