Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
KELUARGA menjadi rumah tempat kembali bagi anak. Karakter anak juga dibangun di dalam keluarga. Namun, bagaimana jika anak-anak sejak dini dihadapkan pada kejadian kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan bahkan menjadi saksi kejadian tersebut yang berlangsung di dalam keluarga?
Psikolog Klinis Anak dan Konselor Sekolah Cikal, Winny Suryania, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa apabila anak menjadi saksi dari KDRT yang terjadi di rumah, akan memberikan dampak yang signifikan bagi tumbuh kembangnya secara fisik dan perkembangan emosinya secara jangka panjang.
Berikut beberapa dampak buruk dari anak-anak yang kerap melihat kejadian KDRT, seperti dilansir dari situs Sekolah Cikal.
Baca juga : Anak di Keluarga KDRT Rentan Menormalisasi Kekerasan
1. Perasaan Tidak Aman dan Sulit Untuk Percaya
Sebagai psikolog yang seringkali menangani kasus KDRT yang melibatkan anak sebagai saksi, Winny menyebutkan bahwa secara esensial rumah dan keluarga adalah tempat yang seharusnya paling aman untuk anak dalam berkembang, belajar mengidentifikasi dan membentuk rasa aman dalam dirinya.
“Rumah dan keluarga diharapkan menjadi tempat paling aman untuk anak dalam berkembang, sekaligus tempat mereka belajar mengidentifikasi dan membentuk konsep rasa aman dan nyaman untuk dirinya sendiri," kata Winny.
Baca juga : Indonesia Perlu Undang-Undang Soal Pengasuhan Anak
"Saat anak menyaksikan secara langsung kejadian KDRT di rumah, tentunya hal ini dapat memberi dampak untuk tumbuh kembangnya baik secara fisik maupun perkembangan emosi anak tersebut," lanjutnya.
KDRT yang disaksikan secara langsung, tentu menghilangkan perasaan aman yang seharusnya timbul dan juga menghilangkan kepercayaan bagi anak untuk berkembang dengan pendampingan keluarga.
“Dengan menyaksikan KDRT, anak dapat merasa terancam, takut, cemas dan masalah rasa percaya. Hal ini timbul karena anak merasa tidak aman pada lingkungan terdekatnya dan akhirnya anak dapat membentuk persepsi bahwa lingkungan sekelilingnya pun menjadi tidak aman bagi dirinya. Anak sulit membentuk rasa percaya pada orang lain dan pada akhirnya menciptakan interaksi yang negatif," papar Winny.
Baca juga : Victoria Beckham Ungkap Kerap Jadi Korban Perundungan di Sekolah
2. Timbulnya Perilaku Agresif pada Anak
Dampak selanjutnya ialah timbulnya perilaku agresif pada anak.
"Menyaksikan KDRT di rumah sama saja dengan memasukkan perilaku kekerasan dalam pemikiran anak dalam menghadapi masalah, mengambil keputusan bahkan dalam berinteraksi dengan orang lain," ucap Winny.
Baca juga : JCDC Bantu Penuhi Hak Anak untuk Berkembang Secara Maksimal
"Pada akhirnya anak lebih banyak terlibat masalah dan tidak kurang dapat meregulasi emosinya dengan lebih tepat," lanjutnya.
Winny menyebutkan terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara intimidasi di sekolah dan kekerasan yang dialami atau disaksikan di rumah.
Apabila anak menyaksikan kekerasan di rumah dan tidak terdapat pola intervensi yang dilakukan, dalam diri anak akan timbul perilaku agresif yang membuat dapat menormalkan jenis perilaku negatif yang ia alami dan mendorongnya untuk melakukan hal yang sama untuk mendominasi, melakukan kekerasan atau perbuatan mengintimidasi di sekolah.
“Perlu dipahami bahwa dasar perilaku bullying adalah dominasi, kekerasan dan intimidasi. Ada hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara intimidasi di sekolah dan kekerasan yang dialami dalam situasi di rumah. Anak-anak yang terpapar dengan kekerasan di rumah dan tanpa ada bentuk intervensi apapun lebih memungkinkan mengalami gangguan psikologis yang juga bisa menimbulkan gangguan perilaku," ucap Winny.
"Selanjutnya, anak-anak tersebut dapat menormalkan jenis perilaku negatif yang ia alami dan mendorongnya untuk melakukan hal yang sama untuk mendominasi/kekerasan/mengintimidasi di situasi sekolah," lanjutnya.
Winny menuturkan bahwa orangtua perlu waspada dan memperhatikan kondisi anak. Apabila anak menyaksikan KDRT secara berkelanjutan dan berulang, serta dampak-dampak tersebut, akan membuat anak menjadi depresi dan trauma.
“Dampak-dampak ini juga bisa menjadi bola salju yang kian lama memiliki efek yang lebih besar dan berkepanjangan. Di mana anak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki gangguan kecemasan, depresi, trauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD), dan juga gangguan yang memengaruhi kondisi kesehatan fisik mereka," jelas Winny. (M-4)
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Namun demikian, lansia dengan penyakit kronis tetap dianjurkan berkonsultasi dengan dokter sebelum berpuasa untuk penyesuaian obat dan pola makan.
Secara medis, puasa yang dilakukan dengan pengawasan orang tua dapat membantu anak belajar pola makan teratur dan mengurangi kebiasaan jajan berlebihan.
Lingkungan harus memiliki kepekaan untuk membedakan kapan waktu untuk mendekat dan kapan harus memberi ruang bagi orang yang berduka.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan peran keluarga sebagai ruang yang aman bagi perempuan, sebagai bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Keseimbangan antara karier ibu bekerja dan pengasuhan sangat ditentukan oleh seberapa kuat dukungan keluarga.
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji menekankan bahwa pemulihan pascabencana harus lebih dari sekadar penyediaan kebutuhan material, tetapi juga trauma healing
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved