Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMET 3I/ATLAS diketahui mengalami paparan radiasi kosmik ekstrem selama miliaran tahun. Hal ini diketahui berdasarkan hasil penelitian terbaru menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST).
Selama melintasi galaksi Bima Sakti, komet ini menerima hantaman partikel berenergi tinggi yang menyebabkan lapisan luarnya berubah total dari bentuk aslinya. Diduga karena material pada permukaan komet sudah tidak lagi menyerupai komposisi asal dari sistem bintang tempatnya terbentuk.
Melalui pengamatan JWST dan simulasi komputer, ilmuwan menemukan bahwa kandungan karbon dioksida (CO₂) yang sangat tinggi pada 3I/ATLAS terbentuk akibat paparan sinar kosmik selama sekitar tujuh miliar tahun. Temuan ini dipublikasikan di arXiv pada Jumat (31/10), meski belum melalui proses peninjauan sejawat.
Sinar kosmik galaksi, yang terdiri dari partikel berenergi tinggi dari luar tata surya, dapat mengubah karbon monoksida (CO) menjadi karbon dioksida (CO₂). Di dalam tata surya, matahari menghasilkan gelembung besar radiasi. Disebut heliosfer untuk melindungi planet-planet dari sebagian besar sinar kosmik.
Namun, di ruang antarbintang, perlindungan ini tidak ada, sehingga komet seperti 3I/ATLAS menerima paparan langsung selama masa hidupnya. Peneliti utama, Romain Maggiolo dari Royal Belgian Institute for Space Aeronomy, menjelaskan bahwa paparan tersebut telah mengubah struktur es komet hingga kedalaman sekitar 15 hingga 20 meter.
“Prosesnya sangat lambat, tetapi dalam rentang waktu miliaran tahun efeknya sangat kuat,” ujarnya.
Hasil penelitian dianggap sebagai perubahan besar dalam cara ilmuwan mempelajari objek antarbintang. Para peneliti menyimpulkan komet seperti 3I/ATLAS sebagian besar terdiri atas material yang telah mengalami pemrosesan radiasi.
Bukan lagi material murni dari asalnya. Dengan kata lain, bentuk luar komet tersebut mencerminkan perjalanan panjangnya di ruang antarbintang.
Saat ini, 3I/ATLAS sedang berada di orbit mengelilingi matahari dan mencapai titik terdekatnya pada Rabu (29/10). Ketika mendekat ke bintang, suhu permukaannya meningkat dan menyebabkan es di komet berubah menjadi gas. Ilmuwan menduga gas yang dilepaskan sebelum titik perihelion berasal dari lapisan luar yang telah terpapar radiasi.
Maggiolo mengatakan membandingkan pengamatan sebelum dan sesudah perihelion dapat memberikan petunjuk tentang komposisi awal komet. Sejak penemuan pada Juli lalu, para ilmuwan terus meneliti 3I/ATLAS menggunakan berbagai teleskop.
Data menunjukkan komet ini melaju dengan kecepatan lebih dari 210.000 kilometer per jam dengan lintasan yang hampir lurus. Beberapa studi memperkirakan usia komet ini mencapai sekitar tiga miliar tahun lebih tua dari tata surya kita.
Penelitian ini merupakan pengembangan dari studi sebelumnya yang mengungkap bahwa 3I/ATLAS kaya akan CO₂, berdasarkan citra pertama JWST dan data dari wahana SPHEREx milik NASA. Tim Maggiolo awalnya meneliti komet 67P di orbit Jupiter dan Bumi, kemudian menyesuaikan model mereka untuk diterapkan pada 3I/ATLAS.
Simulasi menunjukkan bahwa paparan radiasi selama satu miliar tahun cukup untuk membentuk lapisan luar yang padat akibat iradiasi. Meskipun hanya meniru sebagian kondisi ruang antarbintang, hasilnya memberikan gambaran jelas mengenai proses alami yang dialami komet saat melintasi galaksi.
Maggiolo menambahkan, 3I/ATLAS masih menyimpan banyak informasi meski telah mengalami perubahan selama miliaran tahun. “Kita perlu memperhitungkan proses penuaan ini. Itu berarti lebih banyak tantangan bagi ilmuwan, tetapi komet ini tetap menarik untuk dipelajari,” katanya.
Sumber: Live Science
Van Dokkum mengatakan ini adalah konfirmasi pertama dari lubang hitam supermasif yang tak terkendali, setelah lima dekade teori dan penelitian tentang objek-objek ini.
Ilmuwan NASA melalui teleskop James Webb menemukan eksoplanet PSR J2322-2650b yang berbentuk unik seperti lemon dan memiliki atmosfer langka berisi hujan berlian.
Astronom temukan lubang hitam supermasif yang terlontar dari galaksinya. Meluncur 1.000 km per detik, objek ini memicu lahirnya bintang-bintang baru.
Astronom menggunakan Teleskop James Webb menemukan bukti awal keberadaan bintang raksasa purba bermassa hingga 10.000 kali Matahari.
Teleskop James Webb menangkap cahaya supernova tertua yang pernah terdeteksi, berasal dari 13 miliar tahun lalu.
Teleskop James Webb menangkap detail menakjubkan tabrakan dua galaksi kerdil NGC 4490 dan NGC 4485, termasuk jembatan gas bercahaya.
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Meskipun 3I/ATLAS kini berada di tahap akhir penjelajahannya di tata surya, data yang dikumpulkan darinya kemungkinan akan terus memberikan informasi kepada para ilmuwan
Komet antarbintang 3I/ATLAS kembali menarik perhatian setelah pengamatan terbaru menunjukkan adanya kemungkinan letusan gunung es atau kriovolkano di permukaannya.
NASA merilis rangkaian foto terbaru komet antar bintang 3I/ATLAS yang diambil 15 misi luar angkasa. Data awal mengonfirmasi komposisi unik komet purba ini.
Komet raksasa seukuran Manhattan, 3I/ATLAS, objek antarbintang ketiga yang pernah memasuki tata surya kita, kembali menjadi sorotan dunia
Komet antar bintang 3I/ATLAS menarik perhatian publik setelah disebut berubah warna secara misterius. Ilmuwan menjelaskan fenomena ini dan meluruskan kabar yang beredar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved