Rabu 03 Maret 2021, 21:15 WIB

Penurunan Suku Bunga Perbankan Diperkirakan Berlanjut

Despian Nurhidayat | Ekonomi
Penurunan Suku Bunga Perbankan Diperkirakan Berlanjut

Antara/Muhammad Iqbal
Layanan perbankan

 

KEPALA Ekonom Permata Bank Josua Perdede mengatakan, penurunan suku bunga kredit perbankan diperkirakan akan cenderung terus berlanjut dalam jangka pendek. Hal ini merespon penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang turun sebesar 125 bps sepanjang tahun lalu serta penurunan sebesar 25 bps pada bulan Februari 2021. 

Menurut Josua, kombinasi dari tren penurunan suku bunga acuan BI serta bauran kebijakan BI untuk mendorong ketersediaan likuiditas juga mendorong penurunan suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) yang pada ujungnya akan mendorong penurunan suku bunga kredit. 

"Dengan tren suku bunga PUAB yang cenderung menurun, mengindikasikan kondisi likuiditas perbankan membaik. Sehingga diharapkan dapat mendorong penurunan cost of fund yang selanjutnya akan mendorong penurunan suku bunga kredit. Hal ini akan mendorong transmisi pelonggaran kebijakan moneter yang menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek," ungkapnya kepada Media Indonesia, Rabu (3/3). 

Meskipun demikian, Josua menilai bajwa penurunan suku bunga kredit akan sangat dipengaruhi juga oleh kondisi perkembangan risiko kredit perbankan dalam jangka pendek ini. 

Mengingat peningkatan risiko kredit yang terindikasi dari kenaikan NPL (Non-performing Loan), perbankan dikatakan berpotensi mendorong peningkatan risk premium dan disaat yang bersamaan, permintaan kredit pun cenderung masih lemah di tengah aktivitas perekonomian yang belum pulih secara signifikan. 

"Bila dilihat secara historikal, penurunan suku bunga perbankan cenderung tidak memengaruhi Net Interest Margin (NIM) secara signifikan, hal ini terbukti bahwa di tengah penurunan suku bunga sejak 2014, baik net interest income maupun NIM perbankan cenderung stabil hingga 2019," kata Josua. 

Baca juga : Pefindo Pertahankan Peringkat Obligasi Bank DKI Rating "idAA-"

"Namun, pada tahun 2020, net interest income cenderung mengalami penurunan, yang disebabkan oleh penurunan pertumbuhan kredit perbankan, diikuti oleh kenaikan Dana Pihak Ketiga yang signifikan sehingga kemudian mendorong penurunan NIM perbankan," sambungnya. 

Ke depan, Josua menuturkan bahwa sejalan dengan ekspektasi pemulihan ekonomi yang berimplikasi pada peningkatan permintaan kredit dan risiko kredit tertmitigasi dengan baik, maka penurunan suku bunga kredit cenderung diperkirakan akan terus berlanjut untuk mendorong proses pemulihan ekonomi nasional.  

Dihubungi secara terpisah, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, penurunan suku bunga kredit secara perlahan memang terjadi di beberapa bank. Namun, dia menilai bahwa besar penurunan belum seperti yang diharapkan 

"Kecepatan dan besarnya penurunan (suku bunga kredit) belum sebagaimana diharapkan terutama bila dibandingkan dengan kecepatan dan besarnya suku bunga acuan BI yang sdh turun," ujar Piter. 

Piter menilai, penurunan suku bunga kredit juga belum diikuti dengan penyaluran kredit yang sampai saat ini masih mengalami pertumbuhan yang negatif. 

"Saya berpendapat memang saat ini kita tidak bisa memaksakan kepada bank untuk menyalurkan kredit," pungkasnya. (OL-7)

Baca Juga

ANTARA/Fikri Yusuf

Perekonomian Nasional Berhasil Lewati Masa Tersulit

👤Despian Nurhidayat 🕔Minggu 09 Mei 2021, 07:15 WIB
Membaiknya perekonomian Indonesia didasarkan pada catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini telah berada di kisaran 4,1% hingga...
Dok.Bank DKI

Fitur Scan To Pay Bank DKI Permudah Masyarakat Bayar Zakat

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 09 Mei 2021, 07:05 WIB
Dukungan layanan perbankan secara non-tunai ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam menyalurkan sebagian rezekinya untuk beramal...
Ilustrasi

Pengenaan Sanksi Tak Hilangkan Kewajiban Perusahaan Bayar THR  

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 08 Mei 2021, 23:00 WIB
"Pengenaan sanksi administratif tidak menghilangkan kewajiban pengusaha atas denda keterlambatan membayar THR Keagamaan sebagaimana...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Gelombang Ketiga Covid tidak Terhindarkan di India

Varian baru ialah faktor penyebab di balik gelombang kedua yang ganas di negara itu dengan kemungkinan lebih banyak muncul.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya