Jumat 28 Oktober 2022, 13:56 WIB

Buah Pikir Buya Syafii Maarif dalam Tiga Buku Baru

Fathurrozak | Weekend
Buah Pikir Buya Syafii Maarif dalam Tiga Buku Baru

MI/Jek
Peluncuran 3 Buku Buya Syafii Maarif

 

Meski Buya Syafii Maarif telah wafat pada Mei tahun ini, tetapi buah pemikirannya akan terus lestari. Terlebih dengan diterbitkannya tiga buku baru dari tulisan-tulisannya. Tiga buku itu berjudul Bulir-bulir Refleksi Sang Mujahid (Kompas), Indonesia Jelang Satu Abad, Refleksi tentang Keumatan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan (Mizan), dan Al-Quran Untuk Tuhan Atau Untuk Manusia? (Suara Muhammadiyah). Ketiganya diterbitkan pertama kali secara bersamaan pada 27 Oktober 2022.

Direktur Eksekutif Maarif Institute Abd. Rohim Ghazali, mengatakan buah pikiran mendiang Buya Syafii merupakan hal yang harus terus digaungkan agar dapat tersampaikan pada publik secara luas. Pemikirannya tentang ke-Islam-an, kebangsaan, kemanusiaan, keberagaman, hingga keadilan sosial menjadi warisan tak ternilai bagi bangsa Indonesia.

"Penerbitan ini, tentu merupakan usaha keras untuk merekam riwayat intelektualisme Buya Syafii yang selama ini berkembang di ruang publik. Kami berharap kehadiran ketiga buku ini dapat memberikan sumbangan dalam memperkaya khazanah Islam Indonesia,” kata Rohim dalam sambutan peluncuran dan diskusi tiga buku karya Buya di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis, (27/10).

Wartawan senior Kompas, Budiman Tanuredjo, melihat sosok Buya adalah pribadi yang selalu gelisah dengan permasalahan bangsa. Dalam kumpulan tulisan Buya di buku Bulir-bulir Refleksi Seorang Mujahid, Buya selalu memiliki diksi yang kuat. Buku itu merupakan kumpulan tulisan Buya di Kompas dalam rentang sedekade (2011-2021), berjumlah sekira 37 judul.

“Dari sisi komunikasi, saya melihat tulisan Buya di buku ini semacam sistem pengingat dini bahaya yang mengancam republik. Pilihan katanya yang indah tapi terus terang dan lugas,” kata Budiman.

Sementara itu guru besar UIN Jakarta, Profesor Musdah Mulia menambahkan, ada sisi yang seharusnya kini lebih ditonjolkan mengenai sosok Buya. Di tengah aparatur negara, politikus, dan figur publik saling berlomba menunjukkan kehidupan mewah, sosok Buya bisa menjadi teladan tentang kesederhanaannya.

“Dia (Buya) adalah sosok yang sangat sederhana. Menurut saya penting hal itu dikemukakan di situasi sekarang ini ketika kehidupan bermewah-mewah ditunjukkan para aparat negara. Dia adalah muzahid, perilaku zuhud-nya (sederhana) kurang banyak diangkat,” kata Profesor Musdah.

Musdah mengatakan, ketika ia membaca buku berjudul Al-Quran untuk Tuhan atau Manusia, dia merasa tergugah. Di buku tersebut, ia juga melihat sebelum Buya mengkritik orang lain, ia juga mengkritik dirinya sendiri.

(M-4)

Baca Juga

Dok. Miles Films

Serial Call My Agent Versi Indonesia Tayang Tahun Depan

👤Fathurrozak 🕔Rabu 07 Desember 2022, 14:15 WIB
Hubungi Agen Gue! merupakan serial yang diadaptasi dari serial Prancis berjudul Dix Pour Cent (Call My...
NASA.org

Siapa yang Berhak Membangun Koloni di Bulan?

👤Devi Harahap 🕔Rabu 07 Desember 2022, 08:55 WIB
Komunitas internasional menyusun Outer Space Treaty of 1967 (OST), dokumen hukum pertama di dunia yang secara eksplisit berkaitan dengan...
Jeff PACHOUD/ AFP

Operasi Pertama oleh Robot Berhasil Dilakukan di Inggris

👤Devi Harahap 🕔Rabu 07 Desember 2022, 07:35 WIB
Robot itu dirancang oleh produsen perangkat medis Inggris CMR...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya