Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA astronomi pada Februari 2026 dikejutkan oleh perilaku anomali bintang ASASSN-24fw. Bintang raksasa yang terletak 3.200 tahun cahaya dari Bumi ini dilaporkan meredup secara ekstrem hingga hampir menghilang dari jangkauan observasi standar. Fenomena ini memicu penyelidikan besar-besaran untuk mengungkap apa yang sebenarnya melintas di depan bintang tersebut.
ASASSN-24fw adalah bintang yang memiliki ukuran dua kali lipat Matahari dan berlokasi di rasi bintang Monoceros. Dalam kondisi normal, bintang ini memancarkan cahaya yang sangat stabil. Namun, data terbaru menunjukkan penurunan intensitas cahaya yang drastis, di mana bintang ini hanya menyisakan 3 persen dari kecerahan aslinya.
Hal yang membuat para ilmuwan terheran-heran adalah durasinya. Peredupan ini berlangsung selama lebih dari sembilan bulan atau sekitar 200 hari. Ini mencatatkan rekor sebagai salah satu peristiwa transit atau peredupan bintang paling lama yang pernah didokumentasikan oleh teleskop antariksa.
Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, para astronom menyimpulkan bahwa penyebab kegelapan mendadak ini bukanlah planet biasa. Para astronom mengidentifikasi adanya objek masif yang dikelilingi oleh sistem cincin yang sangat luas.
Objek tersebut diduga kuat merupakan Brown Dwarf (katai cokelat) atau sebuah planet kategori "Super-Jupiter" yang memiliki massa minimal tiga kali lipat dari Jupiter. Yang lebih mengejutkan adalah skala sistem cincinnya. Struktur ini membentang hingga 0,17 unit astronomi, atau setara dengan setengah jarak antara Matahari dan Merkurius. Piringan raksasa inilah yang memblokir cahaya ASASSN-24fw secara perlahan saat melintas di orbitnya.
Selain keberadaan objek bercincin, penelitian ini mengungkap fakta unik mengenai lingkungan sirkumstellar di sekitar ASASSN-24fw. Ditemukan adanya puing-puing yang kemungkinan besar berasal dari tabrakan planet di masa lalu.
Temuan ini dianggap anomali karena ASASSN-24fw diperkirakan sudah berusia lebih dari satu miliar tahun. Secara teoritis, pada usia tersebut, orbit bintang seharusnya sudah bersih dari puing-puing angkasa. Kehadiran debu dan sisa tabrakan ini memberikan petunjuk baru bahwa dinamika sistem bintang bisa tetap kacau bahkan setelah miliaran tahun terbentuk.
Kini, setelah ASASSN-24fw kembali ke tingkat kecerahan normal, para ilmuwan bersiap melakukan observasi lanjutan. Cahaya bintang yang kembali bersinar akan dimanfaatkan sebagai latar belakang (backlight) untuk membedah komposisi kimia dari sistem cincin misterius tersebut secara mendalam.
Tim peneliti berencana mengajukan waktu observasi menggunakan James Webb Space Telescope (JWST) dan Very Large Telescope (VLT) di Chile. Fokus utamanya adalah menganalisis suhu, materi pembentuk cincin, serta mencari keberadaan bintang pendamping red dwarf yang terdeteksi di sekitarnya. Fenomena langka ini diprediksi baru akan terulang kembali dalam kurun waktu sekitar 42 tahun ke depan.
Apa itu bintang ASASSN-24fw?
ASASSN-24fw adalah bintang raksasa di rasi Monoceros yang berjarak 3.200 tahun cahaya dari Bumi dan memiliki ukuran dua kali lipat Matahari.
Mengapa bintang ASASSN-24fw meredup?
Bintang ini meredup karena adanya objek masif, kemungkinan Brown Dwarf atau Super-Jupiter, yang memiliki sistem cincin raksasa melintas di depannya.
Berapa lama peredupan bintang ini berlangsung?
Peredupan berlangsung selama kurang lebih 200 hari atau sekitar sembilan bulan, menjadikannya salah satu yang terlama dalam sejarah observasi.
Kapan fenomena ini akan terjadi lagi?
Para astronom memperkirakan orbit objek misterius tersebut akan kembali melintas di depan ASASSN-24fw dalam kurun waktu 42 tahun ke depan.
(Universe Today, news.com.au/H-3)
Hujan meteor Lyrids akan terjadi 15–29 April 2026. Puncaknya 22 April dini hari, bisa dilihat jelas di langit Indonesia.
Anda tidak memerlukan alat bantu seperti teleskop untuk melihat Pink Moon karena ukurannya yang besar dan cahayanya yang sangat terang.
Penemuan 'Little Red Dots' oleh teleskop James Webb memicu perdebatan astronom. Benarkah itu lubang hitam rakus, atau justru kelahiran gugus bintang purba?
Rencana SpaceX dan Reflect Orbital meluncurkan jutaan pusat data serta cermin raksasa ke orbit memicu kemarahan astronom. Langit malam terancam berubah selamanya.
Teleskop Hubble NASA berhasil menangkap citra paling tajam komet antarbintang 3I/ATLAS. Objek misterius ini melaju hingga 209.000 km/jam dan berasal dari luar tata surya.
Ledakan supernova ternyata hanya memancarkan 1% energi dalam bentuk cahaya. Sisanya dibawa neutrino, partikel misterius yang membuka rahasia inti bintang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved