Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto menyampaikan, tahun ini pembayaran bunga utang yang harus dikeluarkan pemerintah berkisar Rp498 triliun. Angka tersebut telah memperhitungkan perubahan nilai tukar rupiah.
"Anggaran belanja bunga di APBN 2024 Rp497 triliun, outlook kita ke Rp498 triliun, ada sekitar Rp1,5 triliun deviasi, diantaranya karena kurs," ujarnya kepada pewarta di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (9/7).
Namun Suminto belum bisa memastikan besaran belanja bunga utang di tahun depan. Pasalnya, saat ini besaran itu masih dalam bentuk kisaran persentase dan baru dapat dibulatkan ketika Nota Keuangan dibacakan oleh Presiden pada 16 Agustus mendatang.
Baca juga : Nilai Tukar Rupiah Sore Ini Melemah
"Nanti tergantung titiknya, titiknya ketika jadi RAPBN. Kalau sekarang kan range, dan itu masih lebar, sehingga nanti akan ketemu angka-angkanya range ketika jadi poin di 16 Agustus nanti," jelasnya.
Dia menambahkan, pemerintah akan terus berupaya mengoptimalisasi kebijakan pembiayaan. Salah satu yang akan tetap digunakan di tahun depan ialah pembiayaan angkara melalui Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Penggunaan SAL, kata Suminto, juga berhasil menekan pengadaan utang pemerintah. Tahun ini, misalnya, pemerintah akan memanfaatkan dana SAL sebesar Rp151 triliun untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan anggaran.
Baca juga : Sri Mulyani: Rupiah Menguat ke Rp16.200 pada Semester Kedua 2024
Melalui pemanfaatan SAL itu, pemerintah bisa mengurangi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Dus, penarikan utang dapat ditekan dengan cara itu. "Untuk 2025 nanti kiat akan lihat akhir tahun, apakah kita perlu bentuk SiLPA kalau bentuk SiLPA, berarti akan bertambah lagi SAL-nya. Jadi tentu akan kita lihat situasinya ketika kita melihat di triwulan IV kondisnya seperti apa," kata Suminto.
"Jadi kalau mengelola APBN tetap kita ada buffer-buffer termasuk SAL pada jumlah atau size yang reasonable. Itu kita siapkan, cuma kan levelnya berapa, jumlahnya berapa, kita belum bisa bicara banyak saat ini," tambahnya. (Z-8)
EKONOM Bright Institute Awalil Rizky menyoroti keterbukaan informasi keuangan negara. Rilis APBN Kita sepanjang 2025 tidak lagi menyajikan posisi utang pemerintah secara bulanan.
Esensi dari pengelolaan utang bukan pada besarnya rasio, melainkan pada sejauh mana utang tersebut mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan.
Sampai kuartal II 2025 atau per akhir Juni 2025, utang pemerintah mencapai Rp9.138,05 triliun. Angka itu setara dengan 39,86% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Rencana pemerintah menambah utang sebesar Rp781,87 pada APBN 2026 mendatang dinilai sebagai penarikan utang terbesar yang dilakukan pemerintah pascapandemi covid-19.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan yang diolah Indef, total utang yang harus dibayar pemerintah pada 2026, baik pokok jatuh tempo maupun bunga, mencapai Rp1.433,40 triliun.
Penurunan cadangan devisa Indonesia disebabkan oleh kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah serta intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valas untuk stabilitas rupiah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan segera berbalik menguat.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dipicu oleh spekulasi pasar mengenai potensi terganggunya independensi Bank Indonesia.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah berpotensi melemah hingga level Rp17.100 per dolar Amerika Serikat (AS)
Rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS lebih tepat dibaca sebagai refleksi tekanan sentimen pasar global ketimbang cerminan pelemahan fundamental ekonomi domestik.
Kurs rupiah hari ini Kamis 15 Januari 2026 menguat tipis terhadap dolar AS. Simak rincian data kurs BI, sentimen The Fed, dan dampak geopolitik global.
Bank Indonesia (BI) mengungkapkan pelemahan rupiah terhadap kurs dolar Amerika Serikat (AS) akibat tekanan di pasar keuangan dunia seiring memanasnya tensi geopolitik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved