Selasa 23 Februari 2021, 18:18 WIB

Dampak Pandemi Covid-19, Utang Negara Naik 8%

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Dampak Pandemi Covid-19, Utang Negara Naik 8%

Antara/Raisan Al Farisi
Pengendara motor melintas mural terkait new normal di masa pandemi covid-19.

 

PANDEMI covid-19 menyebabkan perekonomian melambat dan rasio utang negara meningkat. Kondisi tersebut menggambarkan instrumen fiskal di setiap negara bekerja untuk menahan dampak pandemi.

Sejumlah negara maju yang memiliki pasar utang dan pasar keuangan terbaik, bahkan saat ini bahkan mengalami kenaikan rasio utang publik lebih dari 20%. Itu berbeda dengan Indonesia yang rasio utangnya berkisar 38%, atau hanya naik sekitar 8%.

"Defisit dari APBN tiap negara meningkat dan rasio utang publik otomatis meningkat," tutur Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers virtual, Selasa (23/2).

Baca juga: Menkeu: Anggaran PEN 2021 Dinaikkan Jadi Rp699,43 Triliun

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, negara-negara maju seperti Amerika Serikat mengalami peningkatan rasio utang hingga 22,5%. Lalu, Inggris naik 22,7%, Jepang meningkat 28,2% dan Italia naik 27%. Sedangkan, rasio utang publik Tiongkok naik 9,1%, Indonesia 8% dan Singapura 1,2%.

Menurut Ani, sapaan akrabnya, kenaikan rasio utang publik di setiap negara merupakan peristiwa luar biasa. Sebab, hanya terjadi dalam satu tahun, yakni sejak covid-19 mewabah.

"Artinya, kebijakan fiskal dipakai luar biasa sangat kuat. Namun kalau dilihat dari hasilnya, kontraksi ekonomi masih lebih dalam," jelas Bendahara Negara.

"Ini menggambarkan betapa APBN mengalami pukulan double. Penerimaan drop dan belanja melonjak tinggi untuk penanganan covid-19, serta meminimalkan dampak kerusakan pada ekonomi," imbuh Ani.

Baca juga: Pemerintah Pastikan PP 7/2021 Untungkan Pelaku UMKM

Dia mengatakan, kondisi fiskal di berbagai negara menunjukkan pandemi covid-19 menyerang tanpa pandang bulu. Mulai dari negara maju, negara berkembang, hingga negara miskin. Selain itu, pandemi covid-19 tidak hanya mengguncang aspek kesehatan, namun juga merusak perekonomian.

Kendati demikian, optimisme di beberapa negara mulai tampak pada 2021, tak terkecuali Indonesia. Ani menyebut pemerintah optimistis bahwa pemulihan ekonomi terjadi sejak kuartal III 2020, yang tecermin dari beberapa sektor.

Tercatat, kinerja ekonomi Indonesia pada 2020 minus 2,19%. Capaian itu membaik dari kuartal II 2020 yang tercatat minus 5,32%. Kemudian, pada kuartal III 2020 minus 3,49%.(OL-11)

Baca Juga

Antara/Dhemas Reviyanto

Optimisme Pasar Membaik, Sektor Consumer Goods Bisa Pulih

👤Fetry Wuryasti 🕔Selasa 02 Maret 2021, 23:20 WIB
Perkembangan digitalisasi bisa menjadi booster bagi pasar saham, khususnya dalam hal distribusi. Seperti langkah perusahaan untuk IPO...
Antara/Asep Fathulrahman

Sebagian Besar BLT UMKM Digunakan untuk Modal Kerja

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Selasa 02 Maret 2021, 22:59 WIB
54 persen UMKM agrikultur yang menjadi responden mengungkapkan volume produksi turun di atas 30...
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Target Penggunaan 400 Ribu Mobil Listrik Bisa Menghemat Rp3,5 T

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 02 Maret 2021, 21:58 WIB
Dunia akan mengarah pada fuel economy yang berbasis pengurangan emisi karbon, sehingga secara bertahap Pemerintah menyiapkan regulasi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya