Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebuah penelitian baru mengungkapkan tentang kesenjangan pencapaian akademik yang dialami oleh sejumlah anak. Analisis baru mengungkapkan bahwa kesempatan peserta belajar untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari memiliki pengaruh paling besar terhadap kinerja akademik mereka.
Para peneliti mengamati 1,3 juta interaksi siswa di berbagai bidang perangkat lunak pembelajaran yang digunakan oleh 6.946 pelajar mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa. Data yang dikumpulkan mencakup berbagai mata pelajaran dan berbagai format, termasuk kursus daring dan gim edukasi.
"Data menunjukkan bahwa kesenjangan pencapaian berasal dari perbedaan dalam kesempatan belajar dan akses yang lebih baik untuk menutup kesenjangan tersebut," kata Ken Koedinger, seorang psikolog kognitif di Universitas Carnegie Mellon di Pennsylvania, seperti dikutip dari situs Science Alert, Rabu, (26/4).
Baca juga: Dampak Stunting terhadap Kemampuan Kognitif Anak
Dalam penelitian tersebut para peneliti ingin mendapatkan jawaban atas tiga pertanyaan. Pertama adalah berapa banyak latihan yang dibutuhkan untuk mempelajari sesuatu?. Kedua seberapa besar perbedaan kinerja awal antar siswa?. Ketiga berapa banyak siswa berbeda dalam kecepatan belajar mereka?.
Hasilnya diketahui rata-rata, siswa membutuhkan tujuh kesempatan untuk mempelajari sesuatu, meskipun ini bervariasi antar individu. Para peneliti mengatakan mampu terlibat secara aktif selama proses pembelajaran juga sangat penting.
Baca juga: Ini Cara Menjauhkan Otak dari Kepikunan Saat Lansia
"Kita semua telah melihat kasus di mana seseorang mencapai hasil belajar lebih cepat daripada teman sebayanya. Satu siswa mendapat nilai A dalam aljabar, dan yang lainnya mendapat nilai C," kata Keodinger.
Tim mengatakan otak manusia dapat mengambil 'rute mental' yang berbeda untuk mempelajari sesuatu, yang berarti tingkat pembelajaran kita tidak terlalu berbeda. Setiap orang dapat mencapai titik yang sama dengan cara yang paling sesuai dengan pengalaman dan pengetahuannya.
Selain itu, banyak faktor yang berperan dalam pembelajaran, termasuk bagaimana kita beradaptasi dengan kesalahan kita, tetapi para peneliti di balik studi terbaru ingin menekankan bahwa sebenarnya semua anak mampu belajar.
"Tidak peduli siapa Anda, Anda bisa melakukannya. Anda mungkin memiliki lebih sedikit peluang sebelumnya dalam hidup Anda, jadi mungkin lebih sulit pada awalnya daripada bagi orang lain, tetapi Anda akan membuat kemajuan sebanyak orang lain selama Anda konsisten melakukannya," kata ilmuwan sistem Paulo Carvalho dari Universitas Carnegie Mellon.
(Z-9)
Astrologi tidak tergolong sebagai ilmu pengetahuan karena tidak memiliki dasar empiris yang dapat diuji secara ilmiah.
Kecerdasan anak kerap diasosiasikan dengan faktor genetik, padahal para ahli menyatakan bahwa peran nutrisi juga memiliki peran sangat signifikan.
MUSIK ternyata memiliki banyak manfaat untuk anak. Musik berdasarkan intervensi bisa digunakan dalam pengobatan, terapi, atau ada music based intervention.
The Journal of Human Resources menemukan bahwa anak sulung dalam keluarga cenderung memiliki skor Intelligence Quotient (IQ) lebih tinggi.
Sinergi antara AI dan Human Intelligence menjadi kunci untuk menciptakan pendidikan yang relevan, manusiawi, dan berdampak bagi generasi muda.
Sekitar 90% perkembangan otak manusia terjadi di masa balita. Anak memerlukan kecukupan nutrisi dan stimulasi agar proses tersebut berjalan optimal.
Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal ilmiah dan dilansir oleh laman PsyPost mengungkap bahwa misi luar angkasa tidak hanya berdampak pada otot dan tulang manusia
Kolin merupakan nutrisi esensial yang berperan langsung dalam pengaturan suasana hati, daya pikir, dan emosi.
Pernahkah kamu melihat wajah pada rumput, batu, bangunan, atau mungkin benda-benda terdekat di sekitar?
Peneliti berhasil mengembangkan protein sensor untuk melacak sinyal glutamat di otak secara real-time. Penemuan ini membuka tabir cara otak belajar dan memproses memori.
peneliti di Swedia dan Republik Ceko pada 2023 menemukan faktor pemicu risiko demensia bahkan sebelum lahir
Peneliti berhasil memperbaiki fleksibilitas otak tikus model Down syndrome menggunakan molekul pleiotrophin. Temuan ini menantang teori terapi otak harus dilakukan sejak dalam kandungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved