Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Politik Dinasti Membunuh Demokrasi

29/1/2024 21:00

DEMOKRASI di Indonesia sedang berada di ujung tanduk. Presiden Joko Widodo yang diharapkan membuat demokrasi kita makin sehat dan sempurna, justru melakukan hal sebaliknya.

Alih-alih berlaku netral, Jokowi justru mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa seorang presiden boleh kampanye dan berpihak dalam perhelatan Pemilu 2024. Pernyataan ini sebagai respons karena dirinya berkali-kali dituding cawe-cawe dan melakukan kampanye terselubung untuk mendukung paslon Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Pihak yang membela Jokowi menyebut apa yang dilakukan Jokowi sesuai dengan aturan perundangan dan tidak menyalahi konstitusi. Apalagi, Jokowi yang merupakan ayah dari cawapres Gibran berkali-kali mengeklaim dirinya tidak melakukan kampanye.

Namun, banyak kalangan melihat aksi yang dilakukan Jokowi sudah membahayakan praktik demokrasi yang sudah dirintis sejak 1998. Mereka, para kelompok kritis itu, melihat ada motif Jokowi memperpanjang kekuasaannya. Salah satu caranya dengan mempraktikkan politik dinasti yang dilakukan dengan menekuk aturan.

Walaupun banyak perdebatan, sebenarnya tidak ada yang salah dengan praktik politik dinasti di dalam negara demokrasi. Setiap kepala negara atau pemerintahan berhak menyiapkan penerus trah politik kekuasaan yang pernah dimiliki orang tuanya.

Sebut saja Presiden George W Bush yang merupakan anak mantan Presiden George Bush di Amerika Serikat, atau Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau yang merupakan anak mantan Perdana Menteri Pierre Trudeau. Atau ada klan Kennedy yang pada era 1960-an begitu berpengaruh di Amerika Serikat.

Namun, apa yang dilakukan para penguasa di negara demokrasi tersebut untuk memperpanjang dinasti politik tidak menjadi polemik, apalagi sampai merusak tatanan demokrasi di negara masing-masing. Pasalnya, semua proses perebutan kekuasaan dilakukan dengan cara yang konstitusional dan tidak melanggar etika politik yang berlaku di negara tersebut.

Sedangkan apa yang dipertontonkan di negeri ini untuk meneruskan trah politik justru terlihat sebaliknya. Bukannya memberikan proses kaderisasi dan pematangan berpolitik, politik dinasti dijalankan dengan rupa-rupa cara, bahkan hingga menabrak etika. Yang selalu didengungkan ialah apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Sebatas itu.

Upaya meraih kekuasaan dengan meneruskan kepada keluarganya tidak lagi dilandaskan pada ukuran pantas atau tidak pantas. Bahkan, jika perlu aturan bernegara yang sejatinya dibuat untuk menjaga kualitas demokrasi di negara ini, bisa ditekuk-tekuk sesuai selera hati.

Harus tegas kita katakan bahwa politik dinasti hari-hari ini di negeri ini sudah menjadi embrio rusaknya demokrasi. Ia meupakan pangkal yang bisa mengantarkan demokrasi kita di ujung kematian, bila langkah-langkah itu tidak dihentikan.

Serangkaian aksi dan pernyataan yang disampaikan pucuk pimpinan di negeri ini tersebut menjadi tanda penolakan, atau setidaknya lemahnya komitmen, terhadap aturan main demokrasi. Bahkan, langkah-langkah itu kian hari kian menunjukkan upaya mengabaikan dan berusaha melemahkan, bahkan mematikan demokrasi.

Sungguh tragis, presiden yang dipilih untuk menduduki posisi tertinggi di negara ini melalui proses yang nyaris tanpa cela, ternyata berupaya membangun politik dinasti yang merusak demokrasi. Kita mesti tegas menolak segala upaya serius pelemahan demokrasi yang pencapaiannya tidak sekadar dengan cucuran keringat dan air mata, tapi juga cucuran darah dan hilangnya nyawa. Setop aksi brutal merusak demokrasi.



Berita Lainnya
  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.