Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
STETOSKOP, alat medis yang ditemukan pada 1816 dan tak tergantikan selama lebih dari dua abad. Kini alat medis ini mendapat pembaruan besar berkat kecerdasan buatan (AI). Tim peneliti dari Imperial College London dan Imperial College Healthcare NHS Trust berhasil mengembangkan stetoskop pintar yang mampu mendeteksi tiga penyakit jantung hanya dalam waktu 15 detik.
Alat ini dapat mengenali gagal jantung, kelainan katup jantung, dan aritmia (irama jantung tidak normal) dengan tingkat akurasi tinggi. Teknologinya bekerja dengan menganalisis perbedaan halus pada detak jantung dan aliran darah yang tak dapat didengar telinga manusia, sekaligus merekam elektrokardiogram (EKG) secara instan.
Temuan ini dipresentasikan di hadapan ribuan dokter pada Kongres Tahunan European Society of Cardiology di Madrid, konferensi kardiologi terbesar di dunia.
Studi uji coba melibatkan sekitar 12.000 pasien di 200 klinik umum di Inggris. Hasilnya, pasien yang diperiksa dengan stetoskop AI:
hampir 2 kali lebih mungkin diketahui memiliki penyakit katup jantung.
“Desain stetoskop tidak berubah selama 200 tahun. Hebat sekali pemeriksaan singkat 15 detik bisa langsung memberikan hasil apakah pasien berisiko tiga kondisi jantung serius,” ujar Dr. Patrik Bächtiger dari Imperial College London.
Perangkat berukuran mirip kartu remi ini diproduksi perusahaan asal California, Eko Health. Stetoskop ditempelkan ke dada pasien untuk merekam suara aliran darah serta sinyal listrik jantung. Data kemudian dikirim ke cloud dan dianalisis AI, sebelum hasilnya dikirim kembali ke ponsel pintar dokter.
Meski menjanjikan, teknologi ini tetap memiliki risiko, seperti kemungkinan memberikan hasil positif palsu pada orang sehat. Karena itu, para peneliti menekankan penggunaannya hanya untuk pasien dengan gejala mencurigakan, bukan untuk pemeriksaan rutin.
Namun, manfaatnya diyakini sangat besar. “Kebanyakan pasien gagal jantung baru terdiagnosis saat datang ke unit gawat darurat dalam kondisi kritis. Alat ini memberi kesempatan bagi dokter umum untuk mendeteksi lebih dini,” jelas Dr. Mihir Kelshiker dari Imperial College.
British Heart Foundation dan National Institute for Health and Care Research (NIHR) turut mendanai penelitian ini. Menurut Prof. Mike Lewis, Direktur Inovasi NIHR, “Stetoskop AI bisa menjadi game changer bagi dunia medis, menghadirkan inovasi langsung ke tangan dokter umum, memungkinkan diagnosis cepat di komunitas, dan menekan angka kematian akibat penyakit jantung.” (The Guardian/Z-2)
Startup India Sarvam AI mengejutkan dunia dengan Sarvam Vision dan Bulbul, model AI lokal yang mengungguli Google Gemini dan DeepSeek dalam OCR dan suara.
Sidang perdana kasus kecanduan media sosial dimulai di California. Meta dan YouTube dituduh sengaja merancang platform yang merusak otak anak.
Alphabet (Google) berencana menghimpun dana melalui obligasi untuk mendanai infrastruktur AI.
Sedang viral! Tren Caricature of Me and My Job bikin karikatur profesi pakai ChatGPT. Ini cara mudah dan prompt yang dipakai.
Penulis KBM App manfaatkan teknologi AI sebagai asisten pribadi di Korea Selatan, mulai dari deteksi kandungan halal hingga terjemahan bahasa Hangeul secara real-time.
SAP SE (NYSE: SAP) mengumumkan dua penunjukan kepemimpinan strategis yang bertujuan mempercepat pertumbuhan bisnis ekonomi digital di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
KECERDASAN buatan (AI) kini melampaui sekadar asisten digital atau pengolah teks.
Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan pers harus menjaga kepercayaan publik di tengah disinformasi dan AI. Kolaborasi media, pemerintah, dan platform digital jadi kunci ruang informasi sehat.
Di sektor pendidikan, BenQ fokus mendukung metode Bring Your Own Device (BYOD) yang memungkinkan integrasi perangkat pribadi siswa ke dalam ekosistem digital sekolah secara aman.
Aplikasi gaya hidup Muslim, Muslim Pro, resmi meluncurkan rangkaian fitur terbaru yang dirancang khusus untuk menunjang kegiatan ibadah selama bulan Ramadan.
Tanpa pengawasan yang tepat, agen AI yang mampu mengambil keputusan dan memproses data sensitif secara mandiri dapat memicu kerusakan fatal.
Isu-isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam World Privacy Day Conference (WPDC) 2026 yang digelar pada 28 Januari 2026 di BINUS University Alam Sutera.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved