Minggu 15 Agustus 2021, 06:30 WIB

Momen Medali Emas

Suprianto Annaf Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend
Momen Medali Emas

Dok. Pribadi
Suprianto Annaf Redaktur Bahasa Media Indonesia

 

MEMBANGGAKAN. Greysia Polii dan Apriyani meraih medali tertinggi. Mereka mempersembahkan prestasi ini untuk negeri. Euforia kemenangan pun menyebar ke seantero negeri, termasuk ke hati politisi. Serta-merta pun mereka memasang strategi. Foto sang juara menjadi latar tempat politisi berdiri. Ya, mereka ikutan melabeli.

Secara tanda, baliho politikus mengirimkan pesan khusus. Foto yang terpampang berkorelasi dengan target politik yang digadanggadang. Implikatur pesannya pun menjadi bebas dan tak terbatas. Suara sumir publik pun meradang tanpa bisa dihadang.

Momen medali memang tidak datang saban hari. Dia hadir seperti oase setelah atlet berjuang. Sang juara pun akan menjadi idola untuk selamanya dikenang. Di momen inilah politisi pun beraksi. Mereka berjibaku agar diri dan partai bisa laku. Asumsi bahwa mereka berkontribusi dengan prestasi atlet menjadi pesan yang hendak dimiliki.

Laku politisi seperti ini kerap saja terjadi. Di setiap kesempatan mereka selalu saja menimpali. Apalagi, momen medali Gresyia dan Apriyani ini bergaung tinggi dan diapresiasi. Pucuk partai pun melihat peluang untuk menjadi fokus semua orang yang memandang. Salahkah mereka?

Sebagai tanda, baliho tidak memiliki hubungan langsung dengan makna di baliknya. Interpretasi masyarakat hanya reaksi saat menanggapi. Karena Greysia dan Apriyani atlet yang dimiliki negeri ini, siapa pun boleh mengapresiasi ketika keduanya meraih medali. Artinya, sah-sah saja politisi memberi apresiasi. Rasa bahagia karena Indonesia meraih satu emas boleh dimiliki siapa saja. Di media sosial seperti Facebook pun, banyak warganet memajang foto pribadi berlatar sang juara: Gresyia dan Apriyani.

Peristiwa bahasa, yakni antara tanda dan makna, di atas muncul karena memanfaatkan momentum dan peristiwa. Antara pengirim dan penerima pesan akan sejalan bila mereka berada dalam pengalaman yang sama. Artinya, tujuan politikus memasang fotonya berlatar belakang Greysia dan Apriyani akan sepaham dengan masyarakat bila keduanya memiliki dasar yang sama. Bila tidak, tentu saja akan berbeda. Di satu sisi, bisa saja politikus dengan tulus ikhlas ingin mengapresiasi Greysia dan Apriyani, tetapi di sisi lain ini sekadar sensasi untuk mendapat simpati.

Setidaknya politikus memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan eksistensi, mereka peduli, dan menyemangati atlet untuk selalu berprestasi. Apriori atas kehadiran pucuk partai di baliho saatnya dibuang jauh-jauh. Apa pun yang mereka perbuat tentunya menghadirkan manfaat. Pajangan spanduk di sepanjang jalan menandakan bahwa mereka masih ada. Masih ingin dipilih walaupun mereka bukan pilihan.

Dari baliho itu, memang tidak ada pesan yang eksplisit. Semua hanya serupa implikatur dengan makna menimpali. Kekuatan interpretasi hanya sebagai respons yang bersifat pribadi. Komentar dari masyarakat muncul sematamata respons spontan bahwa kehadiran baliho petinggi partai ada di luar arena.

Biasanya bendera partai muncul di saat tahapan kampanye, saat milad partai, atau saat rakernas. Di luar itu, akan menjadi ramai dikomentari bila identitas partai muncul di saat nebeng bantuan banjir, di saat vaksinasi, atau mengekor kesuksesan orang lain yang notabene tidak terkait langsung. Namun, itulah, antara momen dan peristiwa menjadi celah untuk semua bisa unjuk bahwa ‘partaiku ada’.

Baca Juga

Dok. Kepustakaan Populer Gramedia

Mengisi Imaji dengan Fiksi Mini

👤Pro/M-2 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 06:35 WIB
SETELAH berhasil menghanyutkan pembaca lewat buku kumpulan fiksi mini pertamanya berjudul Strings Attached, Firnita kembali menghadirkan...
Dok. PT Gramedia Pustaka Utama

Kala Pintu tidak sekadar Saksi Bisu

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 06:30 WIB
Yang menjadi kelebihan novelis satu ini ialah pembaca tidak akan merasa imajinasinya...
Instagram The Simpsons

Dicari, Analis Serial The Simpsons untuk Ramal Masa Depan

👤Irana 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:37 WIB
Analis ini akan dibayar kurang lebih Rp95 juta untuk menonton serial The Simpsons dan film-film spin...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya