Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
DARI begitu banyak peribahasa, ternyata peribahasa 'Tong Kosong Nyaring Bunyinya' menjadi yang terpopuler. Hal itu diungkapkan oleh peneliti dan dosen Sastra Indonesia dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Sailal Arimi.
"Dalam penelitian (disertasi) saya, peribahasa ‘tong kosong nyaring bunyinya’ paling banyak diacu masyarakat," ungkap Sailal saat berbicara dalam Seminar Nasional Kajian Linguistik berjudul ‘Argumentasi Keperibahasaan dan Nalar Kearifannya’ yang disiarkan melalui kanal Youtube Kanal Pengetahuan Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Menurutnya, setiap masyarakat di dunia mempunyai peribahasanya masing-masing dan jika dilakukan survei, dapat ditemukan peribahasa yang paling banyak diacu oleh setiap masyarakat. Hasil tersebut kemudian dapat menggambarkan nalar kearifan (paremiological minimum) masyarakat.
Dari penelitiannya juga diketahui bahwa peribahasa yang paling banyak diacu masyarakat Jepang adalah ‘monyet sekalipun akan jatuh dari pohonnya’." Pesan yang sama seperti peribahasa 'Sepandai-pandai tupai melompat, akan jatuh juga," yang dimiliki Indonesia.
"Dari perbandingan tersebut, kita mengetahui jika peribahasa itu bersifat universal. Peribahasa itu ada dalam pikiran kita. Tidak hanya dalam konteks daerah tertentu, tetapi juga universal yang diwariskan oleh nenek moyang kita," kata Sailal.
Masyarakat umum mengetahui peribahasa sebagai sebuah ungkapan, kalimat atau kiasan yang indah dan estetis, berisi gambaran atas suatu keadaan, mengandung pesan atau makna tertentu, dan digunakan untuk memberikan nasihat.
Namun bagi Sailal, definisi peribahasa lengkapnya adalah media penyimpan kearifan, tempat potongan sejarah atau kebudayaan masyarakat, kemudian sebagai sarana pengungkap, ilustrator, pernyataan, dan alat penasihat yang beharga, lalu untuk menjelaskan masalah yang kompleks, atau sebagai alat komunikasi untuk mendapatkan posisi terhormat dalam masyarakat.
Dinamis
Selain universal, Sailal mengatakan bahwa peribahasa juga bersifat dinamis. Ia menyontohkan, peribahasa 'Mulutmu adalah harimau-mu' adalah salah satu peribahasa yang populer digunakan. Ungkapan ini berarti bahwa perkataan bisa menjadi “senjata tajam” sehingga dapat menyakiti orang lain jika tidak dijaga.
Namun, dewasa ini kita menemukan peribahasa yang sedikit berbeda, yakni ‘Jarimu adalah harimau-mu’. Lantas apa arti dari perbedaan dan perubahan itu? Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan peribahasa itu sendiri?
Sailal mengutarakan, perubahan dari peribahasa ‘mulutmu adalah harimau-mu’ menjadi ‘jarimu adalah harimau-mu’ merupakan contoh dari fenomena dinamika peribahasa.
“Jadi, peribahasa itu (sifatnya) dinamis. Dia (peribahasa) bergeser atau menyesuaikan (dengan) peristiwa sosial tempat dia berada sekarang. Misalnya kalau dulu kita ‘mulutmu harimau itu’ karena kita banyak berbicara, (atau) tidak menggunakan gadget. Tetapi sekarang gadget itu akan menjadi sumber bahaya kalau kita salah pencet. Oleh karena itu, muncul lah peribahasa baru yang disebut dengan peribahasa inovasi,” tutur Sailal. (H-2)
BEBERAPA hari lalu, saya bersama teman-teman kampus mengadakan acara reuni virtual.
MENJALANI isolasi mandiri karena terpapar covid-19 membuat saya menjadi sering mengisi waktu dengan menonton berbagai acara di televisi.
PANDEMI covid-19 seperti tidak ada ujungnya. Tahapan PPKM pun seakan menjadi deretan kebijakan yang tidak mampu membendung dahsyatnya virus covid.
Mengenal budaya 'Hafawah' Arab Saudi. Mengapa melayani tamu adalah seni dari hati bagi masyarakatnya?
MENTERI Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan, kearifan lokal harus dimanfaatkan dalam upaya menjaga kelestarian hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Di tengah arus globalisasi dan penetrasi teknologi digital, muncul kekhawatiran baru, apakah anak-anak Indonesia masih tumbuh dengan akar budaya, alam, dan kearifan lokalnya sendiri?
Kemenekraf/Bekraf melalui Direktorat Film, Animasi, dan Video, Deputi Bidang Kreativitas Media, menyelenggarakan kegiatan Bicara Film: Merayakan Kearifan Lokal Lewat Sinema
Toba Creative Festival tersebut bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Kemenhut menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Papua, atas munculnya kekecewaan terkait pemusnahan barang bukti berupa ofset dan mahkota cenderawasih
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved