Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPUTUSAN The Fed untuk kembali menaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,25% menimbulkan sejumlah kekhawatiran. Apalagi, inflasi di Amerika masih cukup tinggi dan menutup peluang adanya pemangksaan suku bunga acuan pada 2023.
"Ini jelas menimbulkan kekhawatiran peluang terjadinya resesi di Amerika sehingga menurunkan permintaan akan komoditas. Makanya sektor energi pada minggu lalu mengalami pelemahan paling dalam," kata Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Mino.
Untuk market minggu ini, Ia menjelaskan sejumlah sentimen domestik dan eksternal yang bakal memengaruhi pergerakan IHSG.
Baca juga: The Fed Pengaruhi Kebijakan Banyak Bank Sentral, Termasuk Suku Bunga Bank Indonesia
"Dari sektor domestik ada kinerja keuangan kuartal I-2023, perkembangan harga komoditas dan cadangan devisa dan indeks keyakinan konsumen, sementara itu dari sektor eksternal ada nonfarm payroll April, perkembangan bank regional dan inflasi di tingkat konsumen dan produsen," kata Mino.
Dari domestik laporan keuangan emiten belum semua keluar dan beberapa baru akan rilis minggu ini. Mino berpendapat meski beberapa saham mengecewakan, secara umum laporan keuangannya cukup positif.
Baca juga: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan 5,75%
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Roger MM mengatakan Bursa AS ditutup beragam pada perdagangan senin karena investor menilai proyeksi kebijakan moneter Federal Reserve setelah pertemuan pekan lalu dan menjelang data inflasi yang akan dirilis minggu ini.
Pelaku pasar optimis Fed akan menghentikan kenaikan suku Bunga mereka pada pertemuan bulan Juni. Dow ditutup turun 0,2%, sedangkan S&P dan Nasdaq naik masing-masing 0,1% dan 0,2%. Sementara itu penjualan ritel di Inggris Raya naik 5,2% pada April 2023 dan kenaikan ini lebih baik dibanding bulan Maret 4,9%.
Harga minyak WTI naik 2,1% menjadi USD72,84/barel di tengah meredanya kekhawatiran resesi menyusul data tenaga kerja yang kuat pada jumat lalu.
Analis makro Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan kondisi ekonomi Indonesia cukup baik, dengan pertumbuhan yang konsisten lebih tinggi dari perkiraan, inflasi yang semakin stabil, disertai dengan keseimbangan fiskal dan keseimbangan eksternal yang sangat sehat.
"Namun, kami masih melihat risiko volatilitas jangka pendek masih tinggi karena sentimen global, yaitu rilis data ekonomi AS, terutama yang terkait dengan inflasi dan kondisi ketenagakerjaan, serta risiko gagalnya menaikkan plafon utang AS," kata Rully.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia juga memperkirakan dalam menentukan arah suku bunga kebijakan, Bank Indonesia (BI) akan menunggu kejelasan lebih lanjut tentang arah suku bunga bank sentral AS Fed Fund Rate (FFR).
"Kami berpendapat The Fed akan mempertahankan suku bunga kebijakan tersebut pada level 5,25% sampai dengan akhir tahun ini. Kami berpandangan dalam jangka menengah dan panjang, dolar AS akan melemah terhadap mata uang utama lainnya termasuk Euro dan Pound Sterling, mengingat bank sentral Eropa (ECB) dan bank sentral Inggris (BoE) masih menaikkan suku bunga kebijakannya beberapa kali lagi," kata Rully. (Z-10
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
Presiden Donald Trump kembali menyuarakan dukungan atas penyelidikan terhadap Jerome Powell terkait proyek renovasi kantor Fed. Trump juga mendesak penurunan suku bunga.
Federal Reserve (The Fed) hampir dipastikan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam keputusan kebijakan terbaru yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/1) sore waktu setempat
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Update pasar saham properti 9 Januari 2026. Saham DILD dan ASRI catatkan kenaikan signifikan di tengah sentimen IKN dan suku bunga, sementara APLN bergerak moderat.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan masih terbuka peluang penurunan lanjutan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah positif bagi penguatan kebijakan ekonomi nasional.
Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026, Rabu (21/1) siang ini.
Sikap menahan suku bunga acuan (BI Rate) dinilai paling rasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
IHSG Bursa Efek Indonesia 8 Januari 2026 ditutup melemah. Analis Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan IHSG kemungkinan sedikit terdampak suku bunga acuan dan inflasi
BI resmi mengganti Jibor dengan Indonia mulai 1 Januari 2026. Indonia berbasis transaksi riil (weighted average), menjamin transparansi pasar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved