Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH peristiwa langka di luar angkasa berhasil diabadikan melalui lensa teleskop bertenaga tinggi di Hawaii. Komet C/2025 K1 (ATLAS) terekam kamera saat mulai hancur menjadi kepingan-kepingan kecil dalam rekaman beresolusi tinggi.
Gambar terbaru yang dirilis pada Kamis (29/1) oleh International Gemini Observatory menunjukkan pecahan-pecahan komet yang bercahaya. Foto-foto tersebut diambil pada 11 November dan 6 Desember 2024 menggunakan teleskop optik/inframerah Gemini North yang terletak di puncak Mauna Kea. Teleskop berdiameter 8,1 meter ini merupakan bagian dari observatorium yang didanai oleh National Science Foundation.
Komet C/2025 K1 (ATLAS) pada dasarnya adalah kumpulan es dan debu yang terikat secara longgar. Komet ini mencapai titik terdekatnya dengan matahari pada 8 Oktober lalu. Namun, gravitasi matahari yang sangat kuat serta tekanan dari angin surya, aliran partikel konstan dari matahari, akhirnya membuat struktur komet ini pecah menjadi beberapa bongkahan.
Fenomena ini juga dipantau oleh para astronom di seluruh dunia. Gianluca Masi dari Virtual Telescope Project di Italia, sempat mengabadikan pecahnya komet ini pada awal November.
"Gambar-gambar tersebut menunjukkan tiga fragmen dari inti aslinya dan kemungkinan adanya fragmen keempat," tulis Masi dalam pernyataan resminya.
Selain itu, para astronom di Observatorium Asiago, Italia, juga melaporkan adanya dua fragmen utama yang terpisah sejauh kurang lebih 2.000 kilometer pada pertengahan November.
Komet C/2025 K1 pertama kali ditemukan pada Mei 2025 melalui sistem Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS). Komet ini diyakini berasal dari Awan Oort (Oort Cloud), sebuah wilayah luas berisi benda-benda es yang terletak jauh melampaui orbit Neptunus.
Bagi para ilmuwan, komet periode panjang seperti C/2025 K1 sangat berharga. Anggota Awan Oort dianggap lebih murni dan asli karena jarang terpapar panas matahari dibandingkan komet yang sering lewat seperti Komet Halley. Mempelajari komet-komet ini memberikan jendela langka bagi para astronom untuk memahami kondisi awal pembentukan tata surya kita miliaran tahun yang lalu.
Meski kini telah hancur, data yang dikumpulkan dari C/2025 K1 (ATLAS) memberikan wawasan penting tentang bagaimana benda-benda langit bereaksi terhadap lingkungan ekstrem di sekitar matahari. (Space/Z-2)
Astronom akhirnya menemukan bintang pendamping Betelgeuse yang selama ini menyebabkan peredupan cahaya berkala setiap enam tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved