Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Para Penabrak Demokrasi

24/1/2024 21:00

PRINSIP jujur dan adil alias jurdil sebagai ruh pesta demokrasi yang demokratis dalam pemilu kali ini menghadapi tantangan luar biasa berat. Jurdil kian jauh panggang dari api lantaran ulah pejabat negara, termasuk presiden, yang di mulut selalu berkata netral tapi nyatanya berpihak dalam bertindak.

Presiden Joko Widodo berulang kali menyatakan dirinya netral. Dia pernah bilang mendukung semua kontestan pemilu, termasuk tiga pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Dia juga menyatakan tak cawe-cawe. Akan tetapi, semua itu hanya katanya. Faktanya, dia semakin kentara bersikap tidak netral, kian terang menunjukkan keberpihakan, makin sering cawe-cawe.

Benar bahwa ketidaknetralan, keberpihakan, dan cawe-cawe Jokowi tak dilakukan secara telanjang. Ia dikamuflase, dibungkus, dengan beragam siasat, bermacam kiat, termasuk dengan menunggangi pelaksanaan program dan kebijakan pemerintah. 

Bagi empunya kewarasan, sulit untuk meyakini bahwa kunjungan Jokowi ke daerah yang semakin sering akhir-akhir ini hanya tugas kenegaraan. Bagi pemilik akal sehat, sukar memercayai bahwa kegiatan remeh-temeh untuk sekelas presiden yang gencar dilakukan Jokowi sekadar pelaksanaan kewajiban sebagai pemimpin pemerintahan. 

Teramat sulit, sangat sukar, untuk mengiyakan begitu saja gelontoran bantuan sosial yang semakin deras dan diberikan langsung oleh Jokowi semata bentuk kepedulian pemimpin kepada rakyatnya. Harus tegas kita katakan, itu semua kampanye terselubung buat paslon yang dia dukung, siapa lagi kalau bukan Prabowo-Gibran.

Like presiden like para pembantunya. Itu pula kelakuan sejumlah menteri yang juga petinggi partai politik sekaligus pendukung dan pengusung Prabowo-Gibran. Mereka kasat mata mengapitalisasi jabatan yang diberikan rakyat demi kepentingan sepihak. Mereka membajak program dan kebijakan negara untuk mendulang suara.

Lebih kasar lagi, mereka bersemangat mengelabuhi rakyat. Yang paling kentara ialah dengan mengatakan bahwa bansos adalah bantuan Jokowi, bapaknya Gibran. Padahal, bansos bersumber dari APBN, dari uang rakyat, bukan uang presiden, apalagi uang pribadi Jokowi.

Memang tak salah kata Jokowi, kemarin, bahwa presiden dan menteri boleh berkampanye asal tidak menggunakan fasilitas negara. Pertanyaannya, apakah selama ini Jokowi dan para pembantunya tidak memakai fasilitas negara untuk berkampanye secara terselubung? Bagaimana pula kita bisa memastikan mereka melakukan itu dalam kapasitas sebagai pejabat atau juru kampanye, dan tidak sedang cuti sebagai mana ketentuan? Harus lantang kita suarakan bahwa dalam hal ini, Jokowi dan para pembantunya tak jarang menabrak aturan.

Memang benar kata Jokowi bahwa presiden punya hak politik atau mendukung paslon tertentu. Persoalannya, kenapa dia berjanji akan netral dan menginstruksikan seluruh jajarannya untuk netral?

Pejabat, apalagi presiden, memang dimungkinkan berpihak tetapi semestinya mereka mengabaikan keberpihakan itu. Mereka seharusnya berlaku sebagai negarawan, berdiri di atas semua golongan, tak berpihak sana sini, apalagi merestui dan membantu anak sendiri. 

Kalau syahwat untuk terus menggenggam kekuasaan kelewat tinggi, bersikaplah kesatria. Jangan pura-pura menjadi pemimpin ideal dengan berkata netral, tetapi sejatinya tak netral. Jangan bilang tidak menggunakan fasilitas negara, tetapi memanfaatkan jabatan dan sumber daya negara untuk kepentingan elektoral. Jangan sok jujur, sok adil, sok menjaga demokrasi, tetapi sebenarnya merusak karya agung reformasi ini. 



Berita Lainnya
  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.