Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Atasi Segera Pengungsi Rohingya

15/12/2023 05:00

GELOMBANG kedatangan warga etnik Rohingya dari Myanmar kini mulai bikin pening kepala pemerintah Indonesia. Pening karena ekonomi Indonesia saat ini masih belum pulih seusai dihantam pandemi covid-19 dua tahun lamanya sejak 2020.

Berdasarkan data Badan Pengungsi PBB (UNHCR), sejak November 2023 saja, sudah 1.200 jiwa warga Rohingya yang datang ke Indonesia, utamanya di Aceh. Jumlah itu belum ditambah dengan pengungsi yang sudah datang sebelumnya, baik dari Myanmar maupun negara lain.

Indonesia tidak sendirian, Malaysia dan Thailand juga sedang dipusingkan menghadapi gelombang pengungsi yang terus berdatangan. Mereka umumnya berasal dari Afghanistan, Somalia, dan Myanmar.

Indonesia dipaksa menerima kedatangan mereka sekalipun roda ekonomi belum sepenuhnya pulih berputar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Agustus 2023, ada 7,86 juta orang yang masuk kategori angkatan kerja menganggur. Begitu pula dengan jumlah orang miskin, yang pada Maret 2023 tercatat 25,9 juta orang.

Boro-boro memikirkan warga negara lain, memikirkan warga negaranya sendiri saja sudah bikin pening kepala. Pembukaan lapangan kerja baru dari industri masih ngosngosan. Belum lagi berbagai bantuan sosial yang terus dilakukan pemerintah supaya warganya bisa tetap makan dan hidup layak, butuh dana jumbo.

Dalam menghadapi para pengungsi, beda tentunya jika ekonomi sedang berputar normal sebelum pandemi. Pemerintah punya uang kas yang cukup di APBN, yang bisa dialokasikan buat para pengungsi dari negara lain. Pemerintah masih bisa memberi tempat penampungan dan makan sehari-hari bagi para pencari suaka tersebut.

Semua langkah itu diambil pemerintah semata-mata atas dasar kemanusiaan. Terlebih, Indonesia hingga kini belum ikut meratifikasi Konvensi 1951 PBB tentang Status Pengungsi.

Jika ikut meratifikasi konvensi itu seperti halnya Amerika Serikat dan Australia, Indonesia bakal terkena kewajiban memberi pekerjaan dan rumah kepada para pengungsi, sebagaimana tertuang dalam Pasal 17 dan Pasal 21 Konvensi 1951 PBB. Alhasil, Indonesia pun akan masuk ke daftar negara penerima para pencari suaka.

Namun, Indonesia cukup tahu diri. Karena belum menjadi negara dengan ekonomi mapan, belum berani pula Indonesia menerima warga negara lain untuk mencari penghidupan di sini.

Akan menjadi irasional jika Indonesia berani meratifikasi konvensi PBB tersebut. Hanya segelintir negara maju yang berani meratifikasinya, dan kita pun harus mengapresiasinya.

 

Atas dasar asas kemanusiaanlah, Indonesia saat ini menempatkan diri menjadi negara persinggahan bagi para pengungsi menuju negara tujuan mereka. Indonesia masih punya nurani, tidak mau menutup mata akan perjuangan mereka mencari penghidupan yang layak bermodal perahu dari negara mereka.

Asas kemanusiaan itu juga sebagai implementasi dari konstitusi, ayat 2 Pasal 28G UUD 1945, yakni pengakuan terhadap tiap orang yang mencari suaka. Bantuan untuk bertahan hidup kepada imigran terus diberikan pemerintah, bahkan sejak 1970-an. Pulau Galang menjadi saksi hidup betapa murahnya hati rakyat Indonesia kepada saudaranya dari negara lain.

Namun, dengan situasi ekonomi saat ini yang masih morat-marit, kita mengapresiasi langkah tegas pemerintah yang mulai membatasi kedatangan para pengungsi, sekalipun hanya untuk mampir. Kita pertanyakan peran negara-negara yang meratifikasi Konvensi 1951 PBB itu, di mana tanggung jawab mereka usai menandatangani konvensi itu.

Di sini kita perlu memberi dorongan moral kepada pemerintah untuk berani menggugat tanggung jawab para negara maju tersebut, termasuk Australia, karena persinggahan para pengungsi di Indonesia saat ini ialah untuk menuju 'Negeri Kanguru' tersebut.

Mereka harus segera memberi kepastian atas nasib para pencari suaka agar Indonesia tidak terus kena getahnya.

Kita juga dorong pemerintah membuktikan dugaan indikasi tindak pidana perdagangan orang lintas negara dalam gelombang pengungsi Rohingya kali ini. Jika benar adanya, selamanya Indonesia tidak akan pernah lepas dari kepusingan soal pengungsi.

Karena itu, pemerintah harus segera membereskan ini dalam semangat kolaborasi, baik dengan negara lain maupun lembaga PBB. 

 



Berita Lainnya
  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.