Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
APA yang bergolak di bawah permukaan Bumi mungkin terasa jauh dari kehidupan kita, tetapi aktivitas tersebut sebenarnya membantu membentuk daratan yang menentukan sirkulasi laut, pola iklim, bahkan aktivitas dan evolusi hewan. Faktanya, para ilmuwan meyakini semburan batuan panas dari mantel Bumi jutaan tahun lalu mungkin memainkan peran penting dalam kisah evolusi manusia.
Dalam sebuah makalah yang diterbitkan di Nature Reviews Earth & Environment, tim peneliti internasional meneliti pembentukan jembatan darat besar yang menghubungkan Asia dan Afrika 20 juta tahun lalu, melalui wilayah yang kini dikenal sebagai Semenanjung Arab dan Anatolia.
Makalah ini menggabungkan hasil penelitian terdahulu dengan model-model baru yang dikembangkan di Jackson School of Geosciences, University of Texas di Austin, dan GFZ Helmholtz Centre for Geosciences.
Pengangkatan tanah secara bertahap ini memungkinkan nenek moyang awal hewan seperti jerapah, gajah, badak, cheetah, bahkan manusia, untuk berpindah antara Afrika dan Asia. Munculnya daratan ini mengakhiri masa isolasi Afrika selama 75 juta tahun dari benua-benua lainnya.
"Studi ini relevan dengan pertanyaan seperti, ‘Bagaimana planet kita berubah secara umum? Apa hubungan antara kehidupan dan tektonik?’” ujar Thorsten Becker, salah satu penulis studi dan profesor di Departemen Ilmu Bumi dan Planet serta Institut Geofisika di Jackson School.
Kisah ini dimulai sekitar 50–60 juta tahun lalu, ketika lempeng batuan yang menyelusup ke dalam mantel Bumi menciptakan "sabuk konveyor" yang memungkinkan batuan panas naik ke permukaan melalui semburan mantel sekitar 30 juta tahun kemudian. Aktivitas konvektif di mantel ini, ditambah dengan tabrakan lempeng tektonik, menciptakan pengangkatan tanah yang berkontribusi pada penutupan Laut Tethys kuno, memecahnya menjadi Laut Tengah dan Laut Arab, serta membentuk daratan yang untuk pertama kalinya menjembatani Asia dan Afrika.
Penulis utama studi ini, Eivind Straume, menganalisis berbagai konsekuensi dari aktivitas geologi ini saat ia menjadi peneliti pascadoktoral di Jackson School. Ia mengatakan bahwa kemunculan jembatan darat tersebut berkaitan erat dengan evolusi hewan.
“Laut dangkal itu tertutup beberapa juta tahun lebih awal dari yang mungkin terjadi tanpa proses-proses khusus ini — konveksi mantel dan perubahan topografi dinamis,” kata Straume, yang kini menjadi peneliti pascadoktoral di NORCE Norwegian Research Centre dan Bjerknes Centre for Climate Research. “Tanpa semburan mantel ini, bisa dikatakan bahwa tabrakan benua akan terjadi dengan cara yang berbeda.”
Dalam hal ini, waktu adalah segalanya. Jika koneksi antara Afrika dan Asia tertunda satu juta tahun lagi, hewan-hewan yang bermigrasi masuk dan keluar Afrika bisa saja mengalami jalur evolusi yang berbeda. Termasuk di dalamnya adalah nenek moyang manusia modern.
Beberapa juta tahun sebelum jembatan darat itu benar-benar tertutup, primata nenek moyang manusia datang ke Afrika dari Asia. Meskipun spesies primata tersebut kemudian punah di Asia, garis keturunan mereka berkembang di Afrika. Lalu ketika jembatan darat tersebut sepenuhnya muncul, primata ini kembali menjajah Asia.
“Ini adalah contoh bagaimana evolusi konvektif jangka panjang planet berhubungan dengan evolusi kehidupan,” ujar Straume.
Pengangkatan Semenanjung Arab ini juga berdampak besar terhadap sirkulasi laut dan iklim global. Suhu lautan di sekitar wilayah tersebut meningkat, yang kemudian memperlebar rentang suhu musiman, serta membuat wilayah dari Afrika Utara hingga Asia Tengah menjadi lebih kering. Para peneliti meyakini bahwa pembentukan jembatan darat ini menjadi pemicu terakhir terbentuknya Gurun Sahara. Selain itu, perubahan topografi ini memperkuat musim monsun di Asia, menjadikan Asia Tenggara lebih basah.
Makalah ini menggabungkan berbagai bidang penelitian yang mencakup tektonik lempeng, konveksi mantel, topografi dan paleogeografi, antropologi evolusioner, evolusi mamalia, evolusi iklim, dan sirkulasi laut untuk menyampaikan kisah utuh tentang dampak luas dari dinamika mantel tersebut.
“Bagi kami, ini adalah rangkuman yang menarik — mungkin agak provokatif — dari kemajuan penelitian terbaru,” ujar Becker. (Science Daily/Z-2)
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Kombinasi bodi ramping dan otot yang kuat memungkinkan walet melakukan penerbangan jarak jauh tanpa kelelahan yang berarti.
Studi terbaru pada burung finch mengungkap pigmen pheomelanin (rambut merah/bulu oranye) berfungsi sebagai pelindung sel dari kelebihan sistein yang beracun.
Tahukah Anda jika jutaan tahun lalu, nenek moyang manusia memiliki ekor seperti monyet? Namun, kenapa manusia modern sekarang tidak memilikinya?
Bagaimana nasib Bumi jika manusia punah? Profesor Tim Coulson dari Universitas Oxford menjelaskan kemungkinan munculnya spesies baru.
Asal-usul ular telah lama menjadi misteri besar dalam dunia sains. Bagaimana makhluk tanpa kaki ini berevolusi dari nenek moyang kadal berkaki empat masih menjadi perdebatan panjang.
Para ilmuwan berhasil menyusun kembali bentuk asli tengkorak manusia berusia sekitar satu juta tahun yang ditemukan di Tiongkok.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved