Kamis 23 September 2021, 20:31 WIB

Menkeu: Realisasi Pembiayaan Utang Cerminkan Konsolidasi Fiskal

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Menkeu: Realisasi Pembiayaan Utang Cerminkan Konsolidasi Fiskal

Antara
Menteri Keuangan Sri Mulyani bersiap mengikuti rapat kerja di Kompleks Parlemen.

 

MENTERI Keuangan Sri Mulyani menyatakan pemerintah tetap menjalankan konsolidasi fiskal untuk menjaga keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

Salah satunya, tecermin dari realisasi pembiayaan anggaran yang mencapai Rp550,6 triliun hingga akhir Agustus 2021. "Dalam UU APBN dituliskan bahwa target utang tahun ini untuk defisit 5,7% dari PDB itu totalnya Rp1.177,4 triliun," jelas Ani, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers virtual, Kamis (23/9).

"Jadi kalau sekarang kita meng-issue Rp550 triliun, ini hanya 46,8% dan ini sudah Agustus. Jadi, jauh lebih kecil dari yang tadinya ditargetkan," imbuhnya.

Baca juga: Realisasi Pemulihan Ekonomi Nasional Capai 53,2%

Kinerja pembiayaan utang juga tercatat mengalami pertumbuhan minus 20,5%, jika dibandingkan periode yang sama pada 2020 sebesar Rp692,3 triliun. Pembiayaan utang terdiri dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp567,4 triliun dan pinjaman neto Rp16,8 triliun.

Penerbitan SBN dikatakannya jauh lebih rendah dari yang ditargetkan dalam APBN, yakni Rp1.207,3 triliun. Hal itu terjadi karena pemerintah melakukan penyesuaian penerbitan SBN.

"Sampai akhir Agustus meng-issue Rp567,4 triliun atau 47,0%. Bahkan kurang dari 50%, padahal ini sudah bulan ke-8. Kenapa itu terjadi? Karena ada penyesuaian target dari penerbitan SBN neto. Kenapa bisa dilakukan? Karena kita menggunakan sisa anggaran lebih tahun lalu," jelas Bendahara negara.

Penggunaan sisa anggaran lebih untuk pembiayaan utang dilakukan dengan menyesuaikan investasi pemerintah. Selain itu, Surat Keputusan Bersama (SKB) III antara Bank Indonesia dan pemerintah juga mendorong penurunanan penerbitan SBN.

Baca juga: BI Tahan Lagi Suku Bunga Acuan di Level 3,50%

Menurut Ani, Bank Indonesia telah berkontribusi dalam penanganan dampak pandemi covid-19. Itu terkait pembelian SBN seperti yang tertuang dalam SKB I dan III. Tercatat hingga 15 September, Bank Sentral sudah membeli Rp139,8 triliun dalam bentuk SUN Rp95,6 triliun dan SBSN Rp44,25 triliun.

Hal tersebut mencerminkan upaya kondolidasi fiskal yang konsisten. APBN sebagai instrumen fiskal dapat memainkan perannya untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

"Kita tetap menangani covid-19, melindungi masyarakat, memulihkan ekonomi, namun konsolidasi fiskal tetap kita lakukan. Ini berarti issuance utang menurun," tutupnya.(OL-11)
 

 

Baca Juga

Ist

 IAPI Dikukuhkan Jadi Anggota Penuh Akuntan Publik Internasional

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 30 November 2021, 15:22 WIB
IAPI resmi diakui sebagai organisasi profesi akuntansi (Professional Accountancy Organization - PAO) berkualitas tinggi di antara 180 PAO...
FOTO-FOTO/DOK BAKAMLA

Temukan Cadangan Migas di Natuna Timur, SKK Migas: Ini Sumur Kunci

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 30 November 2021, 15:09 WIB
Deputi Perencanaan SKK Migas Benny Lubiantara mengungkapkan, temuan cadangan ini diperoleh melalui pengeboran dua sumur delineasi Singa...
Antara/Ahmad Subaidi.

OJK Luncurkan Roadmap Pengembangan Industri BPR dan BPRS 2021-2025

👤Despian Nurhidayat 🕔Selasa 30 November 2021, 14:20 WIB
Data OJK pada periode Januari-September 2021 aset BPR dan BPRS tmbuh 8,9% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya