Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Bansos bukan Bantuan Jokowi

05/1/2024 05:00
Bansos bukan Bantuan Jokowi
Ilustrasi MI(MI/Duta)

PROSES penyaluran bantuan sosial (bansos) yang dilakukan para pejabat pemerintahan, termasuk Presiden Joko Widodo, kembali menuai kontroversi. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan yang juga Ketua Umum PAN mengeklaim bantuan sosial yang dibagi-bagikan pemerintah merupakan andil Jokowi.

Sebagai ucapan terima kasih kepada Jokowi, Zulhas pun kemudian mengajak masyarakat agar memilih Gibran Rakabuming Raka yang merupakan anak Jokowi pada Pilpres 2024. Selain itu, Wakil Ketua TKN Prabowo Subianto-Gibran tersebut berargumen pendistribusian bansos tidak boleh ditunda karena kesulitan yang tengah dihadapi masyarakat.

Pernyataan Zulhas tentu saja membuat banyak kalangan, baik politisi maupun nonpolitisi, meradang. Sebut saja capres Anies Baswedan, politikus PDI Perjuangan Arya Bima, hingga Alissa Wahid, putri Presiden Abdurrahman Wahid. Mereka secara keras mengingatkan terkait klaim Zulhas itu dengan menegaskan bahwa bansos maupun BLT yang disalurkan Jokowi dan elite-elite pendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 2 merupakan uang APBN dari rakyat Indonesia.

"Bansos itu dibeli dengan uang pajak. Uang pajak itu didapat dari rakyat Indonesia. Bansos itu dari rakyat Indonesia yang sudah bisa bayar pajak kepada mereka yang belum sejahtera," tegas Anies Baswedan.

Pernyataan para tokoh publik tersebut hanya menguatkan bahwa bansos maupun BLT yang dibagi-bagikan saat ini dan tahun-tahun sebelumnya bukan karena kebaikan satu-dua pejabat. Apalagi, pada awal memerintah di periode pertama, Jokowi pernah mengkritik bansos. Kata Jokowi waktu itu, bantuan sosial dalam bentuk uang tunai membuat rakyat manja dan tidak mendidik.

Sebenarnya pembagian bansos dan BLT kepada masyarakat miskin bukan sesuatu hal yang haram. Apalagi, daya beli masyarakat saat ini begitu lemah karena sejumlah hal, termasuk kekurangkreatifan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan dan membuka lapangan pekerjaan baru.

Tentu, pembagian bansos dan BLT bagaikan seteguk air di tengah rasa dahaga masyarakat akan kesejahteraan dan kehidupan yang layak.

Dipastikan BLT El Nino, bansos beras, bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Nontunai (BPNT), dan Program Indonesia Pintar yang bakal digulirkan pemerintah pada tahun ini merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi publik luas.

Yang dipersoalkan ialah penyaluran bansos ini justru dimanfaatkan elite politik penguasa sebagai alat tukar kekuasaan untuk ajang elektoral Pilpres 2024. Bahkan, para elite ini memunculkan kesan bansos bakal dihapus apabila capres tertentu tidak terpilih pada pilpres nanti. Ini tentu menyesatkan publik.

Para elite seharusnya sadar, dengan semakin banyaknya alokasi bansos yang dialirkan pemerintah, justru semakin menunjukkan apabila pemerintahan ini tidak kreatif mengatasi persoalan kemiskinan dengan membuka lapangan pekerjaan. Pemerintah saat ini justru terkesan semakin memelihara kemiskinan.

Kalaupun Jokowi dan elite-elite pendukung Prabowo-Gibran ingin bansos dan BLT segera disalurkan, biarlah Kementerian Sosial dengan jajarannya yang mengurus langsung distribusinya. Menteri Sosial Tri Rismaharani yang paling bertanggung jawab dalam pengalokasian bansos ini malah seperti tidak terihat batang hidungnya.

Seharusnya Presiden bertugas mengatasi kemiskinan secara makrostruktural, bukan sampai membagi-bagikan bansos langsung hingga ke warga. Jokowi juga tak perlu khawatir Menteri Risma memolitisasi bansos. Kecuali, sejak awal penyaluran bansos ini memang dirancang demi meningkatkan elektabilitas calon yang amat dekat dengan kekuasaan ketimbang menjadi jaring pengaman sosial bagi masyarakat miskin.



Berita Lainnya
  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal