Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJELANG 12 hari memasuki Bulan Suci ramadan 1457 H, kondisi warga penyintas banjir besar di Aceh Tengah masih sangat memprihatinkan. Mereka bertahan hidup di bawah tenda pengungsian, di tengah puing kayu gelondongan dan sampah banjir yang masih mengisi keseharian.
Hari-hari tanpa air bersih, kelangkaan gas elpiji, serta krisis bahan bakar terus membayangi kehidupan para korban. Situasi kian berat ketika malam tiba. Serangan nyamuk dan gelap gulita akibat listrik PLN yang belum pulih membuat penderitaan penyintas semakin panjang.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Jumat (16/2), empat desa di Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, masih belum menikmati aliran listrik. Ribuan warga di kawasan pedalaman perbukitan, sekitar 81 kilometer dari Takengon, kini menjalani kehidupan tanpa penerangan layaknya hidup dalam gua.
“Sudah hampir tiga bulan kami harus menjalani gelap malam. Jaringan PLN masih lumpuh dan belum diperbaiki,” ujar Sukri, tokoh masyarakat Desa Reje Payung.
Dari lima desa di Kemukiman Wih Dusun Jamat, empat desa masih gelap total, yakni Desa Reje Payung, Desa Jamat, Delung Sekinel, dan Desa Kute Reje. Hanya Desa Linge yang sudah kembali menyala karena lokasinya lebih dekat dengan Isak, ibu kota Kecamatan Linge.
Empat desa tersebut berada sekitar 81 kilometer dari Takengon atau 75 kilometer dari Isak. Selain terpencil, akses menuju wilayah itu sangat sulit karena badan jalan rusak parah dan medannya ekstrem.
Sukri mengakui pemerintah telah memberikan bantuan genset sebanyak lima unit untuk satu desa. Namun pembangkit darurat itu dinilai tidak efektif karena kelangkaan solar.
“Ada bantuan minyak genset, tapi mengangkutnya dari Takengon sejauh 81 kilometer sangat sulit. Jalan ekstrem dan jembatan darurat di Sungai Kala Ili sering rusak,” katanya.
Warga sangat berharap pemerintah memberi perhatian lebih besar, terutama menjelang ramadan. Menurut Sukri, listrik sangat dibutuhkan untuk menunjang ibadah puasa, salat tarawih, hingga aktivitas sahur.
“Biasanya ramadan diisi dengan banyak ibadah, tadarus Quran sampai waktu sahur. Karena itu kami sangat membutuhkan lampu segera menyala,” tambahnya.
Budayawan Universitas Syiah Kuala (USK), M Adli Abdullah, mengatakan ramadan merupakan bulan yang sangat sakral bagi masyarakat Aceh. Bulan penuh ampunan dan keberkahan itu menjadi waktu paling utama untuk meningkatkan ibadah.
Di Aceh, aktivitas duniawi biasanya menurun drastis selama puasa. Warga lebih fokus menjaga kekhusyukan ibadah dan memuliakan ramadan.
“Wajar jika korban banjir mendambakan listrik menjelang ramadan. Begitu mulianya bulan puasa, hingga di Aceh dilarang berjualan makanan pada siang hari dan pantang makan di depan umum. Pelanggaran bisa dikenai sanksi,” ujar dosen senior USK itu. (Z-10)
Ini merupakan bentuk kepedulian USK terhadap mahasiswa terdampak sekaligus upaya meringankan beban ekonomi mereka.
Mahasiswa diingatkan agar sebaik mungkin menghindari hal-hal yang merugikan.
Untuk menutupi kebutuhan pupuk tanaman padi, mereka harus beralih ke pupuk nonsubsidi.
Sebanyak 20 sumur bor berteknologi RO dibangun di wilayah terdampak banjir Aceh untuk menyediakan air bersih dan mendukung pemulihan warga.
Dampak dari kondisi cuaca ini, kata dia, juga berpotensi terjadi gelombang tinggi yang berkisar antara 1,5 meter hingga 2,5 meter di perairan wilayah Aceh bagian barat dan selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved