Headline

Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.

NASA Berpacu dengan Waktu Cari Pengganti Stasiun Luar Angkasa Internasional

Thalatie K Yani
23/3/2026 10:15
NASA Berpacu dengan Waktu Cari Pengganti Stasiun Luar Angkasa Internasional
Masa pensiun ISS mendekat pada 2030, namun stasiun ruang angkasa komersial penggantinya belum siap. AS hadapi risiko keamanan nasional dan persaingan ketat dengan Tiongkok.(NASA)

DI saat Amerika Serikat (AS) ambisius membangun pangkalan permanen di Bulan, eksistensi mereka di orbit yang lebih dekat dengan rumah justru terancam. Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), yang telah menjadi rumah bagi hampir 300 astronaut selama 25 tahun, dijadwalkan pensiun pada 2030. Namun, hingga kini, penggantinya belum juga siap meluncur.

Kesenjangan kehadiran manusia di orbit rendah Bumi (Low-Earth Orbit/LEO) bukan sekadar masalah sains. Para ahli memperingatkan adanya risiko keamanan nasional yang serius jika AS kehilangan pijakan di sana.

Ancaman Dominasi Tiongkok

Saat ini, Tiongkok telah mengoperasikan stasiun luar angkasa baru yang canggih bernama Tiangong. Jika ISS berhenti beroperasi tanpa pengganti dari AS, Tiangong akan menjadi satu-satunya laboratorium di LEO. Hal ini dikhawatirkan akan memaksa teknologi ruang angkasa global berevolusi mengikuti standar Tiongkok.

"Ini adalah ekspresi nilai-nilai kita, saya menyebutnya soft power," ujar Dylan Taylor, CEO Voyager Technologies. "China memiliki stasiun baru yang canggih... sangat penting bagi kita untuk mempertahankan kehadiran manusia secara berkelanjutan di orbit."

Hambatan Birokrasi dan Politik

Rencana NASA untuk menyerahkan pengelolaan LEO kepada sektor swasta (komersialisasi) menghadapi banyak kendala. Sepanjang tahun 2025, proses penunjukan Administrator NASA yang baru, Jared Isaacman, sempat tersendat. Selain itu, penutupan pemerintah (government shutdown) terlama dalam sejarah AS pada tahun yang sama turut menunda pengajuan proposal dari perusahaan swasta.

Menanggapi situasi ini, Senat AS bahkan mengusulkan untuk memperpanjang pendanaan ISS hingga 2032. Langkah ini diambil karena belum ada kepastian kapan stasiun komersial siap beroperasi.

Pemain Swasta Mulai Bergerak

Di tengah ketidakpastian, beberapa perusahaan swasta mulai mempercepat langkah mereka:

  • Axiom Space: Baru saja mengamankan pendanaan US$350 juta dan menargetkan peluncuran modul pertama pada 2028.
  • Vast: Perusahaan ini bergerak lebih agresif dengan rencana meluncurkan stasiun modul tunggal, Haven-1, pada tahun depan tanpa menunggu dana federal.
  • Blue Origin & Voyager Technologies: Masing-masing tengah mengembangkan konsep "taman bisnis luar angkasa" seperti Orbital Reef dan Starlab.

Meski demikian, banyak pihak meragukan perusahaan-perusahaan ini dapat bertahan tanpa kontrak besar dari NASA, mengingat pemerintah tetap akan menjadi pelanggan utama di orbit.

Taruhan Besar bagi Masa Depan

Kondisi fisik ISS yang mulai menua, ditandai dengan kebocoran dan hantaman mikrometeoroid, membuat pemeliharaan semakin mahal. Namun, membiarkan orbit kosong tanpa kehadiran AS dianggap sebagai bencana ekonomi dan politik.

"Banyak orang berpikir keamanan nasional hanya bertumpu pada militer, tapi sejujurnya, keamanan nasional dan kemakmuran ekonomi berjalan beriringan," tegas Dr. Heather Pringle, CEO Space Foundation.

Tanpa stasiun pengganti yang siap pada waktunya, astronaut Amerika terancam "terdampar" di Bumi untuk waktu yang lama, memutus rekor kehadiran manusia di luar angkasa yang telah terjaga selama 26 tahun terakhir. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya