Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
India menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Bagi para ibu baru di negara itu, ini adalah momen penuh harapan tetapi juga sekaligus kecemasan karena mereka menghadapi masa depan yang tidak pasti.
Pertumbuhan ekonomi yang fenomenal dalam beberapa dekade terakhir memiliki efek transformatif pada keluarga di India. Rata-rata perempuan di negara itu sekarang hanya memiliki dua anak, tidak seperti di era 1960-an yang umumnya memiliki enam anak.
Tetapi, banyak orang India masih sulit untuk mendapatkan pekerjaan, perumahan, dan pasokan listrik. Kondisi ini merupakan tantangan yang akan menjadi lebih akut dalam beberapa dekade mendatang.
"Ayah kami tidak bisa mendidik kami. Kami lima bersaudara dan dia satu-satunya anggota yang berpenghasilan," kata Sita Devi, kepada AFP di Desa di Bihar, negara bagian termiskin di India. Perempuan berusia 22 tahun itu tidak bekerja dan buta huruf. Ia memiliki dua putri dan kini tengah mengandung anak ketiganya.
Bersama suaminya yang berpenghasilan kecil sebagai buruh, Devi menghabiskan hari-harinya untuk merawat anak-anaknya yang berusia dua dan empat tahun, melakukan pekerjaan rumah tangga, dan mengobrol dengan tetangga, yang sebagian besar memiliki tiga hingga lima anak.
Devi berencana untuk menjalani ligasi tuba, metode kontrasepsi favorit di India. "Saya berharap dapat mendidik anak-anak kami agar mereka hidup sejahtera," ujarnya.
Harapan untuk memiliki keturunan yang berpenghidupan lebih baik juga disampaikan Talwar, yang baru melahirkan anak pertamanya. “Kami akan menghadapi banyak masalah. Kami masih belum memiliki rumah sendiri dan harus memikirkan biaya sekolah anak kami,” kata perempuan berusia 29 tahun itu.
Bayi itu sekarang menjadi penghuni ke-10 di rumah sederhana yang mereka tempati bersama kakek, nenek, orang tua, paman, dua bibi, dan dua sepupunya.
Namun, bagi ayah sang anak, Siddapa Talwar, 30, yang menjalankan bisnis grosir es balok bersama ayah dan saudara laki-lakinya, jenis kelamin bayi membuatnya tidak terlalu cemas. "Saya punya anak laki-laki. Itu membuat saya bahagia. Saya tidak khawatir tentang masa depannya. Selama dia memiliki tempat bernaung dan dapat menyelesaikan sesuatu untuk dirinya sendiri, dia akan baik-baik saja."
Di India, anak perempuan sering dianggap sebagai beban keuangan karena sistem mas kawin mengharuskan orang tua mengeluarkan banyak uang ketika putri mereka menikah.
Tapi, bagi Indu Sharma, warga yang tinggal di bagian utara pegunungan Himachal Pradesh, ia tetap merasa bahagia terlepas apakah anaknya kelak laki-laki atau perempuan. "Masyarakat sedang berubah. Kami juga tiga saudara perempuan, tetapi ayah saya tidak pernah khawatir dia tidak memiliki seorang putra,” ujar ibu muda berusia 25 tahun tersebut.
Namun, dia setuju agar keluarga jangan memiliki banyak anak. "Pemerintah harus pergi ke setiap desa dan menggugah kesadaran warga tentang pentingnya keluarga kecil," katanya. (AFP/M-3)
KETUA Umum Korps HMI-Wati (Kohati) PB HMI, Sri Meisista, menyoroti isu kesetaraan gender dalam organisasi hijau-hitam tersebut.
Rekor keterwakilan perempuan di parlemen Jepang memicu krisis fasilitas. PM Sanae Takaichi bersama 60 legislator ajukan petisi penambahan toilet perempuan.
Battle of the Sexes berlangsung cair dan penuh selingan hiburan.
Ketua KPU, Mochammad Afifuddin, menjelaskan bahwa sinergi ini penting untuk mendorong partisipasi perempuan dalam politik yang lebih baik.
Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin menjelaskan bahwa sinergi ini penting untuk mendorong partisipasi perempuan dalam politik yang lebih baik.
UN Women menilai Polri menunjukkan kemajuan signifikan dalam mendorong budaya institusi yang lebih inklusif dan responsif terhadap perempuan serta kelompok rentan.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Anggia Ermarini mengungkapkan IMW 2026 merupakan bentuk nyata keberpihakan Fatayat NU terhadap penguatan peran perempuan di berbagai sektor kehidupan.
Workshop peningkatan kapasitas ini diikuti lebih dari 100 pelaku UMKM perempuan ibu rumah tangga dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Forum ini menyoroti kontribusi perempuan dalam mendorong resiliensi di komunitasnya, sekaligus memberikan wadah untuk berdiskusi menggaungkan suara perempuan.
Dampak psikologis pascabencana berpengaruh terhadap proses pemulihan sosial dan ekonomi, terutama di wilayah dengan kerentanan ekonomi tinggi seperti di Sumatra.
Keberadaan petugas haji perempuan dinilai krusial untuk menghadirkan layanan terhadap kebutuhan spesifik jemaah perempuan, yang tidak selalu dapat dilakukan oleh petugas laki-laki.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved