Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Netralitas Jokowi Jangan Cuma Omong-Omong

09/1/2024 21:00

BERULANG kali Presiden Joko Widodo mengimbau aparat negara, perangkat pemerintahan dari tingkat bawah hingga level pusat untuk menegakkan netralitas. Begitu pun tidak kalah juga seringnya imbauan Jokowi kepada penyelenggara pemilu, baik Komisi Pemilihan Umum maupun Badan Pengawas Pemilu, di seluruh tingkatan untuk menjaga prinsip netralitas.

Sialnya, berulang kali pula Jokowi menerabas prinsip-prinsip ketidakberpihakan tersebut. Jokowi akhirnya tidak kuat juga untuk menjaga komitmen netralitas yang diucapkannya. Ia berulang kali menyiratkan keberpihakan untuk pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Inilah faktanya dari Presiden yang akan mengakhiri tugasnya 10 bulan lagi. Banyak yang mengkritik etika dan fatsun politik sudah tidak lagi menjadi patron utama. Etika hampir tidak lagi menjadi pegangan.  Begitu pula, klaim netralitas yang selama ini digembar-gemborkan, semakin jauh dari realitas. 

Padahal, Jokowi tidak ada kaitannya sama sekali dalam kontestasi demokrasi saat ini, selain berstatus orang tua dari seorang calon wakil presiden, dan urusan memastikan pemilu berlangsung sukses. Posisi Jokowi bukanlah pengurus partai yang merupakan peserta pemilu. Jokowi bukanlah peserta pemilihan presiden atau masuk dalam tim pemenangan salah satu pasangan calon. 

Justru tugas utama Jokowi saat ini, sebagai kepala negara, harus memastikan pemilu berjalan dengan lancar, serta berlangsung jujur dan adil tanpa adanya intervensi apa pun. Memastikan para peserta pemilu bertarung dengan leluasa dalam koridor demokrasi, tanpa ikutan cawe-cawe atas kompetisi para kandidat.

Sayangnya, ternyata Jokowi tidak kuasa menahan hasratnya untuk membela paslon nomor urut 2, usai debat capres yang digelar Minggu (7/1). Jokowi ikutan berkomentar merespons jalannya debat calon presiden dengan dua kaca mata.

Di satu sisi, ia mengkritik debat malam itu tidak memperlihatkan substansi dari visi tiap capres dan malah cenderung saling menyerang. Presiden mengatakan debat seperti itu kurang memberikan pendidikan dan edukasi bagi masyarakat. Apalagi, itu sudah menyerang secara personal dan tidak ada hubungannya dengan substansi debat.

Di sisi lain, Jokowi dengan terbuka membela Prabowo yang keteteran menjelaskan kinerjanya sebagai menteri pertahanan yang dalam debat itu memang terus dibombardir oleh capres nomor urut 1 Anies Baswedan dan nomor urut 3 Ganjar Pranowo.

Melihat kenyataan tersebut, bahkan Jokowi pun ingin format debat diubah. Tentu publik tidak ingin alasan permintaan Jokowi itu karena didasari keberpihakan,  dilatar belakangi keinginan untuk membuat format debat yang nyaman bagi paslon nomor urut 2.

Pembelaan Jokowi kian kentara ketika ia setuju dengan argumentasi Prabowo yang menolak membuka data dengan alasan rahasia negara. Padahal, persoalan yang diperdebatkan sama sekali bukan ranah rahasia negara. Sejumlah data bahkan diunggah oleh laman resmi Kementerian Pertahanan.

Sinyal keberpihakan Jokowi sebetulnya mulai diperlihatkan ke publik saat melakukan pertemuan empat mata bersama tiga ketum parpol pengusung pasangan Prabowo Gibran, yakni Prabowo sebagai Ketua Umum Partai Gerindra, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, dan Ketum PAN Zulkifli Hasan dalam tiga hari berturut.

Hal inilah yang membuat publik bertanya-tanya tentang makna dan komitmen netralitas yang terus ia instruksikan. Kenyataan yang terjadi saat ini terlihat bahwa klaim netralitas jokowi semakin jauh dari realitasnya. Kalau dalam bahasa Prabowo dalam debat terakhir, hanya 'omon-omon', sekadar bagus dalam omongan.

Padahal, ketidaknetralan Jokowi sangat mungkin dibaca para bawahan untuk habis-habisan untuk ikut menyokong kemenangan paslon yang didukung Presiden, yakni Prabowo-Gibran.

Dan, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Jokowi punya kuasa dan otoritas terhadap sejumlah lembaga dan badan-badan strategis yang mampu mengintervensi bahkan mengubah jalannya pemilu 2024. Negeri ini butuh pemimpin autentik, yakni pemimpin yang satu kata dengan perbuatan.



Berita Lainnya
  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal