Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memproyeksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi menguat pekan ini pada 15-19 September 2025. Hal ini didorong dua katalis utama, yakni kebijakan Bank Sentral AS atau The Fed yang lebih dovish dan penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun ke bank-bank BUMN.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menjelaskan, keputusan suku bunga The Fed yang berpotensi lebih dovish setelah data ketenagakerjaan AS melemah, membuka peluang arus modal masuk kembali ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dinamika ini penting dicermati karena akan mempengaruhi arus modal global dan sentimen investor. Dalam kondisi tersebut, aset safe haven seperti emas serta saham di sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga seperti perbankan hingga real estate diperkirakan akan mendapat perhatian lebih dari pelaku pasar.
"Jika suku bunga AS dipangkas kemungkinan dolar AS akan melemah dan membuat harga emas semakin naik," ungkapnya dalam keterangan resmi, Senin (15/9).
Sementara, dari domestik, pasar fokus pada kebijakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang menempatkan dana Rp200 triliun di Himbara untuk memperkuat likuiditas dan mendorong kredit sektor riil yang diproyeksikan memberi katalis positif bagi sektor perbankan.
Rinciannya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) masing-masing menerima Rp55 triliun. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menerima Rp25 triliun dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mendapatkan dana Rp10 triliun.
Dana tersebut ditempatkan dalam bentuk deposito on call dengan bunga sekitar 4%. Bank penerima wajib menandatangani perjanjian dengan Kemenkeu dan melaporkan penggunaan dana secara berkala. Selain itu, pemerintah juga akan meluncurkan program magang berbayar enam bulan bagi fresh graduate mulai kuartal IV-2025, sebagai upaya menjembatani pendidikan dengan kebutuhan industri.
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, Hari optimistis IHSG pekan ini berpotensi menguat menguji resistance di 8.000 dengan support di 7.650. Proyeksi penguatan ini akan terjadi setelah IHSG terkoreksi tajam -3,53% di awal pekan lalu akibat reshuffle Menkeu, dengan capital outflow asing hingga Rp6 triliun.
"Namun, sentimen positif dari kebijakan penyuntikan dana Rp200 triliun ke perbankan menjadi pendorong IHSG rebound +2,49%," katanya.
Terpisah, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto menerangkan, IHSG melanjutkan tren penguatan untuk ketiga kalinya pada Jumat (12/9) lalu, dengan menguat cukup signifikan, sebesar 1,4% menjadi 7.854,1. Investor asing masih mencatatkan net sell, untuk ke-12 kalinya secara berturut-turut sejak tanggal 27 Agustus lalu.
"Net sell asing kali ini cukup kecil, sebesar Rp31,6 miliar," ujarnya.
Rupiah pada Jumat lalu juga menguat, dan pertama kalinya ditutup di bawah level 16.400 per dolar AS selama 4 hari terakhir. Sementara itu, untuk persepsi risiko investasi atau credit default swap (CDS) 5 tahun Indonesia juga sudah kembali berada di bawah 70 dalam dua hari berturut-turut.
Rully menambahkan, imbal hasil SBN tenor 10 tahun juga cukup stabil, dan pada hari Jumat turun cukup signifikan ke 6,33%. Investor asing masih mengurangi kepemilikannya di Surat Berharga Negara (SBN) per Kamis (11/9) dengan tercatat turun menjadi Rp928,4 triliun atau 14,5% dari total outstanding. Kepemilikan asing di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga turun, pada periode 8 sampai 11 September, sebesar Rp6,6 triliun.
"Kami melihat investor asing belum dapat memandang secara positif pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani menjadi Purbaya Yudhi Sadewa," pungkasnya. (E-3)
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengungkapkan pada sepekan ke depan, indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan penguatan.
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memproyeksi indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan menuju level 8.400. Ini akan ditopang masuknya arus modal asing.
INDEKS harga saham gabungan (IHSG) mencatat sejarah dengan menembus level tertinggi sepanjang masa. IHSG menguat 1,72% ke level 8.257,859 pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (10/10).
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memproyeksikan Indeks Harga Saham Habungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan menuju level resisten 8.168 pada pekan ini.
Bursa kembali memperketat pengawasan pasar. Pada perdagangan Rabu (21/1), sebanyak enam saham emiten resmi masuk daftar papan pemantauan khusus
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus terhenti sejenak pada pembukaan perdagangan Rabu, 21 Januari 2026.
IHSG hari ini 20 Januari 2026 cetak rekor baru di 9.169 sebelum berfluktuasi. Cek saham top gainers ZATA, ELIT & analisis dampak Rupiah Rp17.000.
PT OCBC Sekuritas Indonesia bersama PT Inovasi Finansial Teknologi resmi menjalin kemitraan strategis untuk menghadirkan fitur investasi saham di platform Makmur.
IHSG kembali mencetak rekor All Time High di level 9.072 pada Kamis (15/1/2026). Simak data perdagangan, saham top gainers, dan sentimen pasar global.
VICE President Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi, memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpeluang menguat hingga akhir Januari 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved