Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Mempertaruhkan Wibawa Negara

16/1/2024 05:00

PEMILU merupakan instrumen suksesi kepemimpinan yang lumrah dalam sebuah negara demokrasi. Sesuai asasnya, ia harus berlangsung jujur dan adil sesuai kaidah dan prinsip demokrasi. Namun, yang terjadi di negeri ini, saat ini, prinsip-prinsip itu secara terang-terangan coba diterabas dan dilanggar.

Lihat saja bagaimana pembagian bantuan sosial alias bansos yang memang hak rakyat tidak mampu ditunggangi untuk kepentingan politik elektoral. Belum lagi pengerahan sejumlah aparatur sipil negara (ASN) untuk berpihak kepada salah satu pasangan calon. Begitu juga berbagai tekanan terhadap sejumlah kepala desa yang tidak mau mendukung salah satu pasangan kandidat.

Praktik-praktik kotor itu menggugah akal sehat dan juga nurani. Semangat reformasi, terutama upaya untuk menegakkan demokrasi yang dengan susah payah diperjuangkan, kini kembali coba dirobohkan secara sadar demi memenangi sebuah kontestasi bernama pemilu.

Bukan hanya lewat aparatusnya, bahkan Presiden Jokowi pun ikut cawe-cawe. Ia, misalnya, mengusulkan format debat capres diubah. Padahal, ini merupakan domain Komisi Pemilihan Umum (KPU), bukan wewenang Presiden. Apalagi, usulan itu ia sampaikan setelah Prabowo Subianto, yang berpasangan dengan Gibran Rakabuming, terpojok dalam debat kedua dari kandidat lainnya, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo.

Jika mau dirunut, indikasi adanya potensi kecurangan ini memang sudah tercium sejak awal ketika Mahkamah Konstitusi (MK) mengubah putusan tentang Ketentuan Syarat Usia Capres-Cawapres guna memuluskan langkah Gibran, yang notabene merupakan putra Presiden, untuk mencalonkan diri sebagai cawapres. Itulah pokok awal masalahnya.

Dengan segala kewenangan yang masih dimiliki sebagai kepala negara, bagaimana mungkin Jokowi dapat menjaga netralitasnya di tengah kontestasi yang diikuti oleh putranya tersebut? Meski berkali-kali menyatakan bersikap netral, ucapannya ternyata jauh panggang dari api. Komentarnya soal debat capres ialah salah satu contohnya.

Namun, harus diingat, segala potensi kecurangan dalam pemilu, apalagi melibatkan aparatus pemerintah, secara tidak langsung telah menjatuhkan kewibawaan negara. Apa gunanya ada UU Pemilu jika berbagai ketentuan dalam pasal-pasalnya dirusak sendiri oleh pemerintah? Publik kini bisa menilai bagaimana kontestasi ini berjalan. Bila melihat bagaimana aparatur negara dengan masif dikerahkan, bisa menjadikan pemilu ini dapat disebut sebagai kontestasi yang paling brutal selama era Reformasi.

Oleh karena itu, agar absah dan legitimate

, penyelenggaraan pemilu kali ini harus diselamatkan. Kontestasi harus dikembalikan ke jalurnya yang benar. Tugas itu tidak hanya ada di tangan KPU dan Badan Pengawas Pemilu, tetapi justru di pundak rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Masyarakat, terutama mereka yang mencintai demokrasi, harus mengawal dan menjaga agar kontestasi ini berjalan sesuai koridor yang telah ditetapkan. Jangan takut untuk melaporkan segala bentuk kecurangan, termasuk praktik politik uang.

Intinya, jangan biarkan pesta demokrasi ini dirusak oleh tangan-tangan durjana. Sebagai salah satu negara demokrasi terbesar, apa kata dunia jika pemilu di Indonesia menghalalkan segala cara? Mau ditaruh di mana wibawa negara ini? Mari selamatkan pemilu.



Berita Lainnya
  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal