Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
BELAKANGAN ini ramai wacana program bagi-bagi kompor listrik gratis dengan perangkatnya dalam rangka alih subsidi dari elpiji ke subsidi listrik, yang dianggap lebih murah. Namun, sejumlah analisis justru menyebut subsidi listrik melalui kompor listri lebih besar daripada elpiji.
"Perhitungan harus benar-benar dilihat dari nilai hari ini dan ke depan, apakah Listrik kita akan selalu murah dan stabil? Jangan-jangan nantinya malah timbul masalah baru di tengah masyarakat," ujar pelaku usaha distribusi elpiji Pertamina Brando Susanto kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (22/9).
Brando yang juga pemerhati dinamisasi subsidi energy untuk masyarakat, merasa aneh jika pemerintah terburu-buru mendorong bagi-bagi kompor listrik gratis.
Karena itu, menurut Brando, listrik dan elpiji sama-sama produk energi tidak terbarukan dan harganya ditentukan currency luar dan market Internasional. Maka dalam jangka waktu menengah, solusi Kompor Listrik akan menimbulkan masalah baru malah bisa merepotkan masyarakat kembali tidak mudah mengatasinya.
"Kebanyakan listrik kita dihasilkan berbasis Diesel dan Batubara. Jadi dapat dibayangkan suatu saat akan problem dengan harga beban subsidi," ujar Brando.
Brando menambahkan, orang Indonesia kebanyakan memasak dengan berbagai bumbu agar sehat dan sedap. Kalau dengan Kompor Listrik rasanya bukan tidak bisa, tapi akan memakan waktu lebih lama dan ada perbedaan rasa dengan kompor api.
"Jadi masakan daerah pada masyarakat akan kehilangan Cita Rasa Nusantara-nya dengan Kompor Listrik. Jangan hanya ditest perbandingan untuk memasak panas saja dengan Kompor Listrik," ujarnya.
Menurut Brando, bagi-bagi kompor Listrik Gratis dengan perangkatnya jangan malah jadi harapan palsu di tengah masyarakat yang sedang susah karena recovery setelah pandemi. Nantinya malah bagi-bagi gratis lalu karena listriknya tidak kuat dirumah dan desakan ekonomi malah jadi ajang jual beli.
Dia menegaskan, akan lebih arif dan bijaksana jika pemerintah mengatur lebih optimal pada Distribusi Elpiji lewat Pertamina. Sehingga tidak mengorbankan masyarakat dengan proyek uji coba kompor listrik apalagi bagi-bagi gratisan.
"Gembar-gembor bagi Kompor Listrik Gratis hendaknya jangan jadi ajang kampanye di tengah masyarakat. Nanti perangkatnya diterima, tapi tidak dipakai sebagai mana mestinya. Seperti banyak terjadi saat konversi Kompor Minyak Tanah ke Kompor Elpiji, karena terkesan mendadak dan menggemborkan bagi-bagi gratisnya daripada edukasi manfaatnya pada masyarakat," jelas Brando. (OL-13)
Baca Juga: Ada Penghematan, Erick Pede Kompor Listrik akan Digandrungi ...
PEMERINTAH menggalakkan penggunaan kompor listrik induksi untuk menggantikan kompor elpiji atau liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram (kg) oleh orang kaya.
Menurutnya, program konversi gas elpiji 3 kilogram ke kompor listrik akan berjalan lancar jika ada penggunaan teknologi yang baru
Kebijakan konversi ke kompor listrik yang diambil pemerintah sebenarnya merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan pada LPG.
Langkah ini dilakukan guna menjaga kenyamanan masyarakat dalam pemulihan ekonomi pascapandemi covid-19.
Langkah ini diambil karena mempertimbangkan kenyamanan masyarakat dalam pemulihan ekonomi pascapandemi covid-19.
Program tersebut tidak akan cukup mengonversi penggunaan LPG 3 kg. Fahmy menyarankan agar pemerintah juga mempertimbangkan bauran energi lain untuk mengonversi LPG 3 kg.
BBM masih menyumbang sekitar 30% dalam bauran energi nasional, sehingga sangat rentan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga dunia.
Begitu juga yang lainnya, seperti konversi sepeda motor, baik menuju bahan bakar gas, khususnya CNG atau pun listrik.
Fokus utama pemerintah adalah mengubah tumpukan sampah yang selama ini menjadi beban lingkungan menjadi sumber energi alternatif, khususnya listrik.
PLN telah menyediakan 4.769 unit stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang tersebar di 3.078 titik di seluruh Indonesia.
Menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, PLN memastikan kesiapan pasokan listrik di berbagai objek vital.
Proyek yang menyasar Pulau Gili Labak dan Pulau Pagerungan Kecil ini menjadi solusi nyata atas tantangan geografis dalam pemenuhan energi di daerah terpencil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved