Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PERISET dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, Indonesia bakal mempunyai daya tawar yang lebih tinggi di level internasional bila menjadi anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD).
"Tergabungnya Indonesia ke dalam organisasi ini bisa menambah bargaining power Indonesia dalam beragam aktivitas ekonomi internasional, termasuk di dalamnya melakukan negosiasi untuk beragam kepentingan ekonomi domestik," ujarnya saat dihubungi, Jumat (21/7).
Dengan daya tawar yang lebih tinggi, kata Yusuf, Indonesia nantinya bisa memuluskan upaya ekspor produk yang selama ini ditentang negara-negara Eropa. Itu juga bisa diiringi dengan upaya sosialisasi ke level internasional mengenai produk unggulan Indonesia yang kerap dipersoalkan.
Baca juga: Indonesia Ditantang Masuk OECD, Manfaatnya Banyak
"Misalnya untuk produk minyak sawit, ini juga bisa dijadikan pemerintah untuk memasukkan agenda melakukan sosialisasi terhadap beragam produk ekspor Indonesia," terang Yusuf.
Selain itu, keanggotaan Indonesia dalam OECD juga diyakini akan memperbesar peluang untuk menarik investasi dari negara lain. Sama halnya seperti G-20, OECD merupakan organisasi yang amat diperhitungkan di level global.
Baca juga: Negara-negara Kaya Diingatkan Dampak Revolusi Kecerdasan Buatan pada Pasar Kerja
Kendati demikian, keanggotaan OECD disebut tak serta merta membuat Indonesia naik kelas. Sebab, banyak hal yang menentukan dan perlu untuk diperbaiki bila Indonesia ingin merengkuh status negara berpendapatan tinggi, atau maju.
OECD, kata Yusuf, dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mencapai ambisi Indonesia menjadi negara maju. Namun itu bergantung pada pengelolaan ekonomi yang dilakukan pemerintah, alih-alih hanya bersandar pada keanggotaan OECD.
Sebelumnya diberitakan, pemerintah menyatakan tengah bersiap menjadi anggota OECD. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, Indonesia dinilai layak menjadi anggota OECD karena berhasil kembali naik status pascapandemi dan berhasil mengetuai Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di tengah multi krisis.
"Pascacovid Indonesia mampu kembali naik kelas, dan Indonesia dinilai sukses mengorganisir KTT G-20, sehingga dengan demikian, sebagai pemimpin G-20, kita berhasil membuat terobosan, sekaligus membumikan G-20 dengan berbagai program, termasuk JETP (Just Energy Transition Partnership)," ujarnya dalam Indonesia Data and Economic Conference Katadata, Kamis (20/7).
"Mudah-mudahan dalam proses beberapa tahun ke depan kita jadi negara ke tiga di Asia yang masuk OECD. Dengan berbagai persyaratan, kita belajar dari negara yang lolos middle income trap untuk bisa melampaui tantangan kita," lanjutnya. (Mir/Z-7)
AGENDA puncak G20 yang akan digelar di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 22-23 November mendatang akan dibagi menjadi tiga sesi utama.
Ramaphosa mengatakan tahun ini Afrika Selatan mendapat kehormatan memegang presidensi G20.
Film G20 yang dibintangi oleh Viola Davis akan tayang di Prime Video pada 10 April.
DEKLARASI bersama para pemimpin Kelompok 20 (G20) pada pertemuan puncak tahunan mereka dinilai tidak memenuhi harapan dan mengecewakan.
DALAM KTT G20 ke-19 yang berlangsung di Rio de Janeiro, Brasil, para pemimpin dari 20 negara ekonomi teratas dunia menyerukan empat tema besar.
Biden secara khusus menyoroti perlunya para pemimpin dunia untuk mengumpulkan modal swasta guna menghadapi tantangan.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) memastikan bahwa Indonesia saat ini terus berproses untuk bergabung sebagai anggota penuh OECD.
OJK dan OECD menggelar Asia Roundtable on Digital Finance 2025 di Bali.
BKSAP DPR membahas peluang dan manfaat keanggotaan Indonesia dalam OECD dan BRICS
Saat ini, Indonesia adalah kandidat resmi. Jika berhasil, Indonesia akan menjadi negara ASEAN pertama yang bergabung dengan OECD.
SEKRETARIS Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyampaikan progres aksesi Indonesia untuk menjadi anggota OECD.
Dokumen IM diserahkan langsung kepada Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann pada Selasa, 3 Juni 2025 di sela-sela rangkaian Pertemuan Tingkat Menteri OECD 2025 di Paris, Prancis.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved