Senin 31 Januari 2022, 08:15 WIB

Lost and Found: Hidup Berdamai dengan Duka

Putri Rosmalia | Weekend
Lost and Found: Hidup Berdamai dengan Duka

MI/Putri
Suasana

 

Berdamai dengan duka tentu bukan perkara mudah. Tak jarang kedukaan bertubi-tubi yang tak diproses dengan baik oleh seseorang membuatnya menjadi depresi.

Pengalaman berjuang keluar dari kedukaan yang membuat depresi itu menjadi inspirasi bagi Nirasha Darusman untuk menulis buku pertamanya, Lost and Found: Sebuah Perjalanan Mengarungi Duka. Dalam buku tersebut ia membagi pengalamannya ketika berjuang melewati badai duka akibat ditinggal selamanya oleh anggota keluarga secara bertubi-tubi.

"Secara jujur, buku ini bercerita tentang kisah dalam mengarungi duka, sesuatu yang menjadi perjalanan seumur hidup," ujarnya, dalam jumpa pers virtual, Jumat, (28/1).

Buku bergenre memoar ini secara artikulatif mengungkapkan perjuangan dan perjalanan panjang seorang Nirasha dalam usahanya untuk bangkit dari kesedihan karena kehilangan 4 anggota keluarga dalam rentang waktu 7 tahun. 

"Aku mau punya dokumentasi yang bisa membuat anak- anak bisa memahami apa yang aku alami waktu itu. Mereka adalah korban ketika aku masih belum sembuh," ujarnya.

Nirasha Darusman, menceritakan, buku tersebut lahir karena sepanjang perjalanan dukanya, ia tak menemukan buku berbahasa Indonesia yang membahas soal kematian dan berduka. Padahal perjalannnya bangkit pasca kedukaan bertubi tersebut memakan waktu hingga sekitar 11 tahun.

"Buku ini menyajikan pendekatan dan sudut pandang lain dari sebuah proses kehilangan dan berduka untuk kemudian dapat saling belajar dan membagikannya kepada sesama. Saya ingin, buku memoir ini dapat membantu teman-teman yang sedang berduka, yang baru saja merasakan pedihnya kehilangan," ujarnya.
 
Halaman demi halaman buku berisi tentang berbagai pelajaran kedukaan yang luar biasa. Mulai dari menghadapi emosi demi emosi, serta kejadian demi kejadian yang dirasakannya dalam naik-turunnya ombak duka. 

Secara total, buku yang pertama kali diterbitkan pada Desember 2021 itu terdiri dari 200 halaman dan 4 chapter. Tidak hanya bercerita tentang pengalaman pribadi, buku ini juga mengungkap dan mengajarkan mekanisme koping. Bagaimana cara untuk keluar dari stres dan trauma, serta berbagi pengalaman dalam mengelola emosi yang terkadang berat untuk dijalani.
 
“Berduka dan kehilangan itu bersifat pribadi, semua orang tidak sama. Saya seringkali mengalami emosi yang sulit dan seringkali tidak terduga. Ada rasa marah, menyesal, bersalah, ketidakpercayaan, sedih yang tak kunjung usai. Tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental, juga fisik. Ini adalah tantangan hidup yang harus saya hadapi, dan saya berupaya untuk mencari mekanisme kopingnya. Agar dapat berfungsi dengan baik untuk kehidupan kedepan," ungkap Nirasha. (M-2) 

Baca Juga

dok: Buku Mojok

Cara Bijak Menjalani Patah Hati

👤Fathurrozak 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 09:00 WIB
Patah hati sampai saat ini secara umum masih dianggap sebagai hal yang trivial dan terkesan...
unsplash.com/Manki Kim

Sejarah Yamamotoyama, Salah Satu Perusahaan Teh Tertua dan Terkaya di Jepang

👤Devi Harahap 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 08:14 WIB
Hingga saat ini, merek Yamamotoyama masih tetap mempertahankan eksistensinya di usia yang sudah menginjak lebih dari 300...
unsplash.com/Franki Chamaki

Studi Ungkap Dampak Lingkungan dari 57.000 Produk yang Dijual di Supermarket

👤Devi Harahap 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 08:02 WIB
Kebaruan dari laporan tersebut terletak pada analisisnya yang berkaitan dengan produk kemasan terdiri dari beberapa bahan, seperti saus,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya