Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Politika Institute: Tidak Ada Beda Data Antar Instansi dan BPS

Mediaindonesia.com
24/6/2020 08:39
Politika Institute: Tidak Ada Beda Data Antar Instansi dan BPS
Direktur Politika Institute, Zainul A. Sukrin.(Ist)

BADAN Pusat Statistik (BPS) telah merilis data stok beras yang diperoleh melalui metode Kerangka Sampling Area (KSA). Data yang dirilis pada Mei 2020 itu menyebutkan stok beras akhir Juli 2020 sebesar 8,13 juta ton, sedangkan bulan sebelumnya akhir Juni 7,54 juta ton beras dan stok beras akhir Mei surplus 8,48 juta ton.

Tentang hal ini, Direktur Politika Institute, Zainul A. Sukrin menilai bahwa metode yang digunakan oleh pemerintah dalam mengolah data akan menghasilkan data yang cenderung sama atau tidak akan berbeda. Sebut saja data pemerintah tentang pangan tidak akan sendiri-sendiri alias data Kementan tidak akan berbeda dengan data BPS.

"Semua data lembaga-lembaga pemerintah tetap mengacu pada data hasil metode KSA BPS sehingga sudah menerapkan satu data" kata Zainul di Jakarta, Rabu (24/6). 

Zainul menambahkan bahwa cenderung keliru bila ada yang menyebutkan bahwa data BPS dengan lembaga pemerintah berbeda. Secara khusus Zainul menilai dengan menggunakan metode KSA, data BPS terutama pangan selalu diupdate tiap bulan dan stok beras bergerak antar bulan karena setiap bulan ada produksi dan ada konsumsi. 

Dari pengamatannya, penghitungan angka surplus dengan menghitung stok beras akhir Juni 2020 ditambah produksi Juli 2020 dan dikurangi konsumsi Juli 2020 sehingga didapat stok beras akhir Juli 2020.

Namun Zainul melihat diskursus data pangan dan atau pertanian selama pandemi atau ada yang mengkritik data pertanian cenderung diakibatkan oleh konflik politik yang terjadi di dalam koalisi rezim pemerintah Joko Widodo. Dan isu di sektor pangan sangat strategis untuk diolah, karena memiliki basis yang strategis yaitu petani dan buruh tani. 

"Penilaan tentang perbedaan data pangan cenderung dibingkai oleh nalar praktik politik (politis), bukan ilmu politik sebab semua partai politik saat ini sudah fokus untuk menjadi pemenang di Pemilu 2024," tegasnya.

"Semua partai politik memperebutkan sektor pertanian untuk kepentingan Pemilu tahun 2024," tambah Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia ini.(OL-09)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Deri Dahuri
Berita Lainnya