Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
PENURUNAN suku bunga kredit perbankan tercatat masih berjalan lambat setelah suku bunga acuan (BI-Rate) dipangkas sebesar 100 basis poin (bps) sejak September 2024.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Agustus 2025, Rabu (21/8), mengatakan suku bunga kredit tercatat sebesar 9,16% pada Juli 2025 atau masih relatif sama dengan bulan sebelumnya.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyebut penurunan BI Rate memang belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi penurunan suku bunga kredit di perbankan. Menurutnya, ada beberapa alasan utama mengapa transmisi kebijakan moneter ini cenderung lambat.
Pertama, perbankan masih harus menjaga bunga simpanan agar dana pihak ketiga (DPK) tidak lari ke instrumen lain yang lebih menarik seperti SBN atau SRBI. Karena itu, meskipun BI Rate turun, bank tidak bisa serta-merta memangkas bunga deposito terlalu agresif.
"Akibatnya, biaya dana tetap relatif mahal dan bank berhati-hati menurunkan bunga kredit," ungkap Josua saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (21/8).
Kedua, selama periode suku bunga tinggi, bank tidak banyak menaikkan bunga kredit (hanya sekitar +30 bps ketika BI Rate naik 225 bps pada 2022–2023). Artinya, kata Josua, bank menyerap sebagian beban sendiri.
Saat BI Rate turun, bank juga memilih menurunkan suku bunga kredit secara bertahap agar margin keuntungan tidak tertekan terlalu cepat. "Dengan kata lain, bank mengatur keseimbangan antara menjaga profitabilitas dan mendukung kredit," jelasnya.
Ketiga, pertumbuhan kredit per Juli 2025 hanya sekitar 7% yoy, di bawah target 8–11%. Josua menyebut dunia usaha banyak menggunakan dana internal ketimbang berutang, sementara permintaan konsumsi juga belum pulih kuat.
"Dalam kondisi ini, bank tidak tergesa-gesa menurunkan bunga karena khawatir permintaan tetap tidak naik signifikan, sehingga yield kredit justru berkurang tanpa diimbangi volume pinjaman," paparnya.
Keempat, perbankan masih mencermati risiko eksternal, seperti ketidakpastian global akibat perang dagang AS dan gejolak geopolitik. Menurutnya, BI sendiri menyebut bank bersikap lebih hati-hati dalam menyalurkan pinjaman.
Hal ini membuat bank memilih strategi konservatif dalam pricing kredit, agar jika risiko meningkat (misalnya NPL naik), bank masih punya bantalan dari bunga yang relatif lebih tinggi.
Kelima, bank besar lebih fleksibel dalam menurunkan bunga kredit karena likuiditas kuat, sementara bank menengah–kecil lebih berhati-hati. Selain itu, adanya gap antara BI Rate dan LPS Rate sejak 2022 juga mempengaruhi strategi suku bunga deposito, sehingga efeknya ikut menahan penurunan bunga kredit.
"Jadi, meski BI Rate sudah empat kali turun tahun ini, perbankan memilih gradual dalam menurunkan bunga kredit. Pertimbangan utama mereka adalah menjaga dana tetap masuk, mempertahankan margin laba, dan mengantisipasi risiko kredit serta ketidakpastian global," ungkap Josua.
"Namun dengan tekanan BI dan pemerintah, tren penurunan bunga kredit kemungkinan akan berlanjut secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan," pungkasnya. (H-3)
KEPALA Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menegaskan kinerja intermediasi perbankan tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga.
Perpres No 4/2026 berpotensi mengubah paradigma penilaian aset tanah yang selama ini banyak digunakan sebagai agunan kredit.
Inflasi Januari 2026 naik ke 3,55%. Bank Indonesia menahan BI Rate di 4,75% jelang Ramadan dan Idulfitri, seiring tekanan musiman dan nilai tukar rupiah.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi per November 2025 mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 17,98%, diikuti oleh kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,67%
Melemahnya daya beli masyarakat berimbas pada penurunan permintaan barang dan jasa di berbagai sektor.
Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Hosianna Evalita Situmorang mengamini keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI di 4,75%
BANK Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate hari ini 17 Maret 2026 sebesar 4,75 persen untuk memperkuat rupiah
Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026.
Penukarkan Uang Baru Melalui Mobil Keliling Bank Indonesia
BRI menyiapkan uang tunai sebesar Rp25 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Lebaran 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, pengendalian nilai tukar rupiah dari dolar Amerika Serikat masih dapat dilakukan dengan baik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved