Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ilmuwan Ungkap Alasan Mengapa Bumi Terlihat Lebih Gelap dari Luar Angkasa

Abi Rama
16/12/2025 21:40
Ilmuwan Ungkap Alasan Mengapa Bumi Terlihat Lebih Gelap dari Luar Angkasa
Ilustrasi Albedo, konsep tersebut menunjukkan bagaimana es kutub memantulkan cahaya dari matahari. Saat es mulai mencair, akan semakin sedikit sinar matahari yang dipantulkan ke luar angkasa. Akibatnya, sinar matahari malah diserap oleh lautan dan daratan,(Doc NASA)

PEMANDANGAN Bumi dari luar angkasa selama ini identik dengan warna biru lautan, awan putih, serta daratan hijau yang kontras. Namun, mengutip dari laman Scientific American, sebuah temuan ilmiah menunjukkan bahwa citra terang tersebut perlahan mengalami perubahan. Sejumlah penelitian mengungkap bahwa Bumi, secara keseluruhan menjadi semakin gelap.

Para ilmuwan menilai tingkat kecerahan Bumi melalui pengukuran albedo, yakni kemampuan planet memantulkan sinar Matahari kembali ke luar angkasa. Data satelit selama beberapa dekade terakhir menunjukkan tren penurunan albedo global. Artinya, semakin sedikit cahaya Matahari yang dipantulkan, dan semakin banyak energi panas yang diserap oleh Bumi.

Bumi Bagian Utara Terdampak Lebih Dulu

Menariknya, penggelapan ini tidak terjadi secara merata. Belahan Bumi Utara tercatat mengalami penurunan reflektivitas yang lebih besar dibandingkan Belahan Bumi Selatan. Padahal, selama bertahun-tahun para ilmuwan meyakini bahwa kedua belahan Bumi memiliki tingkat kecerahan yang relatif seimbang jika dilihat dari angkasa, meskipun karakteristik geografisnya berbeda.

Dipicu Pemanasan Global

Salah satu faktor utama yang diduga berperan adalah pemanasan global. Ketika suhu meningkat, atmosfer mampu menampung lebih banyak uap air. Uap air ini menyerap radiasi Matahari, sehingga mengurangi jumlah cahaya yang dipantulkan kembali ke ruang angkasa. Karena pemanasan lebih cepat terjadi di Belahan Bumi Utara, efek penggelapan pun lebih terasa di wilayah tersebut.

Selain itu, perubahan konsentrasi aerosol di atmosfer turut memengaruhi kecerahan Bumi. Di Belahan Bumi Utara, penerapan kebijakan pengendalian polusi udara yang lebih ketat sejak awal 2000-an menyebabkan berkurangnya aerosol pemantul cahaya. Ditambah dengan mencairnya es dan salju yang sebelumnya berfungsi sebagai permukaan reflektif alami, kemampuan wilayah ini memantulkan sinar Matahari semakin menurun. 

Sebaliknya, di Belahan Bumi Selatan, peristiwa alam seperti letusan gunung berapi dan kebakaran hutan justru meningkatkan jumlah aerosol dalam beberapa tahun terakhir, sehingga reflektivitasnya relatif bertambah.

Perubahan keseimbangan kecerahan antarbelahan Bumi ini bukan sekadar persoalan visual. Ketika satu wilayah menyerap lebih banyak energi Matahari, sistem sirkulasi iklim global akan menyesuaikan diri untuk memindahkan panas ke wilayah lain. Dampaknya dapat dirasakan pada pergeseran pola angin, arus laut, hingga perubahan distribusi curah hujan yang berpengaruh langsung pada ketersediaan air.

Dengan demikian, secara ilmiah planet ini mengalami penurunan tingkat kecerahan. Fenomena ini menjadi sinyal tambahan bahwa perubahan iklim tidak hanya memanaskan Bumi, tetapi juga mengubah cara planet ini berinteraksi dengan energi Matahari, dengan konsekuensi yang masih terus diteliti oleh para ilmuwan.

Sumber: Scientific American



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik