Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
Ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Riandy Laksono berpandangan fokus belanja besar pada program makan bergizi gratis (MBG) berisiko menekan stabilitas fiskal dan makroekonomi. Sebab, tingkat penyerapan program ini masih rendah dan dampak produktivitas ekonominya belum jelas jika dibandingkan dengan alokasi belanja yang lebih produktif.
Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, anggaran pendidikan ditetapkan Rp757,8 triliun, dengan Rp335 triliun atau 44,2% di antaranya khusus untuk MBG. Artinya, hampir setengah anggaran pendidikan terserap untuk MBG, sehingga ruang fiskal untuk infrastruktur pendidikan, kesejahteraan guru, peningkatan kualitas belajar, dan fasilitas sekolah menjadi terbatas.
“Kenapa kita perlu menganalisa rencana belanja 2026? Karena belanjanya masih bertumpu pada MBG. Dengan penyerapan rendah, apalagi jika penerimaan negara mengalami shortfall, potensi tekanan makroekonomi menjadi besar,” ujar Riandy.
Hal ini disampaikan dalam CSIS Media Briefing bertajuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026: Menimbang Janji Politik di Tengah Keterbatasan Fiskal, secara daring, Senin (18/8).
Riandy menerangkan pada periode pertama Presiden Prabowo, eksperimen fiskal diarahkan ke kanal baru, yakni MBG. Berbeda dengan era awal Joko Widodo, di mana belanja infrastruktur sudah mapan dan efek ekonominya dinilai cepat terasa.
Hal tersebut dikhawatirkan menghambat pertumbuhan ekonomi karena penyaluran MBG masih menghadapi berbagai hambatan. Padahal, dalam kondisi ketidakpastian global, belanja negara berfungsi sebagai shock absorber atau peredam guncangan.
"Karena program MBG masih dibangun dari nol, belanja pemerintah justru berisiko menjadi faktor yang menahan pertumbuhan ekonomi, bukan menjadi shock absorber," kata Riandy.
Ia menegaskan potensi dorongan pertumbuhan hanya bisa tercapai jika penyaluran MBG lancar. Namun, faktanya saat ini realisasi anggaran baru mencapai 7,1% dari total Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp71 triliun pada semester I 2025.
Di satu sisi, anggaran pemerintah yang sudah dialihkan dari pos infrastruktur dan perjalanan dinas tidak tersalurkan, sehingga konsumsi pemerintah justru terkontraksi.
"Realisasi anggaran MBG masih jauh sekali. Sementara duit sudah ditarik dari infrastruktur dan dari perjalanan dinas. Jadi, wajar ekonomi kita masih terkontraksi dari sisi government spending," ucapnya.
Peneliti CSIS itu mendorong pemerintah perlu segera meninjau kembali strategi belanja negara yang saat ini terlalu bertumpu pada program populis Presiden Prabowo. Riandy berpendapat fokus belanja pada MBG yang masih bermasalah dari sisi penyaluran (disbursement) membuat pertumbuhan ekonomi tidak cukup terdiversifikasi.
“Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang,” ujarnya.
Menurutnya, sambil membenahi hambatan realisasi MBG, sebagian anggaran sebaiknya dialihkan kembali ke pos-pos lain yang sebelumnya sudah dipangkas, seperti perjalanan dinas maupun infrastruktur. “Di saat ekonomi sedang sulit, yang terpenting uangnya cepat mengucur ke masyarakat, bukan justru ditahan di kantong pemerintah,” tegasnya.
Dengan diversifikasi belanja, ketika realisasi MBG tersendat, masih ada sumber pertumbuhan lain yang bisa menjadi penopang.
“Masalahnya sekarang, pemerintah seolah-olah all-in hanya untuk MBG,” tutupnya. (Ins)
UNGGAHAN di media sosial menarasikan bahwa Menteri Agama RI Nasaruddin Umar akan memaksimalkan zakat dan wakaf untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), tidak benar atau hoaks
Pernyataan Dadan itu menjawab adanya narasi yang menyebut anggaran besar MBG berasal dari pos pendidikan, pos kesehatan dan pos bantuan pemerintag di lembaga kementrian lain.
Tindakan itu dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai langkah evaluasi menyusul ditemukannya kasus-kasus menonjol.
Badan Gizi Nasional (BGN) meluruskan informasi yang beredar terkait besaran alokasi anggaran dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak memangkas anggaran pendidikan sebagaimana narasi yang beredar di publik.
PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya berdampak pada asupan gizi siswa, tetapi juga menggerakkan ekonomi warga di sekitar lokasi pelaksanaan.
Ruang fiskal pemerintah kian terbatas seiring meningkatnya posisi utang hingga Rp9.637,90 triliun per 31 Desember 2025 atau setara 40,46 persen terhadap produk domestik bruto (PDB)
Danantara menargetkan negosiasi utang proyek KCIC Whoosh dengan China selesai kuartal I-2026. Skema restrukturisasi disebut masih 50:50.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmennya untuk mengelola ekonomi secara pruden dengan mengusung kebijakan yang pro-pertumbuhan dan pro-rakyat. T
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti penghapusan 11 juta peserta PBI BPJS dan meminta penonaktifan tidak mendadak serta disertai sosialisasi.
DPR RI memastikan layanan kesehatan peserta PBI BPJS tetap berjalan selama 3 bulan ke depan meski ada penonaktifan, dengan iuran ditanggung pemerintah.
Tidak semua rumah akan diganti atapnya, karena program ini hanya menyasar rumah-rumah yang masih menggunakan atap seng untuk kemudian diganti dengan genteng berbahan batuan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved