Minggu 25 Oktober 2020, 03:15 WIB

Orang Gila

Adang Iskandar Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend
Orang Gila

Dok. Pribadi
Adang Iskandar Redaktur Bahasa Media Indonesia

PANDEMI covid-19 menghantam hampir seluruh aspek kehidupan manusia, tak terkecuali kesehatan jiwa. Dampak ekonomi, terutama, telah berimbas pada kesehatan jiwa masyarakat. Bertepatan dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2020 pada 10 Oktober lalu, Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa selama pandemi covid-19, hingga Juni 2020, ada 277.000 kasus kesehatan jiwa di Indonesia. Jumlah kasus kesehatan jiwa itu meningkat jika dibandingkan dengan di 2019 yang hanya 197.000 orang.

Kalau bicara gangguan jiwa, orang langsung berasosiasi pada kata gila, atau tepatnya orang gila.

Kata gila dalam KBBI bisa bermakna sebagai berikut, a) gangguan jiwa; sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal), b) tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yang bukan-bukan (tidak masuk akal, c) terlalu; kurang ajar (dipakai sebagai kata seru, kata afektif), d) ungkapan kagum (hebat), e) terlanda perasaan sangat suka (gemar, asyik, cinta, kasih sayang), f) tidak masuk akal.

Jadi, makna kata gila itu sangat variatif, tak hanya merujuk pada gangguan jiwa. Kata-kata itu malah sering dijadikan umpatan (dalam konteks bercanda) di kalangan tertentu, terutama anak muda, dan tidak dianggap sebagai sarkasme. Memang beberapa telinga merasa kata-kata tersebut kasar, tapi ada pula yang menganggap itu lumrah.

Terkait dengan gangguan jiwa, jika mengacu pada makna pertama kata gila di KBBI, frasa-frasa itu pun menurut saya masih kurang patut dilekatkan kepada mereka yang mengalaminya.

Psikiatri atau cabang (spesialisasi) ilmu kedokteran yang berhubungan dengan penyakit jiwa sendiri menyebutkan bahwa kondisi orang dengan gangguan jiwa itu tidak dapat diseragamkan. Karena itu, Undang- Undang tentang Kesehatan Jiwa sampai membuat dua defi nisi, yaitu orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

ODMK dimaknai sebagai orang yang bermasalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa. ODGJ adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna. Akibatnya, ia dapat menderita, dan fungsinya sebagai manusia menjadi terhambat.

Dari dua definisi itu jelas bahwa pelabelan ‘orang gila’ kepada mereka yang kita asosiasikan sebagai orang-orang dengan baju compangcamping, bau, kotor, berambut gimbal tak terurus, setengah telanjang dan bahkan telanjang bulat di jalanan, harus kita ubah. Lebih elok jika kita menyebut mereka orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ. Saya sendiri sering mengoreksi anak saya saat dalam perjalanan kami melihat mereka. Ketika anak saya spontan menyebut ‘orang gila’, saya menjelaskan bahwa frasa itu kurang pantas, sekaligus memberi tahu bahwa sebutan ODGJ lebih patut.

Bahkan, belakangan muncul penghalusan lain untuk frasa ‘orang gila’, yakni penyandang disabilitas mental.

Jadi teringat kisah Rasulullah SAW ketika para sahabat menyebut ada ‘orang gila’ sedang mengamuk. Rasulullah SAW bersabda, “Orang ini bukan gila. Ia sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang benar-benar gila?”

Nabi menjelaskan bahwa ‘orang gila’ ialah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan, yang membusungkan dada, berharap akan surga Tuhan sambil berbuat maksiat, yang kejelekannya membuat orang tidak aman, dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya.

Baca Juga

MI/ Tangkapan layar diskusi publik virtual Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Selasa (1/12) malam.

Dikhawatirkan Mulai Jenuh, Konser Virtual Perlu Terobosan

👤Fathurrozak 🕔Kamis 03 Desember 2020, 18:00 WIB
Penyelenggara konser virtual di Tanah Air dinilai perlu mencontoh terobosan yang ada di Korea...
Screenshot

Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Ko-Produksi Film Dokumenter

👤Fathurrozak 🕔Kamis 03 Desember 2020, 13:03 WIB
Sebelum berjalan lebih jauh dalam ko-produksi, dproduser harus terlebih dulu menyiapkan dokumen legalnya. Akan lebih baik jika memiliki...
zoom

Ini Cara Mengelola Bisnis yang Beretika

👤Bagus Pradana 🕔Kamis 03 Desember 2020, 12:47 WIB
Menurut Andy Noya buku ini hadir tepat waktu. Ia optimis kalau nilai-nilai pemikiran yang ada di buku ini justru paling tepat yang bisa...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya