Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Rasional Memilih Pemimpin

13/12/2023 05:00

KAMPANYE sebagai salah satu tahapan Pemilu 2024 telah dimulai sejak 28 November lalu hingga 10 Februari tahun depan. Selama masa itu, para kandidat capres/cawapres mempromosikan diri mereka, termasuk untuk menyampaikan visi dan misi, baik lewat alat peraga seperti spanduk dan baliho, kampanye dialogis, maupun forum debat.

Pada masa prakampanye, masyarakat sebetulnya juga sudah disuguhi informasi mengenai calon pemimpin mereka, baik lewat pemberitaan di media cetak, elektronik, maupun digital. Dari situ mereka bisa mempelajari latar belakang dan sepak terjang tiap-tiap kandidat di masa lalu.

Selain mempelajari rekam jejak, masyarakat juga perlu memperhatikan saat mereka berkampanye. Masa ini boleh dibilang masa krusial, baik untuk para kandidat maupun calon pemilih. Bagi kandidat atau calon pemimpin, inilah kesempatan untuk meraih dan mendapat simpati dari masyarakat. Begitu juga sebaliknya, sebagai pemegang kedaulatan, rakyat berhak menguji calon pemimpinnya, baik melalui dialog tatap muka, maupun lewat forum debat.

Dari situ, rakyat, selaku calon pemilih, dapat menilai kapasitas, kapabilitas, maupun integritas calon pemimpin tersebut. Maka, dalam fase ini, rasionalitas pemilih akan sangat menentukan. Sah-sah saja memilih pemimpin berdasarkan emosionalitas. Akan tetapi, memilih pemimpin cuma bermodalkan emosionalitas akan cenderung terjebak, bahkan bisa tertipu.

Pemilu ialah sarana untuk menjaring calon yang akan memimpin bangsa ini untuk lima tahun ke depan. Ini bukan perkara main-main. Terlebih, tantangan ke depan akan semakin kompleks.

Rakyat, secara kolektif ataupun personal, dapat memilah-milah di antara calon pemimpin siapa yang kira-kira mampu mewujudkan kepentingan bersama sebagai sebuah bangsa, bukan demi kepentingan partai atau segelintir orang. Semua itu bisa dilihat dan dipelajari dari rekam jejak, rekam karya, kemampuan menumbuhkan harapan di masa depan dari tiap-tiap kandidat. Bagaimana integritas dan kapastias intelektual mereka, bagaimana cara mereka menemukan solusi, serta bagaimana kemampuan mereka untuk meninggikan martabat bangsa di antara bangsa-bangsa di dunia mesti diselisik dalam-dalam.

Setiap kandidat tentu juga punya visi dan misi yang akan ia lakukan jika terpilih nanti. Namun, bagaimana kemampuan mereka menyampaikan dan meyakinkan gagasan itu realistis dilaksanakan, akan terlihat di masa kampanye ini, terutama di forum dialog atau debat.

Jika selama masa kampanye hanya mengandalkan gimik, sebaiknya masyarakat mengabaikan model calon pemimpin semacam ini. Yang kita butuhkan sosok pemimpin yang mampu menjawab tantangan ke depan secara sungguh-sungguh, bukan ahli gimik yang pintar memoles bungkus, tapi dangkal dalam hal isi.

Debat perdana yang digelar tadi malam setidaknya bisa memberikan gambaran bagaimana para kandidat akan membawa Indonesia ke depan. Perang melawan darurat korupsi, penegakan hukum yang masih compang-camping, hingga pelaksanaan demokrasi yang kian goyah, ialah sebagian tantangan yang mesti dibereskan. Jawaban-jawaban dan cara kandidat menyelesikan persoalan sudah dijawab tiap-tiap kandidat. Kini penilaian ada di tangan pemilih.

Sekali lagi perlu ditekankan, masa kampanye amatlah krusial. Ia mestinya menjadi ajang proses pendalaman rasional untuk memilih. Bukan saatnya pilihan terhadap kandidat presiden didasarkan pada fanatisme kosong, tetapi rasionalitas yang didasarkan program-program yang telah mereka tawarkan.

Program-program yang disusun dan dijabarkan berdasarkan problem bangsa masa kini dan ke depan itulah yang patut dinilai dan didalami. Bukan karena kemampuan basa-basi atau dansa-dansi untuk sekadar meraih simpati.



Berita Lainnya
  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal