Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DEFISIT Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diproyeksikan bakal melampaui 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun ini. Defisit APBN 2025 itu akan terjadi jika pemerintah berkukuh untuk melaksanakan sejumlah program unggulan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
"CELIOS sudah menyampaikan ketika program makan bergizi gratis direncanakan. Kita sampaikan saat itu, bahwa jika pemerintah memaksa untuk melakukan implementasi program MBG secara penuh (100%), rasio defisit anggaran terhadap PDB bisa lebih dari 3%," ujar Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda, Jumat (14/3).
Sejatinya peluang defisit anggaran menyentuh 3% sudah terbuka ketika pemerintah mendorong sisi belanja secara kuat di saat pendapatan negara tengah terseok-seok. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir kinerja pendapatan negara sudah memiliki kecenderungan penurunan.
Situasi itu dinilai bertolak belakang dengan ambisi Presiden Prabowo yang menginginkan eksekusi program unggulannya secepat mungkin. "Belum lagi masih ada pembangunan era Jokowi yang ingin dilanjutkan di era Prabowo. Fiskal kita tidak sebagus yang dibayangkan Prabowo," terang Huda.
Dia juga menyayangkan adanya langkah realokasi anggaran belanja negara ke pos yang sampai saat ini belum dijelaskan oleh pemerintah. Padahal dana tersebut dapat digunakan untuk memberikan stimulus kepada perekonomian.
"Terlebih di saat daya beli masyarakat melemah. Anggaran dari pemerintah bisa mendongkrak konsumsi rumah tangga untuk menjadi stimulus seperti bantuan sosial ataupun bantuan lainnya," jelas Huda.
"Jika kekuatan APBN berkurang, ya stimulus ekonomi juga akan terhambat. Dampaknya dapat menyasar kepada konsumsi rumah tangga," tambahnya.
Sementara itu, Koordinator Analis Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45) Reyhan Noor menyatakan, efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah bakal mengurangi kontribusi APBN terhadap perekonomian nasional. Kendati ada efisiensi, defisit anggaran justru berpotensi melebar.
Hal itu, imbuh Reyhan, menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas dan pengelolaan kebijakan fiskal ke depan.0"Salah satu yang menjadi kekhawatiran adalah jatuh tempo utang yang tinggi bukan hanya tahun ini, melainkan lima tahun ke depan. Di sisi lain, pemerintah daerah juga semakin terbatas untuk memberikan dampak ekonomi secara langsung," kata Reyhan.
Berkaitan dengan hal itu, lanjutnya, terdapat dua hal yang perlu diperhatikan agar ekonomi tidak semakin buruk. Pertama, independensi bank sentral perlu dijaga agar tidak mengurangi kepercayaan investor.
BI, kata Reyhan, tetap perlu sesuai dengan mandatnya saat ini agar sesuai dengan kemampuan serta objektifnya. Kedua, norma defisit APBN sebesar 3% dan utang sebesar 60% terhadap PDB tidak boleh diubah tanpa ada penjelasan dan komunikasi kebijakan yang baik.
"Kedua poin tersebut perlu benar-benar menjadi perhatian agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga," pungkasnya. (H-3)
Untuk itu Imron meminta Pertamina agar terus meningkatkan kinerja, melalui lifting yang terus meningkat diharapkan bisa mendukung upaya ketahanan energi nasional.
DEFISIT fiskal Indonesia pada 2025 tercatat melebar melampaui target pemerintah, seiring percepatan belanja negara di penghujung tahun dan lemahnya kinerja penerimaan.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mencatatkan defisit Rp695,1 triliun atau 2,92% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).
KEMENTERIAN Keuangan (Kemenkeu) menyampaikan update realisasi APBN 2025.
Bea Cukai tingkatkan penerimaan, perkuat pengawasan, dan fasilitasi ekspor-impor guna mendukung kinerja solid APBN hingga Agustus 2025.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberi sinyal hati-hati atas ambisi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan APBN tanpa defisit pada 2027 atau 2028.
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dunia usaha menilai pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 belum sepenuhnya mencerminkan akselerasi pertumbuhan yang optimal.
Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja perekonomian nasional yang solid di sepanjang 2025 dengan pertumbuhan sebesar 5,11% secara tahunan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah belum berencana memangkas insentif pajak meskipun nilai belanja perpajakan terus meningkat.
Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut, di tengah kondisi ekonomi global yang tak pasti.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kembali menegaskan posisinya sebagai fondasi utama perekonomian Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved