Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG ayah berinisial RA (36) menjual bayi laki-lakinya berusia 11 bulan kepada pasangan suami istri (pasutri) di Tangerang dengan nilai Rp15 juta, yang mana uangnya akan digunakan untuk judi online.
Kasus tersebut terungkap setelah ibu korban, RD, melapor ke polisi. Setelah hampir sebulan bayi laki-lakinya tersebut dijual sang suami, akhirnya RD bisa bertemu kembali dengan anaknya itu.
Judi online memang cenderung membuat ketagihan. Seseorang apabila sudah ketagihan terhadap sesuatu, ia akan merasa tidak nyaman jika tidak melakukan hal tersebut, bahkan sehari saja.
Baca juga : Suami Perokok Bisa Sebabkan Istri Lahirkan Bayi dengan Berat Badan Rendah
“Awalnya coba-coba karena penasaran, tapi malah kebablasan karena self-control-nya tidak jalan. Orang yang ketagihan sudah pasti memiliki emosi yang tidak matang," papar Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Diana Savitri Hidayati, seperti dikutip dari situs UMM.
"Karenanya, munculah irrational beliefes atau pikiran yang tidak logis yang membuat seseorang melakukan perilaku tersebut,” lanjutnya.
Contoh irrational beliefes dalam kasus judi online ini ialah orang tersebut berpikir akan menang jika bermain sekali lagi. Pikiran tersebut akan terus muncul dan tanpa sadar bisa membuat ketagihan.
Baca juga : Polisi Tangkap Pasutri Buang Bayi di Aceh
Uang untuk berjudi akan diusahakan dengan berbagai macam cara demi berjudi, seperti yang dilakukan oleh RA yang tega menjual bayinya ke orang lain demi judi online.
1. Mengakui Kecanduan Judi
Hal pertama yang bisa kamu lakukan ialah mengakui dan menerima kenyataan bahwa kamu sedang mengalami kecanduan judi. Itu menjadi langkah awal untuk mengobati kecanduan judi online.
Baca juga : Gerakan Generasi Z Jaga Anak Muda Agar tak Terjerumus Judol
Kemudian kamu bisa merenungi dampak negatif judi bagi kehidupan, seperti memiliki banyak utang, kesehatan fisik memburuk, dan lainnya.
2. Mencari Pemicu
Pemicu untuk melakukan judi online harus diketahui agar kamu mengetahui cara mengatasi kecanduan judi online. Pemicunya bisa berupa situasi, emosi, atau pikiran tertentu yang mendorong kamu untuk berjudi.
Baca juga : Produsen Pakaian Bayi Tanah Air Terus Berinovasi
Contohnya, apabila pemicu judi online ialah stres atau bosan yang membuat kamu sangat ingin berjudi, kamu bisa belajar mengelola stres atau mengisi waktu luang dengan aktivitas positif.
3. Menghindari Hal-hal yang Membuat Ingin Berjudi
Kamu sebaiknya menghindari situasi atau aktivitas yang dapat memicu keinginan untuk berjudi. Seperti hindarilah situs web tertentu, kegiatan, atau bahkan orang-orang yang terkait dengan perilaku perjudian yang pernah kamu lakukan. Kamu bisa memblokir akses ke berbagai platform penyedia judi.
4. Dukungan dari Orang Terdekat
Saat dalam kondisi yang sedang terpuruk atau tidak baik-baik saja, dukungan dari orang terdekat dan keluarga sangat penting. Oleh karena itu, kamu bisa mencari dukungan dari teman, keluarga, hingga orang yang kamu percaya.
Mencurahkan perasaan hingga berbagi pengalaman kepada orang yang peduli pada kamu bisa memberikan dorongan emosional hingga rasa tenang.
5. Melepaskan Kendali Keuangan
Sebaiknya untuk sementara waktu, kamu bisa melepaskan kendali keuangan kamu. Kamu bisa meminta bantuan orang yang kamu percaya untuk mengatur seluruh uang kamu untuk sementara waktu.
Sehingga kamu tidak tergiur untuk menggunakan uang tersebut untuk berjudi kembali dan kamu bisa berfokus untuk mengatasi kecanduan judi yang dialami.
6. Cari Bantuan Tenaga Profesional
Selain bisa berbagi pengalaman dan menceritakan perasaan yang dirasakan kepada orang terdekat dan keluarga, jika dirasa masih belum cukup, kamu juga bisa mencari bantuan tenaga profesional untuk mengatasi kecanduan judi online tersebut. (M-4)
Seiring bertambahnya usia kehamilan, ukuran bayi yang semakin besar akan memberikan tekanan mekanis pada pembuluh darah di sekitar panggul.
Bidan menjadi garda terdepan yang memastikan perempuan mendapatkan layanan kesehatan sejak masa kehamilan, persalinan, hingga perawatan bayi dan balita.
Banyak yang mengira masa remaja adalah fase pertumbuhan tercepat manusia. Ternyata, bayi tumbuh jauh lebih pesat.
Karakteristik rambut seseorang, baik pada bayi maupun orang dewasa, ditentukan oleh faktor internal dan eksternal yang jauh lebih kompleks daripada sekadar dicukur.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Jakarta menegaskan bahwa mencukur rambut bayi tidak berkaitan dengan pertumbuhan rambut yang lebih lebat.
Pemberian ASI dan susu formula mungkin hal yang kelihatannya sepele. Namun kita harus menjamin kebutuhan ibu yang memiliki bayi dalam situasi bencana.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved