Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BURSA Efek Indonesia (BEI) akhir-akhir ini memberlakukan skema full periodic call auction (FCA). Skema FCA ialah metode lelang berkala secara penuh, dimana transaksi saham bukan berdasarkan permintaan dan penawaran, melainkan berdasarkan jumlah volume lot pada transaksi harga tertentu yang ditentukan oleh sistem. Skema FCA yang disebut diterapkan terhadap saham-saham yang naik itu, dianggap merugikan.
"Sehingga setelah diberlakukannya skema FCA ini selanjutnya saham-saham tersebut turun 10% setiap harinya yang tentunya ini merugikan para investor saham dan juga menurunkan kepercayaan investor di pasar modal Indonesia," ujar praktisi pasar modal, Onggowijaya kepada wartawan, Minggu (2/5) .
Onggo, sapaan Onggowijaya, menilai kebijakan BEI justru bukan melindungi kepentingan investor saham khususnya investor retail. Tapi malah sebaliknya.
Baca juga : Investor Milenial Disarankan Hati-Hati dalam Bermain Saham
"Bagaimana mungkin regulator yang seharusnya melindungi kepentingan investor retail justru membuat/menerapkan kebijakan FCA yang merugikan investor saham," kata Onggo.
"Ketika harga suatu saham naik tentu hal itu menguntungkan investor saham, sehingga apabila setelah diterapkannya FCA oleh BEI dan kemudian harga saham menjadi turun 10% setiap hari maka artinya BEI justru adalah patut diduga sebagai pihak yang merugikan investor saham," imbuhnya.
Menurut Onggowijaya, suatu transaksi saham berdasarkan skema FCA justru mengandung unsur judi atau untung-untungan. Karena investor saham tidak tahu pada jumlah/volume lot berapa terjadi transaksinya. Ini berbeda apabila suatu harga saham diperdagangkan berdasarkan demand and supply.
Baca juga : Investor Ritel Diimbau Pantau Aksi Korporasi dan Saham Berpotensi Delisting
"Sangat lucu BEI sebagai regulator justru berkontribusi terhadap penurunan harga saham dimana harga saham tersebut sesugguhnya sedang naik, sebaliknya harga saham-saham yang turun terus seringkali justru dibiarkan oleh BEI. Ada apa?" papar Onggo.
"Bukankah kalau harga saham naik, investor taking profit maka investor membayar pajak? Jika dengan skema FCA investor jadi menebak-nebak akan membeli atau menjual di harga berapa pada volume berapa," jelas Onggo.
Dia mengaku saat ini terus mengamati saham-saham yang akhir-akhir ini terkena skema FCA.
Baca juga : IHSG Jumat 17 Mei : Berpeluang menguat Seiring Sentimen Domestik dan Global
"Ini kok BEI sepertinya malah memberlakukan suatu skema yang mengandung unsur judi?" kata dia.
Menurut Onggo, para investor saham di pasar modal merasa resah atas skema FCA yang diberlakukan oleh BEI. Apalagi, kata dia menjadi aneh jika skema ini dikenakan terhadap saham-saham yang sedang naik, bukannya terhadap saham-saham yang turun harganya.
"Berbagai bentuk keresahan tampak dari media sosial dan keluhan dari investor saham dalam forum-forum saham dan media elektronik," jelas dia.
Baca juga : BEI Belum akan Cabut Suspensi WIKA
Lebih lanjut, Onggowijaya yang juga merupakan advokat, meminta kepada penegak hukum khususnya Kejaksaan Agung untuk mulai menyelidiki BEI dalam penerapan kebijakan-kebijakan yang sesungguhnya merugikan negara dari pendapatan pajak itu.
"Sejak republik ini berdiri rasanya belum ada pejabat Bursa Efek Indonesia terkena kasus hukum padahal perputaran uang dan pendapatan pajak dari lalu lintas transaksi saham cukup besar," kata dia.
"Kami meminta Kejaksaan Agung untuk mulai melakukan penyelidikan mengapa BEI menerapkan kebijakan FCA yang sesungguhnya merugikan masyarakat sebagai investor sekaligus merugikan negara karena menghambat pendapatan pajak yang seharusnya dapat diterima lebih besar apabila perdagangan saham itu didasarkan pada supply and demand," sambungnya.
Ia menegaskan, apabila BEI benar mau melindungi investor atau masyarakat, bukan dengan cara menerapkan FCA. Apabila diberlakukan pun, kata Onggo seharusnya diterapkan pada saham-saham yang mengalami penurunan harga, bukan malah terhadap saham yang harganya sedang naik.
"Kan ini jadi lucu investor yang untung malah dipaksa rugi, tetapi investor yang rugi malah dibiarkan," tandas Onggowijaya. (Z-8)
BEI mematok target masuk 10 besar bursa global dalam Masterplan 2026-2030. IHSG awal tahun tembus level 8.700 dengan target transaksi harian Rp15 triliun.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta jajaran direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan terpilih mampu menindak tegas praktik manipulasi harga saham atau aksi goreng saham.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan terdapat dua perusahaan berskala besar atau lighthouse company yang bersiap melakukan penawaran umum perdana saham.
PASAR modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja yang solid dan berbagai capaian signifikan, seiring optimisme menyongsong tahun 2026.
BEI mengungkapkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) sebanyak 24 kali pada 2025.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan terakhir tahun 2025 dengan kinerja positif, menguat tipis sebesar 2,68 poin.
IHSG dan kapitalisasi pasar BEI cetak rekor ATH pada pekan 12–15 Januari 2026. Simak data transaksi harian, aksi beli asing, dan pencatatan obligasi terbaru.
IHSG Sesi I ditutup stagnan di 8.884. Simak analisis dampak depresiasi Rupiah, rekor harga emas ATH, hingga guncangan investigasi kriminal Jerome Powell.
Sejalan dengan penguatan IHSG, kapitalisasi pasar BEI turut meningkat sebesar 1,79% menjadi Rp16.301 triliun, dari Rp16.014 triliun pada pekan sebelumnya.
Lengkap dan terbaru! Ini daftar 8 saham yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro, mulai dari RAJA, RATU IPO 2025, SINI, hingga PADI. Cek status kepemilikan dan afiliasinya.
IHSG pada 8 Januari 2026 di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 19,33 atau 0,22 persen ke posisi 8.925,46. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,70 poin
IHSG Bursa Efek Indonesia 8 Januari 2026 ditutup melemah. Analis Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan IHSG kemungkinan sedikit terdampak suku bunga acuan dan inflasi
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved