Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Teleskop Raksasa Hawaii Abadikan Detik-detik Hancurnya Komet C/2025 K1 (ATLAS)

Thalatie K Yani
01/2/2026 11:29
Teleskop Raksasa Hawaii Abadikan Detik-detik Hancurnya Komet C/2025 K1 (ATLAS)
Teleskop raksasa di Hawaii berhasil mengabadikan momen hancurnya komet C/2025 K1 (ATLAS) menjadi kepingan setelah mendekati matahari. (Gemini Observatory)

SEBUAH peristiwa langka di luar angkasa berhasil diabadikan melalui lensa teleskop bertenaga tinggi di Hawaii. Komet C/2025 K1 (ATLAS) terekam kamera saat mulai hancur menjadi kepingan-kepingan kecil dalam rekaman beresolusi tinggi.

Gambar terbaru yang dirilis pada Kamis (29/1) oleh International Gemini Observatory menunjukkan pecahan-pecahan komet yang bercahaya. Foto-foto tersebut diambil pada 11 November dan 6 Desember 2024 menggunakan teleskop optik/inframerah Gemini North yang terletak di puncak Mauna Kea. Teleskop berdiameter 8,1 meter ini merupakan bagian dari observatorium yang didanai oleh National Science Foundation.

Penyebab Hancurnya Sang Pengunjung Angkasa

Komet C/2025 K1 (ATLAS) pada dasarnya adalah kumpulan es dan debu yang terikat secara longgar. Komet ini mencapai titik terdekatnya dengan matahari pada 8 Oktober lalu. Namun, gravitasi matahari yang sangat kuat serta tekanan dari angin surya, aliran partikel konstan dari matahari, akhirnya membuat struktur komet ini pecah menjadi beberapa bongkahan.

Fenomena ini juga dipantau oleh para astronom di seluruh dunia. Gianluca Masi dari Virtual Telescope Project di Italia, sempat mengabadikan pecahnya komet ini pada awal November.

"Gambar-gambar tersebut menunjukkan tiga fragmen dari inti aslinya dan kemungkinan adanya fragmen keempat," tulis Masi dalam pernyataan resminya.

Selain itu, para astronom di Observatorium Asiago, Italia, juga melaporkan adanya dua fragmen utama yang terpisah sejauh kurang lebih 2.000 kilometer pada pertengahan November.

Harta Karun dari Awan Oort

Komet C/2025 K1 pertama kali ditemukan pada Mei 2025 melalui sistem Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS). Komet ini diyakini berasal dari Awan Oort (Oort Cloud), sebuah wilayah luas berisi benda-benda es yang terletak jauh melampaui orbit Neptunus.

Bagi para ilmuwan, komet periode panjang seperti C/2025 K1 sangat berharga. Anggota Awan Oort dianggap lebih murni dan asli karena jarang terpapar panas matahari dibandingkan komet yang sering lewat seperti Komet Halley. Mempelajari komet-komet ini memberikan jendela langka bagi para astronom untuk memahami kondisi awal pembentukan tata surya kita miliaran tahun yang lalu.

Meski kini telah hancur, data yang dikumpulkan dari C/2025 K1 (ATLAS) memberikan wawasan penting tentang bagaimana benda-benda langit bereaksi terhadap lingkungan ekstrem di sekitar matahari. (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya