Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penyaluran kredit baru naik 13,8% secara tahunan (YoY) pada periode Januari-September 2021. Hal itu seiring komitmen BCA untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.
Dari sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) juga tumbuh 21,0% YoY hingga akhir September 2021. Sejalan dengan kinerja kredit dan pertumbuhan CASA yang positif, BCA mencatatkan laba bersih Rp23,2 triliun pada sembilan bulan pertama 2021, atau naik 15,8% YoY.
“Kami mengapresiasi upaya pemerintah dalam mengendalikan kasus covid-19. Termasuk, mengakselerasi program vaksinasi, sehingga aktivitas bisnis mulai menunjukkan pemulihan seiring peningkatan mobilitas. Perpanjangan relaksasi pajak pada sektor properti dan otomotif juga turut menjaga daya beli masyarakat,” tutur Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, Kamis (21/10).
Adapun penyaluran kredit baru tercatat lebih tinggi dibandingkan tingkat pelunasan (loan repayment). Dengan begitu, total kredit BCA tumbuh 4,1% YoY menjadi Rp605,9 triliun pada September 2021. Penempatan pada obligasi korporasi juga tumbuh positif atau naik 16,1% YoY.
Baca juga: Penyaluran Kredit di Triwulan III Melambat, Namun Meningkat di Triwulan IV
Secara keseluruhan, portofolio total kredit dan obligasi korporasi meningkat 4,5% YoY menjadi Rp630,2 triliun. Pertumbuhan kredit ditopang membaiknya permintaan dari segmen korporasi dan KPR. Penyaluran kredit pada kedua segmen itu masing-masing naik 7,1% YoY dan 6,5% YoY, atau dengan capaian Rp269,9 triliun dan Rp95,1 triliun.
Pada periode yang sama, kredit komersial dan UKM mencatatkan rebound, atau naik 1,5% YoY menjadi Rp185,4 triliun. Sementara itu, KKB turun 7,6% YoY menjadi Rp35,6 triliun, meski koreksinya membaik dari periode sebelumnya. Saldo outstanding kartu kredit dan lainnya naik 1,2% YoY menjadi Rp13,9 triliun.
Secara total, portofolio kredit konsumer juga berhasil membaik dengan kenaikan 2,1% YoY menjadi Rp144,7 triliun. “BCA senantiasa mengedepankan nilai environmental, socia and governance (ESG). Ditandai komitmen penyaluran kredit kepada sektor berkelanjutan yang naik 25,6% YoY menjadi Rp143,1 triliun. Nilai ini berkontribusi 23,6% bagi total portofolio kredit,” ungkap Jahja.
Baca juga: Luhut Sebut Perpres 87/2021 Percepat Investasi di Jawa Barat
Dari sisi dana pihak ketiga, BCA berhasil membukukan kinerja yang solid pada triwulan III 2021. CASA naik 21,0% YoY mencapai Rp721,8 triliun per September 2021. Sementara itu, deposito juga meningkat 9,7% YoY menjadi Rp201,9 triliun.
Secara keseluruhan, total dana pihak ketiga naik sebesar 18,3% YoY menjadi Rp923,7 triliun. Sehingga, mendorong total aset BCA tumbuh 16,5% YoY mencapai Rp1.169,3 triliun. Pendanaan CASA yang solid ditopang kinerja BCA dalam mempertahankan kekuatan di segmen perbankan transaksi. Khususnya, dalam memperkuat ekspansi ekosistem digital dan basis nasabah.
Per September 2021, CASA berkontribusi hingga 78,1% dari total dana pihak ketiga. BCA memproses 45,7 juta transaksi per hari secara rata-rata di sembilan bulan pertama 2021, atau naik 39,2% dari periode yang sama tahun lalu. Itu menjadi kenaikan tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Seiring pertumbuhan likuiditas yang kokoh ,serta kinerja outstanding kredit yang membaik, BCA mempertahankan pertumbuhan positif pada pendapatan bunga bersih (net interest income) selama sembilan bulan pertama 2021, yakni naik 3,3% YoY menjadi Rp42,2 triliun. Rasio keuangan BCA tetap kokoh dengan rasio kecukupan modal sebesar 26,2%, di atas ketentuan regulator.(OL-11)
PT Bank Negara Indonesia (BNI) dinilai berada pada posisi yang lebih siap memasuki 2026 dibandingkan bank-bank besar lainnya.
Menurut Pramono, pencatatan saham Bank Jakarta di BEI tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga mendorong profesionalisme perusahaan.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku telah menarik dana pemerintah sebesar Rp75 triliun dari total penempatan Rp276 triliun Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sistem perbankan.
MANTAN Kepala PPATK Yunus Husein menilai pemajangan uang tunai hasil rampasan kasus korupsi dan sitaan negara oleh aparat penegak hukum tidak diperlukan dan cenderung tidak efisien.
PERUBAHAN status Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi persero dinilai memperkuat posisi bank tersebut, terutama dari sisi kredibilitas dan persepsi keamanan.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved