Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Terhempas Indonesia Emas

30/10/2023 05:00

BANGSA ini telah menggantungkan cita-cita yang teramat tinggi, setinggi langit, ingin menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat atau kelima di dunia. Cita-cita mulia itu dibalut dengan nama Visi Indonesia Emas 2045 atau Wawasan Indonesia Emas 2045.

Tekad tersebut diharapkan terealisasi pada 2045 sekaligus menandai 100 tahun kemerdekaan RI. Ketika itu terwujud, bangsa ini patut berbangga karena akhirnya bisa sejajar dengan negara-negara besar di tingkat global setelah satu abad lepas dari penjajahan.

Akan tetapi, kita juga harus bersiap untuk kecewa, mengubur mimpi itu dalam-dalam. Baru-baru ini, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) justru memprediksi Visi Indonesia Emas terancam kandas.

White paper bertajuk Dari LPEM bagi Indonesia: Agenda Ekonomi dan Masyarakat 2024-2029 mengungkapkan Indonesia belum memenuhi syarat menuju negara berpendapatan tinggi layaknya Tiongkok, Malaysia, Korea Selatan, Thailand, dan Brasil ketika mereka pertama kali masuk kelompok negara berpendapatan tinggi.

Disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang stagnan di kisaran 5%, pertumbuhan kredit per tahun tidak pernah melampaui 15%, dan rasio pajak terhadap PDB hanya 9,9% (belum menembus 11%) dalam satu dekade terakhir.

Penyebab lain gagal terealisasinya Visi Indonesia Emas 2045 ialah faktor kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) yang terus merosot hingga kini berada di level 18%. Belum lagi faktor kemiskinan ekstrem yang persisten pada angka 1,7%.

Jika melihat laporan kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2023, tujuh provinsi pertambangan, yaitu Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat, mengalami peningkatan kemiskinan sepanjang September 2022-Maret 2023.

Padahal, pemerintah kerap menggembar-gemborkan bahwa hilirisasi pertambangan bakal mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Faktanya angka kemiskinan di tujuh provinsi yang kaya akan sumber daya alam nikel gagal teratasi.

Semua situasi di atas semakin memperkuat betapa Indonesia terus membentur langit-langit kaca (glass ceiling) ke mana pun melangkah. Seolah ada hambatan tak terlihat yang menghalangi Indonesia untuk mencapai kemajuan.

Oleh karena itu, Kepala LPEM FEB UI Chaikal Nuryakin menekankan pentingnya upaya memitigasi ekonomi apabila Indonesia gagal menjadi negara maju. Strategi ini mesti dipersiapkan oleh para kandidat yang akan bertarung di Pemilu Presiden 2024 untuk meneruskan tongkat estafet dari Joko Widodo.

Pemerintahan saat ini dinilai terlalu terfokus pada 20% kelompok terbawah dan 10% kelompok teratas, tetapi justru melupakan kelompok kelas menengah yang porsinya 40%-80% dari total penduduk. Dampaknya pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi stagnan.

Karena itu, harus dilakukan penguatan terhadap kalangan kelas menengah Indonesia yang angkanya terbilang besar, yakni 40%-80% dari total penduduk Indonesia. Jika di 2045 tidak menjadi negara maju, negeri ini masih mempunyai kelas menengah yang kuat dan produktif.

Mereka yang sedang mengikuti kontestasi 2024 juga dituntut berkomitmen pada peningkatan kesetaraan kesempatan, akses pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, pekerjaan sektor formal, infrastruktur dasar, serta jaminan sosial menyeluruh.

Mitigasi lain yang wajib dipersiapkan ialah perbaikan faktor-faktor produksi yang ketimpangannya sudah sebegitu nyata. Mulai dari tanah, tenaga kerja, energi, modal, hingga teknologi.

Persoalan birokrasi dan perizinan yang bertele-tele serta merajalelanya korupsi baik di pusat maupun di daerah juga harus jadi prioritas tiga pasang calon presiden-calon wakil presiden. Kedua persoalan itu, suka tidak suka, ikut membuat pertumbuhan ekonomi sulit meroket.

Publik tentu mengingatkan agar pemimpin jangan cuma berhenti pada menulis mimpi. Pemimpin juga harus mampu menyusun strategi, cekatan dalam beraksi, dan sigap dalam menyediakan amunisi. Tanpa itu semua, yang tercipta bukanlah Indonesia Emas, melainkan Indonesia cemas.



Berita Lainnya
  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.