Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMET antarbintang 3I/ATLAS kembali menarik perhatian para astronom setelah menunjukkan aktivitas tidak biasa saat melintasi Matahari pada akhir Oktober lalu. Komet tersebut tampak bersinar terang dan memuntahkan gas serta debu dalam jumlah besar.
Dua astronom asal Inggris, Michael Buechner dan Frank Niebling, berhasil menangkap citra menakjubkan dari peristiwa itu. Dalam foto yang mereka ambil, tampak ekor balik raksasa sepanjang hampir tiga juta kilometer. Disertai semburan material yang mengarah langsung ke Matahari.
Berdasarkan perhitungan awal, komet ini kehilangan material hingga dua juta kilogram setiap detik, jumlah yang jauh melampaui kemampuan komet pada umumnya.
Astrofisikawan Harvard, Avi Loeb, yang telah memantau 3I/ATLAS sejak awal penemuan, menilai, sinar Matahari tidak cukup kuat untuk menyebabkan pelepasan material sebesar itu.
Menurut Loeb, agar penguapan bisa mencapai tingkat tersebut, permukaan komet harus 16 kali lebih luas dibandingkan perkiraan sebelumnya. Ia menduga, 3I/ATLAS kemungkinan telah meledak dan terpecah menjadi sedikitnya 16 bagian.
Namun, Loeb juga tidak menutup kemungkinan lain. Dalam pandangannya, benda tersebut bisa jadi bukan komet. Melainkan bentuk teknologi canggih milik peradaban lain yang belum dipahami manusia.
Ia sebelumnya telah mengemukakan teori bahwa beberapa benda antarbintang mungkin merupakan hasil teknologi alien yang digerakkan oleh mesin, bukan oleh es yang mencair.
Meski demikian, sejumlah ilmuwan lain memiliki pandangan berbeda. Qicheng Zhang dari Observatorium Lowell, menilai 3I/ATLAS masih tergolong komet normal tanpa tanda-tanda kehancuran.
“Semua gambar menunjukkan kondisi komet yang stabil. Tidak ada indikasi bahwa intinya pecah,” ujar Zhang kepada Live Science.
Temuan terbaru dari teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan juga memberikan bukti baru. Alat tersebut mendeteksi garis serapan radio dari radikal hidroksil, hasil dari pemecahan air oleh sinar Matahari.
Penemuan ini menegaskan sebagian material yang dilepaskan oleh komet adalah air, komponen penting dalam pembentukan kehidupan. Bagi ilmuwan seperti Dennis Bodewits dari Auburn University, temuan menunjukkan komet antarbintang membawa unsur kimia kehidupan dari sistem planet lain.
Hingga kini, 3I/ATLAS masih menjadi teka-teki besar bagi dunia astronomi karena aktivitasnya yang tidak sesuai dengan perilaku komet biasa. Serta belum dapat dijelaskan secara pasti.
Sumber: Vice
Meskipun 3I/ATLAS kini berada di tahap akhir penjelajahannya di tata surya, data yang dikumpulkan darinya kemungkinan akan terus memberikan informasi kepada para ilmuwan
Pada 3I/ATLAS, anti-tail tampak lebih tegas dan menonjol dibandingkan komet lain. Hal ini memicu kajian lanjutan untuk memastikan apakah bentuk tersebut murni efek optik
Apakah Bumi punya ekor seperti Merkurius? Jawabannya ya! Ekor Bumi atau 'magnetotail' membentang 2 juta km, terbentuk dari plasma dan angin matahari. Simak penjelasan lengkap NASA dan ESA.
Ilmuwan menduga 3I/ATLAS membawa material purba. Material itu diperkirakan berasal dari susunan pembentuk pada perbatasan awal Bima Sakti atau galaksi asing lainnya.
Objek antarbintang 3I/ATLAS akan melintas dekat Bumi dan Jupiter. Avi Loeb menyoroti percepatan non-gravitasi yang memicu dugaan wahana antariksa alien.
Komet raksasa seukuran Manhattan, 3I/ATLAS, objek antarbintang ketiga yang pernah memasuki tata surya kita, kembali menjadi sorotan dunia
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Komet antarbintang 3I/ATLAS melintas paling dekat dengan Bumi malam ini, 19 Desember 2025. Simak cara mengamatinya dengan teleskop kecil.
Komet antarbintang 3I/ATLAS akan melintas paling dekat dengan Bumi pada 19 Desember. Meski aman, momen ini penting bagi ilmuwan untuk mempelajari materi pembentuk planet dari luar tata surya.
Ilmuwan menduga 3I/ATLAS membawa material purba. Material itu diperkirakan berasal dari susunan pembentuk pada perbatasan awal Bima Sakti atau galaksi asing lainnya.
Dunia astronomi kembali dikejutkan dengan penemuan gas nikel di sekitar komet antarbintang 3I/Atlas (sebelumnya dikenal sebagai C/2019 Q4 (Atlas)).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved