Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

4 Desa di Pedalaman Aceh Tengah Masih Gelap Jelang Ramadan

Amiruddin Abdullah Reubee
08/2/2026 19:29
4 Desa di Pedalaman Aceh Tengah Masih Gelap Jelang Ramadan
Menjelang Ramadan, kondisi warga penyintas banjir besar di Aceh Tengah masih sangat memprihatinkan.(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE )

MENJELANG 12 hari memasuki Bulan Suci ramadan 1457 H, kondisi warga penyintas banjir besar di Aceh Tengah masih sangat memprihatinkan. Mereka bertahan hidup di bawah tenda pengungsian, di tengah puing kayu gelondongan dan sampah banjir yang masih mengisi keseharian.

Hari-hari tanpa air bersih, kelangkaan gas elpiji, serta krisis bahan bakar terus membayangi kehidupan para korban. Situasi kian berat ketika malam tiba. Serangan nyamuk dan gelap gulita akibat listrik PLN yang belum pulih membuat penderitaan penyintas semakin panjang.

Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Jumat (16/2), empat desa di Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, masih belum menikmati aliran listrik. Ribuan warga di kawasan pedalaman perbukitan, sekitar 81 kilometer dari Takengon, kini menjalani kehidupan tanpa penerangan layaknya hidup dalam gua.

“Sudah hampir tiga bulan kami harus menjalani gelap malam. Jaringan PLN masih lumpuh dan belum diperbaiki,” ujar Sukri, tokoh masyarakat Desa Reje Payung.

Dari lima desa di Kemukiman Wih Dusun Jamat, empat desa masih gelap total, yakni Desa Reje Payung, Desa Jamat, Delung Sekinel, dan Desa Kute Reje. Hanya Desa Linge yang sudah kembali menyala karena lokasinya lebih dekat dengan Isak, ibu kota Kecamatan Linge.

Empat desa tersebut berada sekitar 81 kilometer dari Takengon atau 75 kilometer dari Isak. Selain terpencil, akses menuju wilayah itu sangat sulit karena badan jalan rusak parah dan medannya ekstrem.

Sukri mengakui pemerintah telah memberikan bantuan genset sebanyak lima unit untuk satu desa. Namun pembangkit darurat itu dinilai tidak efektif karena kelangkaan solar.

“Ada bantuan minyak genset, tapi mengangkutnya dari Takengon sejauh 81 kilometer sangat sulit. Jalan ekstrem dan jembatan darurat di Sungai Kala Ili sering rusak,” katanya.

Warga sangat berharap pemerintah memberi perhatian lebih besar, terutama menjelang ramadan. Menurut Sukri, listrik sangat dibutuhkan untuk menunjang ibadah puasa, salat tarawih, hingga aktivitas sahur.

“Biasanya ramadan diisi dengan banyak ibadah, tadarus Quran sampai waktu sahur. Karena itu kami sangat membutuhkan lampu segera menyala,” tambahnya.

Budayawan Universitas Syiah Kuala (USK), M Adli Abdullah, mengatakan ramadan merupakan bulan yang sangat sakral bagi masyarakat Aceh. Bulan penuh ampunan dan keberkahan itu menjadi waktu paling utama untuk meningkatkan ibadah.

Di Aceh, aktivitas duniawi biasanya menurun drastis selama puasa. Warga lebih fokus menjaga kekhusyukan ibadah dan memuliakan ramadan.

“Wajar jika korban banjir mendambakan listrik menjelang ramadan. Begitu mulianya bulan puasa, hingga di Aceh dilarang berjualan makanan pada siang hari dan pantang makan di depan umum. Pelanggaran bisa dikenai sanksi,” ujar dosen senior USK itu. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya