Minggu 29 Agustus 2021, 07:00 WIB

Menjadi Komisaris

Ahmad Tarmizi Staf Bahasa Media Indonesia | Weekend
Menjadi Komisaris

Dok. Pribadi
Ahmad Tarmizi Staf Bahasa Media Indonesia

 

BEBERAPA hari lalu, saya bersama teman-teman kampus mengadakan acara reuni virtual. Pertemuan yang berlangsung sekitar 1 jam itu berhasil menebus rasa kerinduan kami setelah hampir empat tahun lamanya tak pernah berjumpa.

Setelah acara selesai, kami lanjutkan dengan mengobrol santai. Satu sama lain saling menyapa, menanyakan kabar, hingga berbagi pengalaman. Ketika seorang teman saya bercerita tentang pengalamannya menjadi staf administrasi di salah satu perusahaan startup, ada satu teman saya menceletuk, “Bismillah komisaris,” sambil tertawa. Seketika obrolan pun menjadi pecah. Hampir semua orang tak ada yang bisa menahan tawa.

Apa yang diucapkan teman saya tadi mengingatkan saya kepada fenomena bahasa yang tengah berlangsung dewasa ini. Di Twitter, misalnya, ketika saya mengetik ‘ bismillah komisaris’ pada penelusuran, rupanya kalimat tersebut banyak digunakan netizen dengan beragam persoalan. Contohnya, ada salah satu akun Twitter meretweet sebuah berita berjudul Anggota DPR Positif Covid-19 Dapat Fasilitas Isolasi Mandiri di Hotel, Biaya Ditanggung Negara. Dalam retweet-nya, ia menulis, ‘ Wajar sih, kan, ngurusin rakyat. Entar kalo mati, siapa yang ngewakilin suara kita lagi? Bismillah komisaris’.

Contoh lainnya juga terdapat dalam sebuah komentar dari unggahan seseorang yang tengah mengeluhkan merek wi-fi rumahan yang ia gunakan, ‘Pake Indihome aja, kak. Bismillah komisaris’.

Tentunya kita mengetahui bahwa bagi umat muslim, kata ‘bismillah’ biasanya diucapkan ketika hendak melakukan suatu pekerjaan. Selain itu, ‘bismillah’ juga digunakan untuk mengawali sebuah harapan. Kata bismillah merupakan integrasi bahasa yang diserap dari bahasa Arab. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bismillah memiliki arti yang serupa dengan terjemahannya, yakni dengan nama Allah.

Dalam ajaran Islam, khususnya mazhab Syafi i, ‘bismillah’ memiliki beberapa hukum ketika diucapkan, di antaranya wajib ketika membaca surah Al-Fatihah di dalam salat, sunah ketika melakukan perkara yang diperhatikan dalam syariat seperti hendak belajar atau mencari nafkah, dan haram ketika melakukan perkara maksiat seperti mencuri atau korupsi.

Namun, kalimat bismillah komisaris yang telah saya contohkan di atas tidak bermakna seperti yang biasanya digunakan dalam kehidupan seharihari. Kalimat tersebut mengalami penyimpangan dari penggunaannya jika dikaitkan dengan makna ilokusi (makna yang bisa diartikan dalam konteks luar bahasa). Fenomena bahasa seperti ini disebabkan adanya makna lain yang disumbangkan konteks di luar bahasa. Bismillah komisaris itu menjadi kalimat, kan? Kalimat doa.

Selain itu, pemahaman antara pengunggah (penutur) dan komuni kan harus selaras. Jika para komunikan tidak mengerti apa yang dimaksud penutur, mungkin saja kalimat bismillah komisaris diartikan sebagai lokusi (makna yang menginformasikan secara jelas), yakni si penutur bercita-cita ingin menjadi seorang komisaris.

Adanya makna ‘tersembunyi’ di balik kalimat bismillah komisaris tentu ada kaitannya dengan suatu peristiwa/kejadian. Usut punya usut, ternyata kemunculan frasa itu merupakan respons masyarakat atas ditunjuknya Abdee Slank menjadi komisaris di salah satu perusahaan pelat merah. Mereka menduga bahwa Abdee Slank diangkat menjadi komisaris karena keterlibatannya dalam mendukung Presiden Jokowi pada Pemilu 2014. Karena itu, mereka melemparkan kritik berupa satire sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap kebijakan tersebut.

Menggunakan satire dalam mengkritik suatu kebijakan tentu tak ada salah atau benarnya sebab sebagaimana fungsinya, bahasa memiliki peran penting dalam menyampaikan suatu gagasan atau pikiran manusia.

Terlepas dari itu semua, sudah menjadi hal yang wajar bahwa setiap kebijakan yang dibuat pemerintah menuai pro dan kontra. Mereka, baik dari golongan pro maupun kontra, tentunya memiliki tujuan mulia, yakni ingin membuat Indonesia lebih maju. Oleh karena itu, kritik semacam ini biarlah tetap ada selagi tidak melanggar hukum. Hal ini akan mewarnai demokrasi yang ada di negeri kita tercinta ini. Bismillah komisaris!

Baca Juga

Unsplash/ Arek Adeoye

Ini Cara Agar Makin Banyak Kalori Terbakar Sambil Berjalan

👤Nike Amelia Sari 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 17:10 WIB
Intensitas berjalan kaki level sedang dicapai ketika detak jantung 64%-76% dari...
MI/ Adam Dwi Putra

Tulisan Tangan Puisi Jokpin Dilelang Demi Yatim Piatu Covid-19

👤Fathurrozak 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 12:20 WIB
Pelelangan akan berlangsung di festival yang digelar Media Indonesia pada 29 Oktober...
Dok. Instagram @amiawards

Lima Fakta AMI Awards 2021

👤Fathurrozak 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 11:15 WIB
Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards ke-24 akan berlangsung 15 November...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Sukses PON Papua 2021 Pemerataan Pembinaan di Seluruh Pelosok Negeri

Sukses prestasi ditandai dengan tercipta banyak rekor meski penyelenggaraan multiajang olahraga terakbar Tanah Air itu digelar di masa pandemi covid-19.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya