Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
INTERNATIONAL Gemini Observatory baru saja merilis rangkaian citra krusial yang menangkap detik-detik kehancuran komet C/2025 K1 (ATLAS). Fenomena ini menjadi pusat perhatian komunitas astronomi global setelah komet yang diprediksi akan bersinar terang di langit malam tersebut justru hancur berkeping-keping akibat tekanan termal pasca-perihelion.
Menggunakan Teleskop Gemini North berdiameter 8,1 meter yang terletak di Hawaii, para ilmuwan berhasil mengabadikan proses fragmentasi inti komet dengan detail yang belum pernah terlihat sebelumnya. Citra yang diambil menggunakan instrumen Gemini North Multi-Object Spectrograph (GMOS) menunjukkan bahwa komet tersebut tidak lagi memiliki inti tunggal yang solid.
Berdasarkan data yang dirilis melalui NOIRLab, komet C/2025 K1 terpecah menjadi setidaknya empat fragmen besar yang saling menjauh. Pecahnya komet ini terjadi setelah objek tersebut melintasi titik terdekatnya dengan Matahari (perihelion) pada jarak sekitar 50 juta kilometer. Panas ekstrem dari radiasi surya menyebabkan sublimasi es yang masif, menciptakan tekanan internal yang melampaui kekuatan struktural inti komet.
Komet ATLAS pertama kali ditemukan pada Mei 2025 dan sempat digadang-gadang sebagai "Komet Tahun Ini". Namun, tanda-tanda ketidakstabilan mulai terlihat pada bulan November 2025 ketika kecemerlangannya (magnitudo) tidak meningkat sesuai prediksi, melainkan justru menunjukkan fluktuasi yang aneh.
"Data menunjukkan bahwa fragmen-fragmen tersebut kini terpisah sejauh ribuan kilometer," tulis laporan teknis dari observatorium tersebut. Para astronom menjelaskan bahwa debu dan gas yang dilepaskan selama proses penghancuran ini memberikan pandangan langka ke dalam "fosil" kimiawi dari masa awal pembentukan tata surya yang selama ini terperangkap di dalam inti komet.
Meskipun hancurnya komet ini mengecewakan pengamat bintang amatir yang mengharapkan pertunjukan visual di langit, bagi para ilmuwan, ini adalah tambang emas data. Pecahnya inti komet memungkinkan teleskop berbasis darat dan luar angkasa untuk melakukan analisis spektroskopi terhadap material yang terpapar.
Informasi ini sangat penting untuk memahami komposisi Awan Oort, wilayah asal komet ini di pinggiran sistem tata surya kita. Saat ini, fragmen C/2025 K1 terus bergerak menjauh dari pusat tata surya, meredup dengan cepat, dan diperkirakan akan menghilang dari jangkauan teleskop optik dalam beberapa bulan ke depan.
Sumber: Space.com, NOIRLab, dan IFLScience
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved