Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
REKTOR Universitas Musi Rawas yang juga merupakan dosen Universitas Sriwijaya, Prof. Andy Mulyana mengatakan, sejauh ini kehadiran beras impor tidak mampu menurunkan harga beras dalam negeri.
Karena itu, menurut dia, kenaikan tersebut harus segera disikapi serius dengan melakukan penyerapan atau operasi pasar berupa pembelian beras atau gabah petani.
"Beras impor ternyata tidak sesuai harapan masyarakat karena harga beras saat ini masih cukup tinggi. Artinya impor beras tidak berdampak pada harga beras di pasaran," ujar Mulyana, Jumat (10/2).
Mulyana mengatakan, kebijakan impor sejak awal bukan sebagai solusi dalam mengatasi persoalan ketersediaan beras Indonesia. Sebaliknya, kebijakan yang dibutuhkan petani adalah melakukan penyerapan secara berkelanjutan.
Opsi pembelian dalam bentuk gabah dimaksudkan agar jumlah yang dapat diserap akan lebih banyak, terkait dengan sering terhambatnya penyerapan beras petani karena tidak terpenuhinya syarat mutu beras petani.
"Saya berharap dengan masa panen raya 2023 ini, pemerintah melalui Bulog terus melakukan penyerapan secara maksimal," katanya.
Senada, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Rusnadi Padjung menilai impor beras yang selama ini dilakukan tidak berhasil menurunkan harga beras di dalam negeri. Nyatanya, harga beras di lapangan masih tergolong tinggi. Dia menilai, sejak awal, kebijakan yang tepat adalah melakukan penyerapan ketimbang melakukan pengimporan.
Melansir data Info Pasar Beras Induk Cipinang (PIBC), harga beras per 4 Februari 2023 lalu masih di posisi tinggi yakni Rp11.589 per kg dengan kondisi stok beras di PIBC sebagai barometer nasional hanya 12.234.
"Saya kira penyerapan itu harusnya dilakukan sejak awal sehingga impor tak perlu dilakukan. Toh nyatanya, impor beras tak berdampak pada kondisi harga dalam negeri," katanya.
Bagi Rusnandi, satu-satunya jalan agar kondisi harga beras berangsir turun adalah melakukan penyerapan secara maksimal. Apalagi panen raya di sejumlah sentra sudah di depan mata. Saat ini petani tengah menanti upah mereka terbayarkan.
"Makanya lakukan penyerapan. Jangan biarkan petani rugi karena mereka sudah bekerja keras melakukan penanaman. Kalau serapanya bagus otomatis harganya juga akan turun," katanya.
Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Riyanto menilai bahwa sejauh ini keberadaan beras impor belum mampu menurunkan harga beras di tingkat konsumen.
"Adanya beras impor ternyata tidak sesuai dengan harapan masyarakat karena sampai saat ini harganya tetap tinggi," katanya.
Riyanto mengatakan, seharusnya Pemerintah sejak awal menghitung secara detail, timing dan dampak dari kebijakan impor. Apalagi kebijakan ini dilakukan disaat petani akan menghadapi panen raya.
"Kebijakan yang paling tepat menurut saya adalah melakukan penyerapan gabah petani saat panen raya," jelasnya. (RO/OL-7)
INDONESIA berhasil menorehkan pencapaian swasembada beras dengan memutuskan tidak melakukan importasi yang dimulai sejak 2025.
Pemerintah terus mengeklaim bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan. Namun, disaat yang sama, harga beras di tingkat konsumen masih tinggi.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyebut bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras pada tahun 2025.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa sepanjang 2025 Indonesia tidak melakukan impor beras sama sekali. Menurutnya, hal itu menandai tonggak sejarah baru dalam ketahanan pangan nasional.
HARGA beras di pasar dunia dilaporkan mengalami penurunan drastis hingga lebih dari 40% dibandingkan tahun lalu.
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa tidak ada impor beras medium yang masuk ke Indonesia.
Pemerintah berjanji meninjau ulang kebijakan kuota impor daging sapi reguler pada Maret 2026, menyusul keberatan pelaku usaha swasta atas pemangkasan kuota yang dinilai terlalu drastis.
NILAI impor Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Oktober 2025 tercatat mencapai US$1.866.025.235,82.
Dengan pertukaran data berbasis elektronik antarotoritas negara, perubahan atau manipulasi dokumen menjadi sulit dilakukan.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada Oktober 2025, ekspor tercatat US$24,24 miliar dan impor US$21,84 miliar sehingga surplus US$2,39 miliar.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan neraca perdagangan barang pada Oktober 2025 mencatatkan surplus sebesar US$2,39 miliar.
Produksi kedelai dalam negeri hanya berkisar 300– 500 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan nasional mencapai 2,8 juta hingga 3 juta ton.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved