Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMANDANGAN Bumi dari luar angkasa selama ini identik dengan warna biru lautan, awan putih, serta daratan hijau yang kontras. Namun, mengutip dari laman Scientific American, sebuah temuan ilmiah menunjukkan bahwa citra terang tersebut perlahan mengalami perubahan. Sejumlah penelitian mengungkap bahwa Bumi, secara keseluruhan menjadi semakin gelap.
Para ilmuwan menilai tingkat kecerahan Bumi melalui pengukuran albedo, yakni kemampuan planet memantulkan sinar Matahari kembali ke luar angkasa. Data satelit selama beberapa dekade terakhir menunjukkan tren penurunan albedo global. Artinya, semakin sedikit cahaya Matahari yang dipantulkan, dan semakin banyak energi panas yang diserap oleh Bumi.
Menariknya, penggelapan ini tidak terjadi secara merata. Belahan Bumi Utara tercatat mengalami penurunan reflektivitas yang lebih besar dibandingkan Belahan Bumi Selatan. Padahal, selama bertahun-tahun para ilmuwan meyakini bahwa kedua belahan Bumi memiliki tingkat kecerahan yang relatif seimbang jika dilihat dari angkasa, meskipun karakteristik geografisnya berbeda.
Salah satu faktor utama yang diduga berperan adalah pemanasan global. Ketika suhu meningkat, atmosfer mampu menampung lebih banyak uap air. Uap air ini menyerap radiasi Matahari, sehingga mengurangi jumlah cahaya yang dipantulkan kembali ke ruang angkasa. Karena pemanasan lebih cepat terjadi di Belahan Bumi Utara, efek penggelapan pun lebih terasa di wilayah tersebut.
Selain itu, perubahan konsentrasi aerosol di atmosfer turut memengaruhi kecerahan Bumi. Di Belahan Bumi Utara, penerapan kebijakan pengendalian polusi udara yang lebih ketat sejak awal 2000-an menyebabkan berkurangnya aerosol pemantul cahaya. Ditambah dengan mencairnya es dan salju yang sebelumnya berfungsi sebagai permukaan reflektif alami, kemampuan wilayah ini memantulkan sinar Matahari semakin menurun.
Sebaliknya, di Belahan Bumi Selatan, peristiwa alam seperti letusan gunung berapi dan kebakaran hutan justru meningkatkan jumlah aerosol dalam beberapa tahun terakhir, sehingga reflektivitasnya relatif bertambah.
Perubahan keseimbangan kecerahan antarbelahan Bumi ini bukan sekadar persoalan visual. Ketika satu wilayah menyerap lebih banyak energi Matahari, sistem sirkulasi iklim global akan menyesuaikan diri untuk memindahkan panas ke wilayah lain. Dampaknya dapat dirasakan pada pergeseran pola angin, arus laut, hingga perubahan distribusi curah hujan yang berpengaruh langsung pada ketersediaan air.
Dengan demikian, secara ilmiah planet ini mengalami penurunan tingkat kecerahan. Fenomena ini menjadi sinyal tambahan bahwa perubahan iklim tidak hanya memanaskan Bumi, tetapi juga mengubah cara planet ini berinteraksi dengan energi Matahari, dengan konsekuensi yang masih terus diteliti oleh para ilmuwan.
Sumber: Scientific American
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Seiring meningkatnya misi komersial ke luar angkasa, para ahli memperingatkan adanya risiko kesehatan reproduksi yang terabaikan. Apakah manusia siap bereproduksi di orbit?
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
NAMA seorang romo sekaligus ilmuwan asal Indonesia oleh International Astronomical Union menetapkan nama Bayurisanto sebagai nama resmi sebuah asteroid
NASA laksanakan evakuasi medis pertama dalam sejarah ISS.
NASA merilis foto luar biasa kolaborasi James Webb dan Chandra. Dua galaksi, IC 2163 dan NGC 2207, tertangkap sedang memulai proses tabrakan dahsyat.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved