Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Fenomena Ekuinoks Maret 2026 Bertepatan Momen Lebaran, Apakah Picu Cuaca Panas?

Abi Rama
20/3/2026 23:35
Fenomena Ekuinoks Maret 2026 Bertepatan Momen Lebaran, Apakah Picu Cuaca Panas?
Ilustrasi(freepik)

FENOMENA ekuinoks Maret 2026 bertepatan dengan momentum Idul Fitri 1447 Hijriah yang dirayakan umat Muslim di Indonesia. Menariknya, dua organisasi Islam terbesar di Tanah Air, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, menetapkan Hari Raya Idul Fitri pada tanggal yang berbeda, yakni 20 Maret 2026 dan 21 Maret 2026. Kedua tanggal tersebut berada dalam rentang terjadinya ekuinoks yang diperkirakan berlangsung pada 20-21 Maret.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa ekuinoks merupakan fenomena astronomi ketika Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Pada momen ini, hampir seluruh wilayah di Bumi mengalami durasi siang dan malam yang relatif sama.

Apakah Sholat Id Akan Terasa Panas?

Dalam konteks pelaksanaan Salat Idul Fitri, fenomena ekuinoks memiliki keterkaitan yang menarik, terutama dari sisi posisi Matahari. Salat Id biasanya dilaksanakan pada pagi hari setelah Matahari terbit hingga menjelang waktu Zuhur.

Saat ekuinoks, lintasan Matahari melintasi tepat di atas khatulistiwa, termasuk wilayah Indonesia yang berada di sekitar garis tersebut. Akibatnya, posisi Matahari pada pagi hari relatif lebih cepat meninggi dibandingkan hari-hari lain di luar periode ekuinoks.

Hal ini membuat intensitas cahaya Matahari terasa lebih terik sejak pagi, termasuk saat pelaksanaan Salat Id yang umumnya digelar di ruang terbuka seperti lapangan atau masjid besar. Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa kondisi ini bukanlah hal ekstrem atau berbahaya, melainkan fenomena alam yang normal terjadi setiap tahun.

Selain itu, pada saat mendekati tengah hari, masyarakat di wilayah Indonesia juga berpotensi mengalami fenomena “hari tanpa bayangan,” di mana bayangan benda tampak sangat pendek atau hampir tidak terlihat karena posisi Matahari yang berada tepat di atas kepala.

Fenomena Alam yang Berulang Setiap Tahun

Ekuinoks merupakan peristiwa yang terjadi secara rutin dua kali dalam setahun, yakni menurut laman BMKG fenomena ini terjadi pada 20-21 Maret (Ekuinoks Maret) dan 22-23 September (Ekuinoks September). Pada Maret, Matahari tampak bergerak dari belahan Bumi selatan ke utara, menandai awal musim semi di belahan utara dan musim gugur di belahan selatan.

Di Indonesia yang beriklim tropis, dampak pergantian musim tidak terlalu ekstrem, tetapi tetap berpengaruh terhadap pola cuaca, termasuk perubahan arah angin dan distribusi curah hujan.

Bertepatannya Idul Fitri 1447 Hijriah dengan fenomena ekuinoks Maret 2026 menjadi peristiwa menarik dari sisi astronomi. Meski Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama merayakan Lebaran pada tanggal yang berbeda, keduanya tetap berada dalam periode ekuinoks.

Fenomena ini tidak memengaruhi pelaksanaan ibadah, tetapi dapat dirasakan melalui kondisi siang dan malam yang seimbang serta posisi Matahari yang lebih tegak di atas wilayah Indonesia. Lebaran tahun ini pun menjadi momen unik yang mempertemukan peristiwa keagamaan dengan fenomena alam yang berlangsung rutin setiap tahun.

Sumber: BMKG.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik