Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Luka Demokrasi Mengawali Pesta

10/11/2023 21:00

GALIBNYA sebuah pesta diawali dengan kegembiraan. Semua gembira menyambutnya. Terlebih pesta itu sudah lama ditungutunggu. Namun, berbeda dengan pesta demokrasi yang bernama Pemilihan Presiden 2024, jauh sebelumnya sudah diwarnai berbagai syak wasangka yang berpangkal dari pernyataan Presiden Joko Widodo yang akan cawe-cawe menyiapkan penerusnya sebagai presiden RI periode 2024-2029.

Belakangan Jokowi meralatnya. Dia berjanji tidak akan cawe-cawe dan menyerahkannya kepada partai politik. Tak hanya itu, Jokowi juga mempersilakan kepada rakyat untuk memilih secara bebas pasangan calon presiden/calon wakil presiden yang dikehendakinya.

Meski mantan Gubernur DKI itu berjanji tidak akan cawe-cawe dalam pilpres, rakyat tidak begitu saja percaya. Sinyal-sinyal dalam berbagai kesempatannya semakin kuat mengarahkan dukungan kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk menjadi capres. Ternyata benar, diam-diam Jokowi menyiapkan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, untuk menjadi cawapres yang akan mendampingi Prabowo Subianto.

Padahal, pada 4 Mei lalu, Jokowi secara tegas menyatakan anaknya belum pantas menjadi cawapres karena pertama, umurnya belum mencukupi baru 35 tahun dan kedua baru dua tahun menjabat Wali Kota Solo. “Yang logis saja,” tandas Jokowi. 

Ibarat pepatah Jawa, esuk dele sore tempe (pagi kedelai, sore tempe), sikap Jokowi pada 22 Oktober lalu berubah total. Dia menyatakan tidak akan ikut campur urusan anaknya karena anak sudah dewasa. “Tugas orangtua hanya mendoakan dan merestui,” ujarnya. Lidang memang tidak bertulang.

Puncaknya, putusan kontroversial Mahkamah Kontitusi yang diketuai Anwar Usman memberikan karpet merah kepada keponakan tersayangnya, Gibran Rakabuming Raka, untuk melenggang pada kontestasi pilpres. Lembaga yang disebut sebagai ‘penjaga konstitusi’ ini memberikan norma baru berpengalaman sebagai kepala daerah meski batas usia tetap tak berubah, 40 tahun. Tak pelak MK pun berubah sebutannya sebagai Mahkamah Keluarga.

Putusan MK itu ternyata prosesnya benar-benar bermasalah ketika Mahkamah Kehormatan MK menyatakan Ketua MK Anwar Usman dinyatakan melakukan pelanggaran berat kode etik hakim MK yang tak sesuai dengan Sapta Karsa Hutama, yakni ketidakberpihakan, integritas, kecakapan, kesetaraan, indepedensi, kepantasan, dan kesopanan.

Tak jauh beda dengan sang paman, bak anjing menggonggong kafilah berlalu, Gibran juga maju terus dalam pencalonan. Sang paman pun emoh hengkang dari MK. Putusan MK memang bersifat fi nal dan mengikat, tetapi proses pengambilan putusannya cacat moral dan etika.

Alhasil, budaya malu di negeri ini memang jauh panggang dari api. Tak heran apabila prosedural demokrasi masih menjadi patokan utama ketimbang substansi dan etika berdemokrasi. Jangan kaget bila faktanya sejumlah partai politik tidak melahirkan negarawan, tetapi pencoleng uang negara.

Setelah capres/cawapres mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum, pada Senin (13/11), KPU akan menetapkan pasangan capres/cawapres. Pesta terus berlanjut di atas luka demokrasi dan hukum. Jangan biarkan luka semakin menganga dan bernanah karena pemilu yang tidak jurdil oleh elite-elite yang sedang menikmati candu kekuasaan.



Berita Lainnya
  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal