Selasa 25 Januari 2022, 20:13 WIB

Penguatan Infrastruktur Digital untuk Industri E-Commerce yang Berkelanjutan

Budi Ernanto | Ekonomi
Penguatan Infrastruktur Digital untuk Industri E-Commerce yang Berkelanjutan

DOK IST
Diskusi media secara daring tentang Masa Depan Industri E-Commerce Menuju Bisnis yang Lebih Sustainable, Rabu (25/1).

 

SCHNEIDER Electric mengungkapkan pertumbuhan transaksi e-commerce yang terus meningkat perlu dibarengi dengan pengelolaan operasional yang lebih sustainable.

E-commerce saat ini tengah menghadapi dua tantangan besar, yaitu tuntutan terhadap pemenuhan pengalaman transaksi terbaik tanpa hambatan, serta desakan global terhadap dekarbonisasi. Penguatan infrastruktur digital secara andal, terintegrasi dan efisien menjadi salah satu kunci utama untuk mencapai tujuan sustainability.

Dengan dominasi konsumen usia muda yang digital dan tech-savvy, mendorong industri e-commerce dan teknologi di Indonesia bertumbuh secara dinamis dan cepat. Ditambah lagi dengan perkembangan Industri 4.0 dan situasi pandemi menjadi akselelator pertumbuhan perdagangan secara elektronik (E-commerce) beberapa tahun terakhir ini.

Hasil survei We Are Social pada April 2021 mengukuhkan Indonesia sebagai negara tertinggi di dunia yang menggunakan layanan E-commerce dimana 88,1% pengguna internet di Indonesia berbelanja online.

Laporan e-Conomy SEA 2021 yang dikeluarkan oleh Temasek, Google, serta Bain & Company menyebutkan perdagangan E-commerce di Indonesia pada 2021 tercatat US$ 53 Miliar atau meningkat 52% dibandingkan tahun sebelumnya.

Menjadikannya sebagai kontributor terbesar dalam pertumbuhan nilai ekonomi digital Indonesia. Kementerian Perdagangan (Kemendag) pun menargetkan belanja online melalui platform e-commerce yang saat ini baru menyumbang 4% menjadi 18% terhadap total pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada 2030 mendatang.

Tentunya pertumbuhan sektor E-commerce yang pesat ini semakin meningkatkan kebutuhan akan data center yang dapat menyimpan, mengelola dan transfer data secara cepat dan dapat diandalkan. Namun di sisi lain, pengelolaan data center juga dituntut untuk mengonsumsi energi secara lebih efisien agar dapat mengurangi dampak emisi karbon terhadap kelestarian lingkungan.

Oleh karena itu, data center sebagai tumpuan dalam pengembangan ekosistem digital ini harus dikelola secara lebih efisien, cerdas, adaptif, dan berkelanjutan.

Data center menjadi penyumbang konsumsi energi terbesar di industri TI yang diperkirakan akan mengkonsumsi 8,5% listrik global pada tahun 2035 mendatang.

Menanggapi hal tersebut, Yana Achmad Haikal, Business Vice President Secure Power Schneider Electric Indonesia & Timor Leste mengatakan, “Data center masa depan diharapkan mengonsumsi listrik lebih sedikit tanpa mengorbankan reliability (keandalan). Hal ini dimungkinkan dengan melakukan digitalisasi pengelolaan energi dan otomasi dengan memanfaatkan software management tool seperti EcoStruxure IT & Asset Advisor untuk meningkatkan visibilitas dan kontrol menyeluruh terhadap operasional data center. Dengan begitu, produktivitas dan waktu uptime juga akan semakin meningkat, sekaligus dapat menekan biaya listrik.”

Baca juga: Pembangunan Data Center di Indonesia Perlu Dibarengi RUU PDP

“Pemanfaatan teknologi edge data center berbasis modular seperti Micro Data Center dan Modular Data Center juga dapat mendukung sektor E-commerce dalam mengurangi latensi untuk memaksimalkan pengalaman transaksi terbaik bagi konsumen, dan dapat disesuaikan dengan skala bisnisnya. Penggunaan sumber listrik terbarukan dan ramah lingkungan seperti panel surya juga dapat menjadi solusi alternatif untuk pengelolaan data center yang lebih hijau, mengingat biaya energi berkontribusi sekitar 40 persen dari biaya operasional,” sambung dia.

Bima Laga, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menegaskan optimismenya terhadap pertumbuhan transaksi perdagangan digital Indonesia. “Potensi pertumbuhan perdagangan digital di Indonesia masih sangat besar. Perbandingan besarnya total jumlah penduduk, jumlah pengguna internet, serta konsumen e-commerce masih memiliki gap yang cukup besar untuk bisa digapai lebih optimal,” ujar Bima.

“Pandemi selama dua tahun belakangan memiliki sisi positif di mana masyarakat semakin cepat untuk beradaptasi dengan teknologi di semua sektor, termasuk perdagangan. Saat ini masyarakat semakin mendalami manfaat teknologi digital yang ternyata bisa diterapkan di semua aspek kehidupan.”

Lebih lanjut menurut Bima, peningkatan tak hanya terjadi dari sisi jumlah konsumen. “Pengguna platform e-commerce tidak melulu hanya dari sisi konsumen. Pertumbuhan pelaku usaha yang kemudian menjadi merchant di platform e-commerce juga tumbuh sangat signifikan. Tentu menjadi tantangan bagi para pelaku industri e-commerce untuk mengedukasi merchant baru ini.

Belum lagi semakin banyak retailer yang juga mulai menjajaki kerja sama dengan platform. Mereka semua memiliki andil yang luar biasa, dan akan terus menginspirasi dan mempopulerkan belanja online yang bisa mendorong pertumbuhan transaksi yang berkontribusi besar dalam ekonomi digital Indonesia,” kata Bima menambahkan.

Basuki Surodjo, Chief Executive Officer Airmas Group menegaskan, “Era revolusi industri 4.0 mengharuskan perusahaan E-Commerce untuk semakin memanfaatkan teknologi, memilki infrastruktur digital yang memadai dan keharusan untuk adaptif dengan digital marketing sehingga perusahaan tetap sustainable di era milllenial saat ini."

"Di Airmas Group, kami terus agresif dalam membangun platform digital kami baik dalam bentuk mobile app dan website. Untuk mendukung bisnis, kami telah melakukan investasi dalam membangun data center sendiri dan menggunakan teknologi data center yang pintar dan lebih ramah lingkungan.”

Dengan potensi ekonomi yang sangat besar, sektor E-commerce berperan penting dalam mendukung pencapaian target iklim Indonesia pada tahun 2030. Penggunaan energi yang berkelanjutan harus menjadi pondasi dalam semua aspek operasional. Begitu pula komitmen pelaku E-commerce dalam mengadopsi solusi inovatif untuk mencapai tujuan keberlanjutan.

Baca Juga

Dok. Kementerian BUMN

Erick: BUMN Harus Kembali ke Khittah sebagai Perusahaan yang Sehat dan Berdaya Saing

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 18 Mei 2022, 23:44 WIB
Erick berpesan kepada generasi muda untuk menjaga dua fokus utama BUMN yakni sebagai agen pembangunan dan penyeimbang...
Dok. IFG

Dukung Pengembangan Sektor Asuransi dan Dana Pensiun, IFG Gelar Konferensi Internasional

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 18 Mei 2022, 23:36 WIB
Konferensi itu bertujuan untuk memberikan kontribusi positif terhadap penguatan literasi di sektor asuransi dan dana pensiun bagi pelaku...
Dok. Pribadi

Erick Sebut Transformasi Kultural BUMN Jadi Kunci Menangkan Persaingan

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 18 Mei 2022, 23:02 WIB
"Transformasi bisa terjadi kalau terjadi juga transformasi kultural atau juga transformasi manusianya itu tidak mungkin," ucap...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya